Situs Garisul Saksi Peradaban Budaya Masyarakat Jasinga

Bogor Traveller–    Situs adalah merupakan suatu kumpulan keberadaan Benda Cagar Budaya yang mengandung Nilai-nilai Kepurbakalaan,Biasanya terhampar dalam suatu area tertentu baik yang berada di tanah dataran maupun perbukitan. Salah satu Situs yang masuk dalam inventarisasi dan Dokumentasi pada Seksi Kebudayaan adalah Situs Garisul Desa Kolong Sawah Kecamataan Jasinga.ditempuh dengan jarak 42Km dari Ibu kota Cibinong. Pada Situs ini diketahui bahwa peningalan berupa Komplek Pemakaman Kuno,dengan Luas area 3000 menghadap Barat.Data-data yang di peroleh peninggalan Kesejarahaan ini berkisar sekitar abad ke 15-16 M yang dalam Dekade tertentu merupakan peninggalan jaman Perkembangan dan Kebudayaan Islam.Diketahui lebih lanjut pada salah satu peninggalannya menujukkan angka 1021-1031 Hijriah.

 

 

Diantara kumpulan makam kuno tersebut ada 9 Makam utama yang merupakan Simbol dari Kepemimpinan ,dari Bentuk Bangunan di ketahui mempuyai Ciri-ciri tersendiri yang merupakan pengaruh kebesaranya.Analisis ini di ambil berdasarkan Makam serta Ketinggian Batu Nisan. Hasil pengamatan dapat diketahui bahwa diantara ke 9 Makam Kuno tersebut terdapat nama Syekh ishak,Panglima Sultan Hasanudin Banten dan para istrinya,salah satu di antaranya adalah Putri Raja dari Kerajaan Kediri. Kisah Perjalanan Garisul adalah Nama sebuah Perkampungan umum,letak persisnya berada si Desa kolong Sawah Kecamatan Jasinga dengan jarak 1300 m ke arah Utara. apa gerakan yang ada di Garisul pada Kawasan ini ada sebuah tempat yang menyimpan fakta Sejarah/Local History,yang sampai saat ini masih bersifat Misteri.

 

 

Dari Kecamatan Jasinga mencapai Lokasi harus menempuh jarak kurang lebih 800 meter. Di sepanjang perjalanan rombongan dapat menikmati pemandangan yang indah, yaitu sebuah hamparan Sungai Cidurian. Konon Sungai Cidurian ini merupukan sarana transportasi jalan air yang banyak ditemukan tempat persinggahan yang disebut Dek (yang di maksud geladak kapal /mungkin pasar) melintasi beberapa kota-kota pelabuhan besar di Sanghiang dan Marunda hingga ke hilir Ciomas (sekitar Sunda Kelapa dan Muara Cimanuk). Sedangkan ke sebelah Tenggara sampai pelabuhan Banten.

 

Jalan setapak yang ditelusuri itu menuju area Situs BCB, yakni Makam Kuno yang bernuansa Islami. Dilokasi terpampang papan peringatan berkaitan dengan UU No 5 Th.1992,Tentang Sanksi dan Hukuman bagi yang merusak cagar budaya. Luas lahan situs itu kurang lebih satu hektar yang oleh batu-batu nisan kuno yang jumlahnya diperkirakan terdapat sekitar 2000. Hal ini dikatakan Sanusi sebagai juru peliharaan situs ini.

 

Suatu hal yang menarik adalah setiap batu nisan mempunyai keseragaman pada jenis Batu dan motifnya, dengan ketinggian rata-rata diatas permukaan tanah sekitar 20-30 cm. Selain itu di setiap makam bercirikan hanya satu tunggul atau satu batu nisan saja yang mempunyai relief/kaligrafi bertuliskan huruf arab gundul, yakni berbentuk kuba atau segitiga yang melambangkan makam prajurit. Dilokasi ini juga terdapat 9 buah batu nisan dengan ciri tersendiri, letaknya ditengah nisan lainnya. Dari 9 buah batu nisan, 7 diantaranya mempunyai bentuk lekukan yang berbeda dengan nisan lainnya yang menunjukan bahwa 7 makam Laki-laki dan yang 2 adalah makam Wanita. Tinggi makam pembesar itu rata-rata 60-70 CM dengan relief dan huruf kaligraf lebih banyak. Jarak antara satu dengan yang lainnya 170-200 Cm.  Nama-nama yang disebutkan terbatas pada pengetahuan yang ada, diantaranya disebutkan, Syekh Ariffuddin, Beberapa Panglima Perang Pasukan Sultan Hasanudin, 2 orang Putri Raja Demak dan Cirebon, Pemimpin Pasukan, Ishak.Ditinjau dari angka tahun penangalan perlu penelusuran lebih lanjut, sebab bermunculan keragaman dalam mengintreprestasikan angka tahun yang masihsamar, yakni tahun 1015, 1501, dan 1021 karena tidak ada tanda-tanda petunjuk jenis tahun, apakah tahun Hijriyah, tahun Saka Jawa, atau tahun Saka Hindu

Sebagai informasi tambahan (dari sumber lain)  disebutkan bahwa dimakam utama dari depang saung yang ada 10 bernama ke 1.Syech Syarifudin ke 2.Syech Mada ke 3.Ratu Nyimas Sri Kerti Mukti ke 4.Ratu Dewi Manggala ke 5.Dia Belum memberi tahu namanya ke 6.Syech Daud Bin Syech Mansur Ckadewuen ke 7.Syech Ishak (Ahli Tafsir) ke 8.Syech Iman (Ahli Tad Jwid) ke 9.Syech Purwa Kawasa (Ahli Perang) ke 10. Belum dapat informasi nama dan diluar makam 10 ini ada Pangeran Mangku Bumi, Pengeran Jaga Raksa, Syech Muji, Pangeran Kerta Kencana, Ageng Manggala (Istri Kerta Kencana), Pengeran Sukma Jagat, Pangeran Snca Manggala, Syech Abdullah bin Yasin bin Yusuf, dan Syech Yaman di tengah-tengah. Dan diluar dari makan Raja-Raja Islam ini terdapat makam Syech Sandong (artinya  selendang yang digendong dan dia seorang yang pendiam maka dikenal sebagai  Mbah Sadiem.

 

Telaah Sejarah

 

Situs Garisul sebagai saksi peradaban kejayaan masyarakat Jasinga Kabupaten Bogor

Bersumber dari berapa buku sejaraah, meriwayatkan tetang pewaris tahta Kerajaan Pajajaran setelah Sri Badunga Maharaja wafat pada tahun 1521. Sebagai penerus Kerajaan Sunda Pajajaran tersebut adalah Prabu Sang Hyang Surawitela pada periode 1521-1535. Selama beliau memerintah sudah terjadi beberapa kali konflk dengan Cirebon,dan pada masa beliau ini pula Banten tahun 1526. Masa Jayakarta pada tahun 1927 menjadi daerah kesultanaan di bawah Cirebon. Diriwayatkan tidak kurang dari 15 kali terjadi pertempuran sehingga timbulah perjanjian yang disebut Perjanjian perdamaian Pajajaran Pakung Wali 12 juli 1531. Pada masa ini tidak di sebutkan di daerah mana terjadinya pertempuran tersebut.Sepeningalan beliau di ganti oleh Prabu Ratu Dewata yang memerintah antara tahun 1535-1543 diriwayatkan bahwa roda pemerintah di Pajajaran sudah mulai menurun kekuasaannya. Disebutkan, saat itu Cirebon tidak akan melakukan serangan kembali. Sementara pihak Banten yang pada saat itu telah menjadi daerah kesultanan dan mempunyai hak otonom, membentuk laskar tenguh untuk menyerang Kota Pakuan.

Dalam cerita Parahanyang disebut Dating bencana musuh gemel tambuh sangkane prang rang di burwan ageing pejah tohaan Ratu sang hiang, Konon terjadi di pusat Kota Pakuan kemungkinan sekitar daerah Sukasari, Lawang Gintung sekarang. Peristiwa ini sangat memalukan karena Raja pada waktu itu sedang melaksanakan Tapa Brata, tidak sedikit para pangawal kerajaan yang gugur dalam peristiwa tersebut.Penganti Ratu Dewata adalah Ratu sakti memerintah antara tahun 1543-1551, ia di kenal sebagai Raja yang Alim,karena kerasukanya ini di Kerajaan Pakuan semakin kacau balau, rakyat banyak yang miskin dan tidak memperdulikan Pemerintah sebab itulah beliau di turunkan dari pemerintahannya.Ratu Sakti di gantikan oleh Prabu Nilahendara ia memerintah antara Tahun 1551-1567. sama kacaunya dengan Raja sebelumnya ia dikenal sebagai Raja gemar kesenagan antara lain makan dan minum “Tatan agama gyang hewaliyah mamangan sedrasa Ni syurup ka suykas berang har”. Ia lupa diri perperangan ini dilambangkan dengan Bunga Pralaya yang disebut Kaliyuga, Pajajaran telah di ambang pintu kehancuran.

 

Akhirnya datang juga serangan serangan Banten dalam cerita Parahianggan “disebut Tohaan diamajaya adalah Prangtas mangka tang it is ting kedatuan” sebagian masyarakat meningalkan Kota Pakuan karena Raja sudah tidak Tinggal di Keraton.proses ini berangsur lama,Kota Pakuan masih berada di bawah pembesar Keraton yang tidak ikut mengungsi.Pajajaran telah berahli Tanggan Raja adalah Prabu Ramamulya Suryakencana atur Pucuk umum Pulasari, ia memerintah antara tahun1567-1579M. Keraton berkedudukan di lereng Gunung Pulasari, (sekitar Kp.KaduHejo,Kec.Menes,Kab.Padeglang). Prabu tidak lagi mengunakan Mahkota Kerajaan.

 

Penembahan Yusuf atau Sultan maulana Yusuf mulai menempakan ambisinya untuk menaklukan pajajaran secara keseluruhan,bersama pasukan Banten – Cirebon mengadakan serangan secara besar-besaran maka terjadilah pertempuran yang sangat dasyat dalam pertempuran ini kedua belah pihak banyak korban yang berjatuhan,pertahanan Tentara Pajajaran Bertempur dalam Mempertahankan diri di sekitar daerah Jasinga(sekarang) sampai Pandeglang.Runtutuan kejadian dari kronologis pemerintahan di dalam kerajan pajajaran.pendekatan aprigasif menentukan serangan besar-besaran, terjadi pada masa Prabu Rajamulya Suryakencana, sedangkan Banten berada di bawah pemerintahan Sultan Maulana Yusuf dan bukan Sultan Hasanudin seperti di sebut-sebut kemungkinannya dapat terjadi. Karena Sultan Hasanudin merupakan Sultan Pertama di Banten dan begitu besarnya pengaruh Beliau sehinga keturunanya tidak tertulis.

 

Selanjutnya dikatakan bahwa Pemerintah Pajajaran berada di pandeglang yang pada waktu itu batas wilayahnya sampai ke arah Jasinga tentunya sebelum penaklukan terjadi dahulu pertempuran yang maha hebat tidak di sebutkan dimana Tentara Pajajaran dikuburkan karena peperangan dimenagkan oleh pihak Banten maka para “Syuhadanya” ditempatkan di Garisul.Dalam tradisi lokal dalam sejarah Banten di sebutkan bahwa orang-orang yang akan menyerang Pakuan /kerajaan Pajajaran berangkat dari Banten pada hari Minggu 1 Muharam Tahun Alif sengkala,Bumi rusak Rekek Mangkek iki Terjemahan menjadi 1501 Shaka atau 1579 M,disebut Tahun 1501 Shaka adalah Tahun pertama dari abad baru,sekalipun perhitunggan waktu baru di perintahkan oleh Sultan Agung Mataram pada Tahun Shaka 1555 tetapi pengunaan tahun shaka sudah dipergunakan sebelumnya, ketentuan jatuhnya 1 Muharam 1501 Shaka sudah pada hari Jum’at – Sabtu atau Minggu perlu pengkajian lebih lanjut ,penulisan mengambil catatan dari sejarah Banten dan Babat Cirebon sekitar runtuhnya Pajajaran oleh Banten tertulis 1501 Shaka yaitu 1579 Masehi.

 

Traveller : Aldi Supriyadi

Sumber: Wisata Kabupaten Bogor 2009 /Berita Bogor

 

 

Comments