Wisuda Universitas Pakuan, Bibin Ingatkan Kembali Arti Bhineka Tunggal Ika

 Bogor – bogorOnline.com
Universitas Pakuan (Unpak) kembali mewisuda 609 lulusannya pada wisuda gelombang I di Gedung Braja Mustika, Jalan Dr Semeru Kota Bogor Rabu (22/1/17). Mereka yang diwisuda oleh Rektor Universitas Pakuan Dr Bibin Rubini Mpd berasal dari Program Pascasarjana S3: 2 orang, S2: 41 orang, Fakultas Hukum 26 orang, Fakultas Ekonomi S1: 98 orang, Fakultas Ekonomi D3: 2 orang, FKIP 190 orang, FISIB: 57 orang, Fakultas Teknik: 26 orang, Fakultas MIPA S1: 164 orang serta Fakultas MIPA D3: 3orang. Dalam sambutannya, Bibin mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa  yang lahir dari kemajemukan. Menurut data BPS terdapat 1.158 bahasa daerah, 1.128 suku, beragam sosial, etnis, budaya dan agama. Kesadaran tentang kemajemukan sudah muncul sejak Republik Indonesia terbentuk dan digunakan oleh pendiri bangsa untuk mendesain kebudayaan bangsa Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika adalah merupakan hasil penggalian panjang para  founding fathers, dan didasarkan atas pertimbangan pluralitas masyarakat Indonesia.
“Semboyan Bhinneka tunggal ika yang terdapat pada lambang negara merupakan karya besar yang tak ternilai, yang dapat mempersatukan bangsa yang majemuk ini,” kata Bibin.
Menurutnya, Bhineka Tunggal Ika lah yang mempersatukan bangsa ini, saat ini Bhineka Tunggal Ika tengah dalam ujian dan badai yang berat. Atas nama demokrasi, rakyat boleh bicara sebebas-bebasnya sehingga sulit membedakan antara fakta dan hoax. Kini disadari atau tidak  betapa rapuhnya semangat tersebut, Bhineka Tunggal Ika, sejatinya merupakan modal sosial dan politik negeri ini, namun sangat disayangkan bila saat ini, semangat tersebut tengah terkoyak oleh syahwat politik kekuasaan sekelompok manusia.
“Mencermati dinamika sosial dan politik yang berkembang di masyarakat baik melalui tayangan media elektronik maupun media cetak beberapa minggu terakhir ini sungguh sangat memprihatinkan, catatan aksi yang melukai rasa Bhineka Tunggal Ika cukup masif,” ujarnya.
Bibin melanjutkan, Fakta-fakta kekerasan atas nama ideologi yang terjadi saat ini, kata Bibin tanpa disadari telah meruntuhkan nilai-nilai kebhinnekaan yang merupakan ciri khas bangsa Indonesia. Bangsa ini masih perlu kerja keras dalam membangun nasionalisme dan toleransi dalam kebhinnekaan. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan benteng kokoh yang merekatkan kerukunan dan pemersatu bangsa Indonesia. Jangan sampai nilai-nilai Pancasila tergerus bahkan hilang dari aspek kehidupan bangsa Indonesia karena pengaruh ideologi yang tidak sesuai dengan perikehidupan masyarakat.
“Semakin tidak diamalkan nilai-nilai Pancasila ini dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, maka selama itu pula Indonesia akan diterpa konflik yang berpotensi memecah belah kerukunan dan persatuan bangsa,” terangnya.
Bibin menjelaskan, keberagaman di tengah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa merupakan Sunnatullah. Islam tidak memiliki masalah dengan kebhinnekaan,bahkan Islam membuat kebhinnekaan tersebut menjadi berkah.
“Allah SWT sendiri menciptakan manusia dengan keberagamannya baik bersuku-suku, agama dan bangsa.Bahkan Bibin mengutip ayat Al Quran dalam Surat al-Hujurat: 13: Hai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha tahu lagi Maha Mengenal,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut Bibin menyoroti tentang perkembangan teknologi di era modern yang begitu pesat. Bahkan teknologi hadir sebagai penyedia layanan yang begitu cepat. Keberadaan teknologi telah mengubah pola interaksi manusia yang awalnya terbatas dengan ruang dan waktu menjadi tidak terbatas. Hal ini menjadi anomali bagi Indonesia yang berdasarkan surveyInternet Live State tahun 2015 menduduki peringkat 12 pengguna internet di dunia, terutama teknologi yang berbasis media sosial. Hal ini harus menjadi perhatian bagi setiap elemen bangsa agar terus waspada dan bijak dalam penggunaannya.
“Mengingat media sosial dapat memberikan dampak negatif  bagi penggunanya, bahkan dapat memecah belah persatuan bangsa, khususnya memecah kerukunan berbangsa dan beragama,” tuturnya.
Bibin menambahkan, perubahan zaman begitu cepat dan era globalisasi tidak dapat terhindarkan dan mengakibatkan perubahantidak hanya pada teknologi semata, akan tetapi perubahan pada pendidikan. Bibin bertanya apakah kemajuan teknologi dapat diimbangi dengan perkembangan pendidikan di Indonesia?.
“Jawabannya ada pada diri kita masing-masing, keyakinan tersebut harus tertanam dalam diri pendidik, orangtua, masyarakat dan pemerintah. Sinergi antara sekolah/PT, masyarakat, orang tua dan pemerintah merupakan suatu keniscayaan bahwa pendidikan Indonesia harus dapat mengimbangi perkembangan teknologi. Jika sinergitas dan keyakinan tidak tertanam dalam diri kita, maka bukan tidak mungkin teknologi akan mengendalikan pendidikan bahkan manusia,” pungkasnya. (RzB).

Comments




Leave a Reply

Your email address will not be published.