Sosok Pahlawan Sejati

Oleh : Michelly Diliany, mahasiswi Ilmu Jurnalistik, Politeknik Negeri Jakarta. 

Terlahir dengan dianugrahi sosoknya dihidup saya sebagai pemimpin, penjaga, penyayang, dan pelindung. Membuat saya sangat beruntung ketika saya dapat memanggil dia Ayah. Beruntung memang, memiliki Ayah yang selalu bisa membuat saya tertawa dan tersenyum bahagia disaat mungkin ia sedang mengalami kelelahan, masalah, ataupun hal-hal menyulitkan lainnya. Tetapi sekali lagi saya sangat beruntung memiliki Ayah yang lebih mementingkan kebahagiaan keluarganya, karena sesuai perkataannya “melihat keluarga tersenyum dan tertawa adalah obat paling ampuh untuk menjalani hidup yang tidak selalu mulus ini.”

 

Pergi pagi dan pulang disaat matahari mulai terbenam, tak pernah sedetik pun ia mengeluh. Sesampainya dirumah ia masih menyempatkan waktu untuk bercengkrama dengan keluarganya, sebatas menanyakan hal-hal apa saja yang telah terjadi pada hari itu yang ia lewatkan. Sesekali saya pun dapat melihat mimik mukanya yang lelah, namun dia tetap menikmati perbincangan ringan dengan keluarga. Saya pun bertanya-tanya bagaimana bisa Ayah selalu terlihat bahagia dan senang dalam menjalani hidup? Ia hanya menjawab dengan senyuman dan berkata:

“semua hal didunia ini gak ada yang abadi, jadi kalau sekarang ayah masih bisa kerja, bisa menikmati waktu bersama keluarga, yaitu semua berkat dari Tuhan yang harus selalu disyukuri. Percaya deh segala sesuatu yang kamu lakukan dengan disertai rasa syukur akan menjadi lebih terasa lebih mudah dan ringan, lagi pula kalau kamu mengeluh tidak akan membuat semuanya lebih baik, malah lebih berat rasanya” ucapnya dengan yakin.

 

Seolah dibukakan mata, saya merasa seperti mendapat sudut pandang baru tentang menjalani kehidupan ini, bagaimana tidak? Kalau saya ingat-ingat dari kecil ayah dan ibu selalu mengikutsertakan saya ke dalam berbagai macam kursus yang belum tentu saya minati, Memang.. semua itu saya jalani namun berakhir dengan saya yang selalu mengeluh karena lelah dan bosan. Tetapi ketika saya pahami perkataannya tersebut saya langsung mengerti mengapa selama ini saya selalu mearasa tidak maksimal dalam melakukan beberapa hal yang tidak terlalu saya minati, padahal akan tiba masanya saya memerlukan ilmu-ilmu yang telah saya pelajari diwaktu lalu. Mungkin ini pun menjadi cerminan bagi diri saya sekarang atau pun kelak di masa depan, untuk melakukan setiap hal dengan rasa syukur agar mendapatkan hasil yang terbaik dan maksimal.

 

Berjuta-juta ucapan terimakasih tidak akan pernah cukup untuk membalas semua kasih sayang, jerih payah, dan tenaga yang telah terkuras habis untuk membesarkan anak sulungmu ini. Kini saya mengerti setiap pesan singkat yang engkau kirimkan walau hanya sekedar menanyakan dimana anakmu berada? Sudah makankah? Jangan pulang malam yah.. adalah bagian dari rasa perhatian dan khawtir terhadap anakmu yang sangat kau sayangi ini, segala sesuatu tersebut membuat saya sangat merasa berharga, maaf jika selama ini masih membuatmu khawatir ataupun kecewa. Satu hal yang musti Ayah tahu bahwa tidak ada niat sekalipun untuk membuat Ayah kecewa ataupun khawatir, dan terimakasih untuk tidak pernah lelah mengajari segala hal yang baik, memberikan nasihat untuk setiap kesalahan, menjadi mentor di setiap aspek kehidupan.

 

Tidak pernah bosan untuk berpikir betapa beruntungnya saya memilki Ayah, yang dapat memecahkan masalah dengan kepala dingin, yang tidak pernah menuntut apapun diluar batas kemampuan anak-anaknya, yang selalu memaklumi kesalahan anak-anaknya, yang selalu mencintai dan menyayangi keluarganya namun tetap berlaku tegas sabagai pemimpin dan kepala keluarga. Apakah mudah menjadi dirinya? tentu saja sulit namun terlepas dari itu semua. Ayah adalah panutan nomor  1 saya untuk menjalani hidup. Tempat saya mengadu, bercerita, meminta saran, atau bahkan bersenda gurau. Sangat beruntung memiliki Ayah yang dapat sekaligus berperan menjadi teman atau sahabat. Doa yang setiap hari saya panjatkan hanyalah semoga suatu hari nanti anakmu yang tidak sempurna ini dapat membahagiakan dan membanggakan keluarga sama seperti yang telah Ayah lakukan.

 

Terimakasih Ayah.. Senyum, Tawa, dan Air Matamu akan selalu menjadi alasan utama saya untuk menjadi lebih baik setiap harinya.

 

Comments