Kemen PPPA Launching “Puspaga” di Bogor

Bogor – bogorOnline.com

 

Pemasalahan anak sebagai kelompok rentan menunjukan keprihatinan kita bersama, berdasarkan hasil survei prevalensi kekerasan terhadap Anak yang dilaksanakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada tahun 2013 menunjukkan prevalensi kekerasan yang cukup tinggi Sekitar 38,62 persen anak laki-laki dan 20,48 persen anak perempuan pada kelompok umur 13-17 tahun menyatakan diri pernah mengalami tindak kekerasan dalam satu tahun lerakhir.

 

Disisi lain, banyaknya peristiwa keluarga yang timbul bagaikan fenomena gunung es. Masalah yang dapat diketahui hanya sebagian kecil dari puluhan ribu masalah yang ada.

 

Permasalahan keluarga yang betul betul sangat merugikan, menyengsarakan baik secara materiil maupun mental bagi anak, orangtua maupun keluarga yang terkena, contohnya banyak anak korban perceraian karena kasus kekerasan dalam rumah tangga yang sangat berpengaruh terhadap pengasuhan yang sangat buruk. Data dari Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung RI selama beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan jumlah perceraian dimana sebagian besar terjadi karena kekerasan dalam rumah tangga. Tahun 2010 jumlah 216.286 kasus, Tahun 2011 sejumlah 285.184 kasus, dan Tahun 2012 sejumlah 272.794 kasus.

 

Dalam 9 (sembilan) butir Nawacita yang merupakan Visi Pemerintahan Presiden Joko Widodo adalah “Menghadirkan negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara” . Butir Nawacita yang dijabarkan dalam beberapa program ini adalah melindungi anak, perempuan dan kelompok masyarakat marjinal dan butir “Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia”. Kedua butir Nawacita tersebut menuntut dan memberi acuan adanya kewajiban negara untuk membantu meningkatkan kehidupan keluarga yang berkualitas, membantu menguatkan kualitas keluarga dalam bentuk program pendidikan / pengasuhan, keterampilan menjadi orangtua, keterampilan melindungi anak, kemampuan meningkatkan partisipasi anak dalam keluarga maupun penyelenggaraan program konseling bagi anak dan keluarga.

Berdasarkan hal tersebut, diperlukan upaya untuk menyatukan dua kekuatan antara tanggung jawab orangtua dan kewajiban Negara untuk membantu mengatasi permasalahan keluarga dalam Penguatan dan Pengembangan Lembaga Penyedia Layanan Peningkatan Kualitas Keluarga dalam Mewujudkan Kesetaraan Gender dan Hak Anak Tingkat Nasional dalam suatu wadah yang disebut dengan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) yang berfungsi sebagai “One Stop Service/Layanan Satu Pintu Keluarga, Holistik Integratif Berbasis Hak Anak”. Yaitu meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengasuh dan melindungi anak serta terciptanya rujukan pengasuhan, pendidikan kesehatan, perlindungan bagi anak dan orang tua/keluarga guna menunjang tumbuh kembang anak secara optimal.

 

Menteri PPPA, Yohana Yembise, mengatakan bahwa pengasuhan memegang peran yang sangat penting dalam sebuah keluarga dan akan menentukan baik buruknya karakter seorang anak kelak.

 

“Kegagalan keluarga dalam menjalankan tanggung jawab pengasuhan, disertai lemahnya program pemerintah dalam memberdayakan keluarga tersebut mengasuh dan melindungi anak, akan menyebabkan anak berada dalam kondisi rentan dan berisiko mengalami kekerasan, eksploitasi, penelantaran, dan perlakuan salah lainnya,” ungkap Yohana kepada Wartawan, Selasa (5/9/17).

 

Yohana melanjutkan, Kemen PPPA menyiapkan program unggulan Puspaga untuk mengatasi masalah ini. Puspaga adalah bentuk layanan pencegahan di bawah koordinator Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam meningkatkan kehidupan keluarga dan ketahanan keluarga.

 

“Sejak tahun 2016, KPPPA menginisiasi pendirian Puspaga di beberapa daerah dan sampai saat ini sudah ada 18 daerah yang sudah mengimplementasikan Puspaga. Diantaranya yaitu, Surabaya, Solo, Bali, Sawahlunto, dan daerah lainnya. Terdapat 23 Puspaga 2017 daerah yang akan segera mengimplementasikan Puspaga di daerahnya. Momen peluncuran Nasional Puspaga bertujuan untuk meningkatkan awereness/kesadaran terkait program Puspaga dan manfaat dari keberadaan programteraebut, agar masyarakat memiliki pilihan terbaik untuk menyelesaikan berbagai permasalahan keluarga dan anak. Konsep Puspaga sendiri dibuat seperti ruang keluarga yang nyaman dan dilengkapi dengan ruang bermain anak, sehingga seluruh keluarga Indonesia tertarik untuk berkunjung ke Puspaga. Pada Momen Peluncuran Nasional Puspaga juga diiringi dengan pelatihan untuk penyelenggara Puspaga di setiap program agar kedepannya semakin banyak daerah yang mengimplementasikan program Puspaga,” pungkasnya. (Nai)

Comments