Ngariung di Pool Bus Damri, Dedie Rachim Siapkan Penataan Kawasan Baranangsiang

Sopir Online dan Pedagang Jajanan Titip Pesan ke Dedie

bogorOnline.com

Calon Wakil Walikota Bogor, Dedie Rachim, bersantap siang di pusat kuliner khas Bogor di Pool Bus Damri Botani Square, Bogor Tengah, Selasa (20/2/18). Selain santap siang, mantan pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu juga tampak berdialog dengan sejumlah perwakilan pedagang kuliner, sopir taksi, tour guide hingga tukang ojek.

Sambil menyantap soto mie khas Bogor, harapan demi harapan dari para pedagang dan sejumlah profesi lainnya yang tergabung dalam Paguyuban Pajajaran itu dicatat oleh Dedie untuk dirumuskan dan dicarikan solusi yang tidak merugikan siapapun kedepannya.

Heru (45), perwakilan sopir taksi dan ojek pangkalan pool bus damri menyatakan, pihaknya tidak menolak beroperasinya angkutan umum berbasis online, hanya saja regulasinya harus jelas dan tidak merugikan para sopir angkutan konvensional.

“Kami inginnya semua berjalan lancar. Tidak ada keluh kesah lagi. Terutama soal transportasi online. Belum jelas juga regulasinya. Harus fair. Tarifnya disesuaikan. Angkot saja di KIR, masa online tidak,” ungkap Heru.

Sementara itu, Denis (37), perwakilan pedagang kuliner berharap penataan kuliner di pool bus Damri bisa lebih baik lagi karena menjadi etalase Kota Bogor yang terkenal dengan wisata kulinernya.

“Disini banyak kuliner-kuliner khas Bogor. Terus biasanya bus Damri itu mengangkut penumpang dari berbagai daerah yang turun dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bogor. Perlu ditata lagi karena ini bagian dari gambaran kekayaan kuliner Kota Bogor,” ujar Denis.

Mendengar harapan warga itu, Dedie menyatakan, semua aspirasi dicatat oleh ia dan timnya. Ke depan, akan dirumuskan formula-formula yang pas untuk menuntaskan permasalahan-permasalahan tersebut.

“Soal transportasi online, masing-masing pihak harus bisa menahan diri sembari ada regulasi jelas yang mengatur itu semua. Intinya, angkutan umum baik online maupun konvensional sama-sama dibutuhkan oleh masyarakat. Jadi, harus berjalan harmonis,” jelas Dedie.

Ia menambahkan, kedua jenis transportasi itu wajub menjaga kondusifitas dan saling bekerjasama menjalankan usahanya masing-masing.

“Harus sama-sama menjaga ketertiban berlalu lintas, tidak menggunakan fasilitas umum untuk menunggu penumpang dan lain sebagainya,” jelasnya. (Nai/ist)

Comments