Polres Bogor Tepis Dugaan Lepaskan Tiga Terduga Pelaku Persetubuhan Anak Dibawah Umur

Cibinong РPolisi Resort (Polres) Bogor menepis dugaan telah melepaskan tiga terduga pelaku persetubuhan anak dibawah umur berinisial IW, KL dan J atas korban bernama RS (14). Menurut keterangan dari Polres Bogor, ketiga terduga pelaku itu masih tetap berjalan  proses hukumnya.

Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Bimantoro Kurniawan mengatakan, bahwa ketiga terduga pelaku telah dilakukan penangguhan penahanan. “Proses hukum tetap berjalan, kita sedang melengkapi petunjuk dari Kejaksaan terkait dengan proses penyidikan lebih lanjut. Jadi tidak mungkin lah kita melepaskan seorang tahanan, dan di Polres Bogor belum pernah terjadi,” kata AKP Bimantoro ketika dikonfirmasi di Mapolres Bogor, Kamis (05/04).

Menurutnya, meskipun perkara ini merupakan dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur, namun penangguhan penahanan merupakan hak dari terlapor. “Itu boleh dilakukan penangguhan penahanan, dan di atur juga dalam KUHP,” ujarnya.

Sejauh ini, ungkap Bimantoro, ketiga terduga pelaku tersebut juga telah kooperatif dengan wajib lapor dua kali dalam seminggu. “Mereka tetap kooperatif dengan menjalankan wajib lapor setiap hari Senin dan Kamis,” ungkapnya.

Penangguhan penahanan yang dilakukan, menurut Bimantoro, selain karena pertimbangan masa penahanan yang hampir habis, juga atas pertimbangan dan alasan subjektif dari penyidik.

Sementara itu, pihak korban dugaan persetubuhan mengadu ke Komisi Nasional (Komnas) Perlindunga Anak (PA) Republik Indonesia, di kawasan Pasar Rebo, Jakarta, Rabu (4/4) kemarin.

Korban dugaan persetubuhan dan pencabulan RS (14) dan ayahnya diterima langsung oleh Ketua Umum Komnas PA, Arist Merdeka Sirait.

Ayah korban, Yadih mengatakan, kedatangan pihaknya ke Komnas PA untuk memperjuangkan nasib naas yang telah terjadi pada puteri keempat dari lima bersaudara.

“Saya melakukan pelaporan ke Komnas PA atas dugaan tindakan perlakuan bejad yang dilakukan tiga pria, pegawai salah satu PH yang mengisi program salah satu televisi swasta. Persoalan ini sudah dilaporkan ke Polres Bogor semenjak 30 November 2017 lalu,” ujar Yadih, usai mengadu ke Komnas PA Republik Indonesia.

Dihadapan Ketua Umum Komnas PA Republik Indonesia Arist Merdeka Sirait dan salah satu stafnya, Yadih menceritakan duduk persoalan yang menimpa RS, secara garis besar. “Ya, saya ceritakan awal mula puteri saya ikut sebagai talent hingga terjadi pendarahan pada alat vitalnya,” kata Yadih.

Lebih lanjut ia berharap, agar Komnas PA Republik Indonesia ikut serta dalam perjuangan dirinya untuk memperoleh kepastian hukum. “Mudah-mudahan Pak Arist dapat ikut mengawal proses hukum kasus yang belum sampai pada persidangan ini,” imbuhnya.

Bukan hanya Yadih, Korban RS juga sempat dimintai keterangannya secara tertutup oleh salah satu staf perempuan Komnas PA.

“Korban hanya menerangkan kalau dirinya dibawa ke rumah salah satu terduga pelaku. Dirumah itu, korban mengaku dikasih minum dan permen. Sampai disitu korban mengaku tidak ingat apa-apa lagi. Korban disuruh orang tua melupakan peristiwa yang telah dialaminya,” kata staf perempuan Komnas PA ke Arist.

Ketua Umum Komnas PA, Arist Merdeka Sirait menegaskan, pihaknya akan turun tangan atas perkara yang menimpa anak dibawah umur di wilayah hukum Polres Bogor.

“Keterangan keluarga dan korban akan menjadi dasar kami mendorong Polisi menuntaskan kasus ini. Saya akan surati Polres Bogor dalam waktu dekat ini,” papar Arist. (adi)