Tertarik Model Kampanye Gerilya Bima-Dedie, Mahasiswa di Bogor Berebut Minta Nasihat

Bima Arya : Jangan Jadi Pemuda Pasif

bogorOnline.com

Dari empat pasangan calon yang berlaga di Pilwakot Bogor 2018, pasangan Bima Arya dan Dedie Rachim dinilai merupakan sosok yang ideal di mata para mahasiswa. Hal tersebut terlihat dari banyaknya mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi ternama di Kota Bogor yang ikut dalam aktivitas gerilya dari pasangan nomor urut tiga ini di Kelurahan Genteng dan Lawanggintung, Minggu (8/4/18).

Para mahasiswa itu mengaku tertarik mengikuti agenda kampanye Bima-Dedie dengan konsep yang dinamakan gerilya. Tidak sekedar blusukan biasa, Bima-Dedie juga disebut-sebut sebagai pemimpin yang visioner dan mileneal.

“Kang Bima sering ngisi materi di kampus kita. Bawaannya santai, enak, materinya cepet nyampe ke kita. Kita dibebaskan memilih pasangan calon mana oleh dosen untuk diobservasi gaya dan konsep kampanyenya. Tapi banyak temen-temen yang pilih Kang Bima dan Kang Dedie,” ungkap Hilman Abirahman (19), mahasiswa semester 4 Universitas Pakuan (Unpak) Kota Bogor itu.

Hilman menambahkan, Bima-Dedie menerima dengan hangat kehadiran para mahasiswa di tengah-tengah gerilya dengan warga. Menurutnya, pemimpin seperti Bima-Dedie merupakan sosok ideal untuk memimpin Kota Bogor.

“Beliau padahal sedang sibuk, tapi masih mau menerima kami dengan hangat. Tadi ngobrol banyak, enak, santai, bersahabat juga. Bukan hanya sama kita, tapi sama warga yang ditemuinya juga tadi kami pantau,” jelas pemuda warga Bogor ini.

Senada dengan Hilman, salah satu mahasiswi yang ikut dalam gerilya, yakni Santi Kartika (19), juga merasakan hal yang sama.

“Kami memilih untuk mengobservasi Kang Bima dan Kang Dedie karena Kota Bogor bisa bagus seperti ini karena Kang Bima. Ruang terbuka publik semakin banyak, ditata rapih, pedestrian dan infrastrukturnya juga. Kalau bisa ya satu periode lagi, pasti pembangunannya tambah terasa,” ungkap Santi yang mengaku warga Menteng, Bogor Barat itu.

Kehadiran dirinya bersama sejumlah teman-temannya di agenda kampanye Bima-Dedie merupakan bagian dari tugas mata kuliah Komunikasi Politik.

“Visi misinya juga tadi saya dengar sangat bagus, soal pendidikan, soal kesehatan dan yang paling kami apresasi adalah renovasi rumah tidak layak huni menjadi layak,” kata mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya itu.

Selama sekitar 10 menit, Bima-Dedie tampak meluangkan waktu untuk berdialog menjawab pertanyaan demi pertanyaan para mahasiswa di sebuah Poskamling di Kampung Sukajaya, Kelurahan Genteng, Bogor Selatan. Pertanyaan yang diajukan mahasiswa seputa, konsep kampanye, efektivitas kampanye, visi misi hingga diminta untuk memberikan motivasi untuk para mahasiswa dan kaum jomblo.

“Kalau motivasi untuk menjadi pemimpin Insya Allah saya bisa beri. Tapi kalau untuk jomblo, itu urusan masing-masing,” kata Bima, diiringi riuh tawa.

Bima menambahkan, para mahasiswa memiliki banyak pilihan dalam menyikapi urusan politik. Namun, ia meminta untuk tidak cuek.

“Jangan jadi pemuda yang pasif karena suatu saat kalian pasti akan bersinggungan dengan politik dan pemerintahan. Jadi masuklah politik, silahkan pilih mau jadi pengamat politiknya saja, jadi bagian dari tim suksesnya, jadi tim dokumentasi dan lain sebagainya. Tapi merapatlah ke politik lebih dekat, supaya kalian bisa menyelami dan belajar,” bebernya.

Mengenai konsep kampanye, Bima yang berpasangan dengan mantan pejabat KPK, Dedie Rachim menjelaskan, kampanye yang dilakukan dinamakan gerilya.

“Ini memadukan tradisional dan milenial. Yang kampanye tradisional itu gerilya di darat seperti ini menyapa warga. Masalah kampanye itu masalah hati, bagaimana membangun kedekatan hati. Bagaimana menyelami keseharain warga. Makanya sebanyak mungkin kami bersalaman dengan warga, sebanyak mungkin dialog dengan warga, sebanyak mungkin memasuki rumah warga,” jelas Bima.

“Nah, di sini juga kampanyenya itu tidak boleh terlalu serius. Makanya kalau kalian mengikuti kampanye saya dengan Kang Dedie, tidak pernah pidatonya lama-lama, paling maksimal 5 menit, kadang cuma 2 menit. Sisanya salaman, dialog, berbagi kebahagiaan, seperti ini membagikan ikan kalau bahasa sundanya ngubek,” tambah pria kelahiran Bogor, 17 Desember 1972 itu.

Untuk kampanye milenial, lanjut Bima, adalah menggunakan media sosial.

“Seperti yang sekarang dilihat kita sedang siaran langsung di Instagram. Tidak hanya warga di sini yang bisa melihat aktivitas kita, tapi ratusan atau mungkin ribuan warga Bogor bisa menyaksikan kampanye kita. Bahkan, bisa interaksi di sini. Kadang-kadang kalau saya lagi gerilya di darat secara tardisional itu banyak warga Bogor tiba-tiba nyusul di titik tertentu karena melihat live saya,” ujar dia.

Mahasiswa juga bertanya mengenai kendala yang dihadapi paslon selama kampanye. Dedie menjawab, bahwa sejauh ini tidak ada kendala yang berarti. Ia bersama Bima Arya sangat menikmati aktivitas menyapa warga dan bersosialisasi.

“Hanya saja, banyak warga yang minta didatangi. Satu hari ada sedikitnya 20 permohonan untuk wilayahnya didatangi gerilya. Jadi kami kesulitan membagi waktu. Kadangan-kadang berdua, kadang sendiri-sendiri untuk dibagi-bagi. Kendalanya lebih soal waktu yang terbatas,” pungkasnya. (Nai/ist)