Dibalik Keramaian Pasar

Pasar Depok Jaya merupakan salah satu pasar besar di wilayah Depok, Jawa Barat. Bagaimana tidak, selain untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga, pasar ini juga menyediakan berbagai tempat makan baik di dalam pasar, di luar serta di sepanjang ruko-ruko yang biasa dikenal dengan nama Ruko Nusantara. Apotek dan tukang jahit juga tersedia di Pasar Depok Jaya.

Seperti pasar tradisional pada umumnya, pasar yang terletak di Jalan Nusantara ini riuhnya diisi oleh berbagai macam ekspresi, segudang raut muka dari berbagai individu, entah kesenangan seorang penjual yang dagangannya laris, teriakan seseorang yang sial karena kecopetan, sopir angkutan umum yang marah karena macet sehingga mobilnya tidak bisa jalan, tawar-menawar yang bersifat berlebihan sampai kalimat promosi seperti “Sayang anak, sayang anak,” yang diutarakan penjual.
Jauh dari keriuhannya, tepat di depan toko mainan anak duduklah seorang kakek tua, menatap barang dagangannya yang masih banyak. Disaat pasar ramai, ia hanya termenung diam. “Pak boleh saya lihat pisaunya?” mulai seorang Ibu dengan kerudung berwarna oren yang akhirnya membeli satu buah pisau berukuran sedang tapi tajam. Sontak kakek itu langsung menawarkan berbagai jenis pisaunya.
Empun, penjual pisau kelahiran tahun 1958 ini dapat ditemui setiap hari di Pasar Depok Jaya. Berjualan pisau dengan cara berkeliling dari gedung Pasar Depok Jaya sampai ke ruko-rukonya yang terletak di Jalan Nusantara. Setiap hari ia menyusuri seluk-beluk pasar, dari ujung ke ujung, berjualan tanpa tempat.
Dibalik keramaian pasar, pisau-pisau yang dijual Empun cenderung diacuhkan oleh para pembeli. Wajar saja, banyak toko yang lebih menarik perhatian pembeli. Padahal untuk berjualan di Pasar Depok Jaya, Empun harus berangkat sejak pagi buta dari rumahnya yang cukup jauh, Cileungsi. Ia harus naik angkutan umum, pindah dari angkutan yang satu ke angkutan lain untuk sampai di Depok.
Empun sudah berjualan pisau sejak tahun 1976. Berbagai macam pisau dijualnya mulai dari ukuran yang sangat kecil sampai besar, yang gagang kayu, gagang besi dan lain-lain. Selain pisau, ia juga menjual cangkul, sampai alat pencabut rumput yang bisa dibilang cukup berat untuk dibawanya sendiri.
Empun mengaku tahun 1976 sampai dengan tahun 2000 ia tidak hanya berjualan di satu tempat tapi menyusuri semua pasar yang ada di wilayah Depok. Memasuki masa tuanya, ia mengaku sudah tidak mampu melakukan rutinitas tersebut sehingga hanya berjualan di Pasar Depok Jaya. Selain sudah rawan kelelahan, ia juga mengidap penyakit gula. “Berjualan di sini saja saya hanya sampai siang, kalau sampai sore tidak bisa, saya sakit gula.” ujarnya.
Ia masih harus menanggung biaya enam orang anak dan cucunya. Dua dari mereka masih bersekolah. Jika ditanya soal kekurangan dengan jujur ia akan menjawab bahwa penghasilannya kurang tapi apa daya, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kehidupannya memang jauh dari kata cukup tapi bersyukur dan kerja keras merupakan suatu hal yang menurutnya harus diaplikasikan dalam kehidupan. Walaupun sudah tua, Empun tetap gigih dalam bekerja.

Tentang Penulis
Nama : Indi Safitri
Mahasiswi Program Studi Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta Semester 4

Comments