RS Bina Husada Tepis, Tudingan Lambat Penanganan Pasien

CIBINONG-

Pihak RS Bina Husada, Cibinong, akhirnya angkat bicara, mereka menepis tudingan pelayanan yang buruk terhadap salah satu pasien nya yang dianggap tidak mendapatkan pelayanan medis.

Kuasa hukum pihak RS Bina Husada, Usep Supratman mengatakan, bahwa pasien atas nama Wahyudin (45) telah mendapatkan penanganan medis sesuai dengan standar prosedur.

Melalui rekam medis pasien tersebut, Usep menjelaskan bahwa pasien datang ke IGD RS Bina Husada jam 10:00 WIB langsung diterima oleh perawat.

“Riwayat serangan jantung sekitar jam 02.00 pagi di rumah, paginya pasien sempat dibawa ke klinik dekat rumah dan diperbolehkan pulang, saat masuk IGD RS Bina Husada pasien tampak gelisah dan kebiruan (cyanosis), tanda-tanda serangan jantung,” kata Usep dalam keterangan rilisnya, Rabu (30/05/18).

Ia menambahkan, bahwa Dokter IGD melihat pasien di ruang resusitasi (ruang khusus untuk pasien sakit berat) dengan terpasang oksigen, monitor dan saturasi 02.

Kemudian, dilakukan stabilisasi pasien dengan pemeriksaan TTV, hasil pengukuran tanda-tanda vital tekanan darah 110/75 mmhg Nadi 146 X permenit Respirasi 24-28 x permenit Suhu 36,5 °C Sat 02 89-90 (oksigen simple mask 6 It/menit) periksa EKG, pasang infus RL Asnet pemberian obat-obat injeksi omeprazol 1 vial injeksi ketorelac 1 ampul obat tab CPG (75 mg) 4 tab aspilet ( 80mg) 2 tab ISDN 5 mg diberikan secara sublingual.

“Di sini artinya pasien telah ditangani oleh petugas medis di IGD, jadi tidak ditelantarkan,” ungkapnya.

Mengutip dari rekam medis yang dibacakan, lanjutnya, instruksi tambahan dari dokter IGD injeksi petidin 12,5 mg. 7. Jam 10.30. Dokter IGD menjelaskan, hasil EKG kepada istri pasien bahwa hasil EKG menunjukkan serangan jantung, kemudian disarankan untuk pemeriksaan ensim jantung dan istri pasien diminta ke kasir untuk menanyakan biaya pemeriksaan ensim jantung tersebut.

“Dokter IGD juga sekaligus menyampaikan bahwa kondisi pasien membutuhkan perawatan di ruang intensive khusus jantung. Sedangkan istri pasien minta waktu untuk rundingan dengan keluarga lainnya,” imbuhnya.

Pada pukul 10.50 WIB, karena kondisi pasien yang lemah maka istri pasien dipanggil perawat IGD untuk menanyakan kepastian untuk pemeriksaan ensim jantung dan pemesanan ruangan.

“Istri pasien menunda dengan menandatangani surat penolakan pemeriksaan ensim jantung dan perawatan di ruang intensif. Dokter IGD konsul ke dokter spesialis jantung, hasil konsul bila pasien masih nyeri berikan MO 2 mg dengan cara bolus dan drip NTG. Dan pukul 12.00, istri pasien menemui dokter IGD menyatakan kesediaan untuk dirawat,” katanya.

Kemudian, dokter IGD mengarahkan istri pasien ke admin RS untuk menanyakan syarat-syarat pendaftaran pasien masuk rawat dan ketersediaan ruangan.

“Staf admin memberikan penjelasan tentang syarat-syarat pasien masuk rawat, tidak meminta uang muka perawatan.

“Sambil staf admin RS melakukan pengecekan ruangan dan ternyata ruang lCCU saat itu sedang terisi hanya tersedia 1 tempat tidur, istri pasien dijelaskan tentang kondisi ruang yang tidak tersedia. Kondisi pasien menurun, tampak sesak berat dan gelisah,” tutur Usep.

Pasien pun terus dipantau dan diawasi, masih tampak gelisah, tekanan darah 107/74 mmhg.

“Jam 12.15 nafas tambah berat, gelisah, kesakitan, saturasi 02 menurun 70 persen, pasien apnoe. Kemudian dilakukan RJP (resusitasi jantung paru) dan begging. Dan Instruksi dokter jaga IGD berikan injeksi SA 1 ampul dan injeksi adrenalin 1 ampul,” Usep menjelaskan.

Setelah itu, dilakukan Suction karena banyak cairan berwarna hitam keluar dari mulut. Setelah lanjut RJP dan begging, tidak ada respons maka diberikan lagi injeksi SA 1 ampul.

“Pasien tidak merespons terhadap RJP dan bantuan obat-obat. Tepat pada pukul 12.30 pasien dinyatakan meninggal oleh dokter jaga IGD dihadapan keluarga. Sedangkan riwayat pasien adalah Hipertensi dan Merokok,” tukasnya.(rul)

Comments