Politik Bersih Masih Sulit diwujudkan

CIBINONG – Politik bersih dalam perhelatan Pilkada di Kabupaten Bogor nampaknya masih sulit untuk diwujudkan. Peran pemuda sangat dibutuhkan untuk menangani masalah ini, meskipun di satu sisi komitmennya masih sangat diragukan.

“Yang menjadi masalah adalah bagaimana KNPI sebagai organ pemuda memposisikan diri, apakah sebagai lembaga taktis dan pragmatis atau sebagai lembaga strategis. Kalau pragmatis, sulit diharapkan KNPI bisa mewarnai Kabupaten Bogor,” ujar Pengamat Politik, Yusfitriadi, sebagai narasumber kegiatan Tadarus dan Buka Puasa Bersama DPD KNPI Kabupaten Bogor, dengan tema Gerakan Politik Kaum Muda untuk Pilkada Bersih, Senin (11/6).

Yus melihat, saat ini, pemuda terjebak pada isu-isu politik yang saling menjatuhkan untuk tujuan yang tidak mulia. “Misalnya permainan isu soal ijazah palsu dan juga isu tanah Jonggol. Sementara ada 12 ribu orang yang tidak bisa memilih dan itu pemuda atau tim sukses tidak memikirkan,” katanya.

Tokoh media, Alfian Muzani juga senada dengan Yus. Alfian meragukan praktek Pilkada bersih diwujudkan ditengah kehidupan ekonomi masyarakat Kabupaten Bogor yang masih dihantui kemiskinan. “Lalu dengan uang Rp50 ribu untuk memilih salah satu calon,” kata dia.

Jika hal ini masih tidak bisa dihindari, Alfian menilai sulit bagi daerah untuk mendapatkan pemimpin yang bersih, yang peduli terhadap daerah dan masyarakatnya. “Seharusnya kita mendapatkan pemimpin yang punya mimpi, punya program yang jelas,” kata Alfian.

Ia juga menilai, ada kemunduran peran pemuda dalam mewarnai Kabupaten Bogor. “Dulu waktu zaman Rachmat Yasin, sangat terasa sekali peran pemuda, tapi setelah itu hingga saat ini agak menurun,” katanya.

Mendapatkan kritikan tersebut, Ketua DPD KNPI Kabupaten Bogor. Burhani memastikan pemuda sangat komitmen untuk berperan aktif membangun daerah. Ia lalu menyemangati para pemuda dengan slogan, pemuda, maju, maju, maju.

Hadir juga sebagai narasumber Komisioner KPU Kabupaten Bogor, Erik dan Ketua Panwaslu Kabupaten Bogor, Ridwan. (*)