BOGOR – Cuaca dingin yang akhir – akhir ini dirasakan hampir sebagian besar warga di wilayah Kabupaten Bogor, terutama saat malam hari, ternyata merupakan dampak dari cuaca dingin yang melanda Australia. Musim dingin ini juga berdampak merubah iklim cuaca di pulau Jawa.
Menurut Dikutip dari keterangan Kepala Bagian Humas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Hary Tirto Djatmiko, saat ini merupakan puncak musim kemarau yang ditandai dengan suhu yang lebih dingin dan angin lebih kencang. “Saat ini Indonesia mendapat pengaruh dari aliran massa dingin dari Australia,” ujar Harry Tirto Djatmiko kepada wartawan.
Kata Hary, perubahan iklim menyebabkan perubahan suhu menjadi lebih dingin di sejumlah wilayah di Indonesia. Turunnya suhu udara lebih dingin ini membuat kondisi kesehatan lebih rentan terhadap beberapa penyakit. Suhu cuaca ini juga berdampak pada daya tahan atau kekebalan tubuh manusia, “imbuhnya.
Sementara dr. Intan Kepala Seksi Pencegahan & Pengendalian Penyakit Menular (Kasi P3M) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, cuaca dingin yang terjadi saat ini memang perlu diperhatikan guna menjaga kesehatan. Meski tidak ada penyakit menular yang terkait secara langsung dengan cuaca dingin, namun perubahan iklim dan udara dingin perlu diwaspadai.
“Terutama penyakit tidak menular seperti asma, alergi kulit maupun alergi pernafasan/flu). Lalu dehidrasi yang bisa berakibat bibir pecah – pecah, kulit kering, dan lainnya,” ungkapnya.
Dia menganjurkan, untuk mempertahankan kesehatan dan menjaga stamina tubuh, hendaknya masyarakat lebih banyak minum karena cuaca dingin cenderung kurang minum. Selain itu, masyarakat juga harus tetap makan sesuai kebutuhan kalori, minum air hangat, memperbanyak konsumsi sayur mayur dan buah – buahan, serta tetap rutin berolahraga dan memakai baju hangat ketika malam hari.
Intan menjelaskan, jika paparan udara dingin terus berlangsung, maka akan terjadi penurunan suhu tubuh (hipotermia). “Perubahan cuaca yang ekstrim, akan berpengaruh pada daya tahan tubuh sehingga bisa lebih mudah terserang penyakit infeksi virus atau bakteri. Jadi masyarakat harus lebih menjaga kesehatannya.” Pungkasnya. (MUL)





