Tahun Kesadaran dan Optimisme

 

Manusia adalah makhluk bersejarah. Kesejarahan itu sendiri semestinya bergerak dari kuantitas menuju kualitas, dari tidak berpengetahuan menjadi berpengetahuan, atau dengan kata lain, sejarah kehidupan manusia semestinya menjadi lebih baik dan lebih beradab. Akan tetapi, baik dari literatur maupun dari apa yang kita alami tidaklah demikian, bahkan dalam pandangan agama, semakin jauh dari kurun kenabian, umat para nabi semakin jauh dari kebenaran.

Tentu saja kita bukan untuk mempertentangkan kaidah-kaidah kesejarahan, melainkan justru kesejarahan harus dijadikan untuk mengkritisi kita, mengkritisi kehidupan umat manusia yang belakangan ini terasa runyam dan telah meneror ruang kebatinan kita. Dari berbagai belahan dunia kita disajikan berbagai jamuan yang tidak menyenangkan, apalagi dari Timur Tengah dengan konflik berdarah-darah. Tidak kalah merisaukannya adalah perang ekonomi, yang sebenarnya perang hegomoni dan dominasi, sedang ekonomi merupakan salah satu bagiannya saja. Itulah sebabnya Venezuela negeri kaya hampir bangkrut, Argentina kolaps, begitu juga dengan Turky hampir menjadi negara gagal, hanya untung Turky dibantu oleh Qatar, Iran, dan Rusia.

Sementara kita di Indonesia, disuguhi oleh berbagai persoalan, selain perang dominasi dan hegomoni global, kits disuguhi pula oleh situasi dalam negeri. Pilpres dan pileg sebagai penanda bangsa modern, semesti disambut dengan gembira dan meriah, tapi disambut dengan ajang hoax, caci maki, hujatan, politisasi identitas yang berbau SARA, dan cara-cara yang keluar dari etika berdemokrasj, bahkan telah merusak rasa persaudaraan sesama anak negeri.

Akan tetapi bangsa Indonesia lahir dan hidup dari dan dalam pergumulan sejarah, memiliki pengalaman sejarah, sehingga kita percaya kepada kaidah kesejarahan bahwa tidak ada masalah yang tida memiliki jalan ke luar. Akan tetapi pula perlu diingat bahwa kaidah-kaidah kesejarahan tersebut bisa membebaskan bisa pula membelenggu. Bergantung bagaimana kita membangunkan cakrawala berkesadaran dan optimisme.

Selamat Tahu Baru 2019

Aldi Supriyadi

CEO Putra Samudra Group