SENGKETA TANAH DI TENJO AKAN DISELESAIKAN DENGAN MUSYAWARAH

TENJO – Terkait persengketaan tanah seluas kurang lebih 800 meter di Kp. Baying Desa Batok Kecamatan Tenjo, akan diselesaikan dengan musyawarah dengan pihak keluarga (pemilik tanah) dan PT BNM serta warga desa tersebut yang ikut terlibat.

Dalam musyawarah pertama berlangsung di kantor Desa Batok Kecamatan Tenjo ini, belum membuahkan hasil dan akan kembali dilakukan pada Kamis 4/7/2019.

Pasalnya, musyawarah tersebut mendapatkan penolakan dari pemerintah Desa Batok lantaran penyelesaian dengan sumpah Alqur’an itu dianggap tidak sesuai, Senin 1/7/2019.

Menurut keterangan pihak keluarga Sanip (55) tidak merasa menjual tanah kepada siapapun. Sanip hanya memiliki SPPT dan telah membayar pajak setiap tahun, tapi mengapa tanah keluarga Sanim terjual kepada PT BNM.

“Sanip tidak pernah menjual kami punya bukti berupa SPPT, kami siap sumpah di atas Alqur’an, ” kata KH. Ade Solahudin¬† pendamping keluarga Sanip usai musyawarah di kantor Desa tersebut.

Sementara itu Camat Tenjo Asnan yang turut hadir dalam musyawarah tersebut, ia mengatakan, musyawarah akan dilanjutkan nanti pada Kamis yang akan datang.

“Musyawarah ini merupakan sepekatan kedua belah pihak. Sebisa mungkin kita akan sepakti dalam musyawarah, yang penting tadi mereka masih mau bermusyawarah, “ujar Camat.

Menut Asnan, inikan masing-masing punya bukti, nanti silahkan saja. Tapi nanti, siapah yang paling punya bukti atas luastanah sebanyak kurang lebihnya 8 hingga 9 ratus meter itu, “tuturnya.

Dikomfirmasi terkait itu Kanit Reskrim Polsek Parungpanjang Ipda A.M Zalukhu mengatakan seseorang bernama Sanip, warga Serang Banten itu mengklaim bidang tanah yang terletak di Kp. Beying Desa Batok merupakan dari warisan orang tuanya.

“Akan tetapi dia hanya mempunya sppt sebagai bukti kepemilikan. Kemudian dia mengajak beberapa orang yang mempunyai hak atas tanah tersebut untuk melaksanakan sumpah di atas Alqur’an, masyarakat dan para tokoh agama yang ada di Desa tersebut, “kata dia.

Sambung Zalukhu, dan tidak diterima adanya sumpah tersebut di karenakan melenceng dari norma agama dan tidak pernah terjadi di desa batok, “pungkasnya. (Mul)