Kekeringan, Desa Tamansari Tunggu Provinsi

Tamansari – bogorOnline.com

Kekeringan yang melanda wilayah Ciapus, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor mulai berimbas di hampir seluruh desa. Sumber-sumber air di delapan desa yaitu Desa Pasireurih, Sirnagalih, Tamansari, Sukaresmi, Sukajaya, Sukaresmi, Sukaluyu, dan Sukajadi dirasakan makin surut.

Dampak kemarau yang dialami di Desa Tamansari bahkan sudah nyaris merata di setiap kampung.

“Semua kampung mulai dari Kampung Sukamanah RW 1 dan 2, Taman wilayah RW 3, 4, 5, 6, Kampung Calobak RW 7 dan 8 hingga Kampung Warung Loa RW 9 hampir semua terdampak kekeringan,” keluh Sofyan Iswandi, yang baru saja melepas jabatannya sebagai Plt Kades Tamansari, Bogor, (1/8).

“Sumber mata air yang besar hanya dari kali Ciapus,” lanjutnya.

Karena itu, ia pun menunggu agar program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) dan bantuan provinsi segera tiba.

“Diharapkan program air bersih Pamsimas dan program dari Provinsi Jawa Barat segera dapat terealisasi,” ungkap Sofyan.

Lebih lanjut ia berpendapat, untuk langkah jangka panjang harus dibuat penataan dan penertiban jalur pipa.

“Penertiban dilakukan dari hulu dengan melibatkan Pemdes dan Taman Nasional,” ujarnya.

Meski begitu, ia tidak menjelaskan lebih lanjut perihal penataan dan penertiban yang dimaksudkannya. Ia hanya menuturkan, Pemerintah Desa sudah meminta bantuan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) guna mengerahkan bantuan air bersih.

“BPBD sudah mengirimkan unit tangki air bersih kepada masyarakat,” tambahnya.

Meski begitu, warga menilai pasokan air bersih dari BPBD dinilai bukan merupakan solusi yang berkelanjutan dan hanya merupakan penanganan untuk kondisi darurat.

“Distribusi air bersih dari BPBD itu terbatas, tidak bisa mencukupi. Sementara kebutuhan air bersih yang diperlukan warga itu hampir setiap saat,” ujar Dadang, Ketua RT 02 RW 03 Kampung Sukamanah, Desa Tamansari, Kabupaten Bogor.

Ia juga mengungkapkan, di wilayahnya tidak ada penanganan dan tindakan dari Pemerintah Desa, sehingga warga melakukan inisiatif untuk membangun jalur pipa untuk penyediaan air bersih dari mata air di wilayahnya.

“Masyarakat melakukan swadaya dengan memasang saluran sepanjang 240 m untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi sekitar 85 Kepala Keluarga (KK),” jelasnya.

Dadang mengungkapkan, selain swadaya masyarakat, peran tokoh masyarakat Tamansari, H. Suwito, SI, S.IP yang turut peduli melakukan bantuan dinilai memberi manfaat besar bagi kebutuhan warga.

“Warga butuh aksi nyata dan penanganan yang cepat,” tanggapnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Damayanti, Ketua RW 06 Kampung Taman, Desa Tamansari, Bogor yang membawahi sekitar 300 KK. Ia menuturkan, sebelum distribusi air bersih dilakukan oleh Pemdes dan BPBD, warganya sudah terlebih dahulu mendapat bantuan dari tokoh masyarakat yang dikenal dengan panggilan Kang H Wito itu.

“Kondisi darurat air bersih itu sudah rutin terjadi setiap musim kemarau. Harusnya sudah lama ada penanganan, minimal cepat tanggap. Tapi di Desa Tamansari seolah-olah tidak ada perubahan dari tahun ke tahun. Untung saja masih ada tokoh yang tanggap,” ujar wanita yang biasa dipanggil Maya itu, Sabtu (3/18/2019) malam.

Pendamping Desa Tamansari, Muhammad Sajidin menghimbau agar perangkat desa segera melakukan pelaporan kondisi krisis air di wilayahnya, agar keluhan warga bisa segera ditindaklanjuti.

“Laporan dilakukan dari tingkat RT dan Pemerintah Desa melakukan pelaporan ke tingkat Kecamatan, agar penanganannya bisa dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait,” sarannya.

Ia pun menyebutkan, Kementrian PUPR sebenarnya sudah mengalokasikan dana sekitar Rp 5 Milyar bagi seluruh desa di Tamansari. Anggaran tersebut dikelola untuk membuat reservoir, termasuk sarana pendistribusiannya ke wilayah warga.

“Alokasi itu untuk semua Desa,” pungkasnya. (Nai/*)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *