PGH PARUNGPANJANG




Kota Bogor Tekan Angka Stunting pada Balita

Kota Bogor – bogorOnline.com

Bunda Peduli Stunting akan segera bergerak turun ke wilayah untuk menyosialisasikan program Taleus Bogor kepanjangan Tanggap Leungitkeun Stunting Kota Bogor setelah resmi dikukuhkan pada Selasa 5 November 2019 di Paseban Sri Bima Balai Kota Bogor.

Bunda Peduli Stunting Kota Bogor Yantie Rachim mengatakan, pasca-pengukuhan ini, ia akan turun ke wilayah untuk mengedukasi warga terutama ibu-ibu di posyandu untuk memperhatikan terhadap asupan gizi yang baik dan seimbang. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya pencegahan stunting.

“Peran PKK juga kita perkuat, ada program Taleus. Itu sudah jalan, cuma kita kuatkan lagi dengan pengukuhan ini. Sebetulnya tahun 2017 lalu (angka stunting) masih di 27,5 persen dan sekarang sudah ada penurunan di bawah ambang batas standar nasional 30 persen. Artinya masyarakat sudah tereduksi tapi kita ingin kejar itu sesuai arahan Presiden Joko Widodo, juga WHO,” ujarnya.

Dinas Kesehatan Kota Bogor sendiri mencatat dari sasaran 100.000 balita pada Bulan Penimbangan Balita (BPB) selama 2018, lima persen di antaranya terkena stunting. Demikian hal ini dikatakan Kepala Dinkes Kota Bogor, Rubaeah.

Rubaeah melanjutkan untuk data 2019, pihaknya masih melakukan validasi terhadap balita se-Kota Bogor. Ia berharap jumlah balita stunting bisa menurun seiring berbagai upaya edukasi dan penanganan dilakukan pihaknya.

Dijelaskan olehnya, stunting atau bayi pendek menjadi fokus utama pemerintah dalam meningkatkan mutu dan generasi muda di Indonesia. Terkait ini, sambungnya, Kota Bogor sendiri telah menerapkan program Taleus Bogor di seluruh posyandu Kota Hujan.

“Dulu kan gizi buruk, yang ditandai dengan perkembangan fisik dari usia dan berat badan. Nah sekarang ini, pengukurannya umur dibandingkan tinggi badan. Penerapan Taleus itu sejak awal kita sosialisasikan, mulai dari remaja, calon pengantin (catin), wanita hamil, melahirkan dan punya balita, kami beri edukasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, edukasi itu menyoal bagaimana memperoleh asupan makanan yang memenuhi kebutuhan gizi, sehingga bisa mencegah potensi stunting pada balita.

“Ini bisa dicegah, teknisnya itu bagaimana asupan gizi yang baik, pada remaja, catin, melahirkan sampai punya bayi. Kerjasama juga dengan berbagai lembaga kesehatan ya,” tukasnya. (HRS)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *