PGH PARUNGPANJANG




Macet, antara Berkah dan Masalah Jalur Puncak 

Macet di jalan raya Puncak merupakan masalah menahun yang hingga saat ini masih belum ditemukan solusi yang pas untuk mengatasinya. Sempitnya badan jalan, tingginya volume kendaraan, hingga perilaku pengendara dianggap sebagai sejumlah soal yang menjadi penyebab.
Pedagang kaki lima, dan pengasong jalanan juga dianggap masalah yang turut menyumbang kemacetan, umumnya kita memandang seperti itu. Namun, bisa jadi para pedagang kaki lima, dan pengasong jalanan muncul karena adanya kemacetan. Kemacetan memang masalah bagi pengendara yang ingin buru-buru sampai lokasi tujuan, tapi bagi sebagian orang yang mengais rejeki di jalanan, macet menjadi ladang subur untuk mendapatkan uang. semakin macet, semakin luas ruang bagi mereka untuk menjajakan aneka dagangan, dan semakin besar peluangnya untuk menjual barang dagangan. Dan mereka mengucapkan Alhamdulillah, di antara kesalnya pengendara yang terjebak kemacetan berjam-jam.
Tentu pandangan baik dan tidak baik dalam kasus macet di jalan puncak, sangat bergantung dari sudut pandang yang mana kita melihat. Dari dua  perspektif di atas, kita melihat masalah dan berkah bagi dua kepentingan yang berbeda.
Demikian juga bagi Pemerintah Kabupaten Bogor. Macet di jalan puncak bisa dijadikan ukuran untuk mendata tingginya angka kunjungan wisata ke Puncak. Bagi pelaku usaha jasa dan pariwisata, semakin tinggi angka kunjungan semakin besar keuntungan yang mereka dapatkan dan tentu saja sebagian dari penghasilan mereka mengalir juga untuk pemerintah dalam bentuk pajak dan bentuk lainnya.
Tetapi di tengah berkahnya macet, ada hak-hak orang lain yang tidak bisa diabaikan. Rekayasa lalulintas sistem buka tutup satu arah atau one way dianggap belum memenuhi rasa keadilan bagi pengguna jalan, terutama bagi warga yang bermukim di sekitar Megamendung, Ciawi, dan Cisarua, karena harus menunggu lama untuk mengakses jalan ketika sistem tersebut diterapkan.
Belakangan Pemerintah Kabupaten Bogor menggagas rekayasa lalulintas jalur puncak sistem 2-1, untuk menggantikan sistem one way atau satu arah yang selama ini digunakan untuk mengantisipasi kemacetan di jalur wisata tersebut.
Tentu saja dilihat dari motivasinya wacana ini sangat baik. Namun secara teknis, sistem 2-1 sangat sulit dijadikan solusi untuk mengurai kemacetan tersebut. Hal ini terbukti saat uji coba sistem 2-1 pada Minggu 27 Oktober, kemacetan justru semakin parah. Antrian kendaraan mengular hingga Kabupaten Cianjur dan ini terjadi dari dua arah. Uji coba yang sedianya akan dilakukan seminggu kemudian, terpaksa ditunda dengan sejumlah alasan.
Semoga saja, di tengah sulitnya mengatasi macet jalan raya puncak, dan berbagai upaya untuk mendapatkan solusinya, kita masih bisa mensyukuri berkahnya macet.
Aldi Supriyadi
CEO Putra Samudra Group



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *