Saat Wakil Rakyat Tanam Padi

Kota Bogor – bogorOnline.com

Petani di Kelurahan Sindangrasa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor mulai beralih menanam padi setelah sebelumnya bercocok tanam berbagai komoditas tanaman pangan, seperti jagung, ubi dan singkong. Hal itu dilakukan petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Harapan Warga lantaran ketersediaan air irigasi sudah tak menjadi kendala lagi.

“Kemarin itu kita tidak ditanami padi dikarenakan adanya saluran irigasi yang amblas sehingga sedikit banyak telah menghambat pasokan air ke lahan sawah. Alhamdulillah, sekarang ini air irigasi sudah baik dan lancar mengalir ke lahan,” kata Penasehat Gapoktan Harapan Warga, Jenal Mutaqin, baru-baru ini.

Selain air irigasi, lanjut Jenal yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Bogor itu, ada faktor lain yang membuat beralihnya ke penanaman padi. Hasil panen dari tanaman jagung dan ubi yang ditanam petani kemarin dinilai kurang optimal karena adanya serangan hama. Untuk itu, pada masa ini dicoba dengan menanam padi.

“Dicoba ditanami padi, kita juga melihat kondisi di lapangan, kemarin itu dengan tanaman seperti jagung dan ubi dari sisi pasarnya kurang begitu pesat. Bisa disebut ada kegagalan dalam panen akibat serangan hama yang luar biasa,” ujarnya.

Pada lahan seluas 10.000 meter persegi, para petani saat ini mulai mengolah tanah dengan membajak menggunakan mesin traktor, juga alat tradisional, seperti cangkul. Sebelum pembajakan itu dilakukan beberapa petakan sawah diisi air terlebih dulu untuk melunakkan tanah kering.

“Iya, sekarang sedang proses pembajakan untuk menggemburkan tanah sambil dialiri air karena kondisi tanah sekarang agak berbeda telah mengeras setelah sekian lama ditanami tanaman kering. Jadi pembajakan sawah ini bisa dua kali lipat lebih lama,” ungkapnya.

Jenal menjelaskan, di lahan tersebut rencananya akan ditanam benih padi verietas inpari. Varietas ini karena memiliki kelebihan tahan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman seperti hama. Selain itu, beras yang dihasilkan dari padi inpari dinilai lebih pulen.

“Dan Gapoktan Harapan Warga sendiri dari dulu hingga sekarang terus berupaya menghindari penggunaan pupuk kimia. Untuk nutrisi tanaman, tetap menggunakan pupuk organik yang berasal dari kandang hewan ternak,” imbuhnya.

Politisi Partai Gerindra ini menjelaskan, melihat hasil produksi padi beberapa tahun lalu, ia memperkirakan dari luas lahan 1 hektar itu bisa menghasilkan produksi gabah rata-rata tujuh sampai delapan ton untuk sekali panen setelah empat bulan masa tanam.

“Iya, bisa mencapai 7 – 8 ton gabah dari luasan lahan sawah 1 hektar. Karena kita melihat harga beras relatif cukup tinggi ditambah stok beras di Bogor dapat disimpulkan belum mencukupi untuk warganya. Minimal beras hasil tanam Gapoktan ini bisa untuk mencukupi kebutuhan masyarakat di Sindangrasa dan umumnya Bogor Timur,” ucapnya.

Imbuh Jenal, kalaupun nanti hasil produksi padi dibeli oleh pengusaha-pengusaha penggilingan di wilayah sekitar, pihaknya meminta beras jangan sampai dijual ke pasar bebas.

“Sehingga harga beras yang dijual ke masyarakat bisa lebih murah,” kata Jenal. (HRS)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *