by

Empat Warga Meninggal Dunia Akibat DBD di Kota Bogor

BOGORONLINE.com, Kota Bogor – Dinas Kesehatan Kota Bogor mencatat empat warga meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue (DBD). Keempat korban DBD terjadi dalam kurun waktu dari Januari sampai Maret 2020.

“Berdasarkan laporan yang masuk, pasien yang meninggal akibat DBD periode Januari-Maret 2020 ada 4 korban meninggal karena sudah tahap DSS (Dengue Shock Syndrome). Keempat korban meninggal akibat DBD masih berusia dibawah 10 tahun,” kata Plt Kepala Dinkes Kota Bogor, Sri Nowo Retno, baru-baru ini.

Catatan Dinkes tahun 2019 menunjukan ada Januari ada 3 korban meninggal dari 155 kasus. Kemudian Februari ada 5 korban meninggal dari 162 kasus. Sedangkan Maret ada 2 korban meninggal dari 92 kasus.

Meski begitu, Retno mengingatkan kepada warga agar virus DBD jangan sampai tertutup dengan isu Virus Covid-19. Sebab, ia menilai DBD lebih berbahaya. Untuk itu, gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan kebersihan lingkungan agar kembali dilaksanakan dan ditingkatkan lagi karena itu hal yang utama.

“Dan hal tersebut sudah dilakukan di tingkat wilayah kecamatan, puskesmas dan bagian pemerintahan terbawah untuk memutus mata rantai agar tidak mewabah. Kota Bogor sendiri hampir setiap tahun masuk daerah endemis DBD. Berkaca dari tahun 2019, ada dua wilayah yaitu Bogor Barat dan Bogor Selatan,” tambahnya.

Untuk edukasi, Retno juga menerangkan bahwa DBD disebabkan virus nyamuk Aedes Aegypti. Gejalanya, awali dengan panas hampir sama dengan yang lain, tidak khas. Hari pertama dicek laboratorium masih normal. Yang penting, sambung Retno adalah terapi cairan.

Ketika, tiga hari panas tidak turun, disarankan olehnya untuk periksa laboratorium dengan melihat trombositnya karena itu yang paling bahaya. Memasuki hari ke-4 dan kelima adalah masa kritis DBD, biasanya trombosit drop dan disertai pendarahan yang tidak khas, tidak harus mimisan, bahkan bisa pendarahan di dalam.

Menurutnya, jika sudah kondisi seperti itu ditambah asupan cairan yang kurang akan menyebabkan DSS. Umumnya orang tua membawa pasien DBD ke rumah sakit dalam keadaan DSS.

“Jika sudah DSS, biasanya sulit untuk tertolong. Panas di awal sakit berdasarkan diagnosa pembanding hampir sama, jadi pada hari pertama hasilnya masih normal dan belum terdeteksi, umumnya jika panas sudah memasuki hari ketiga, disarankan harus periksa laboratorium,” tandasnya.

Bagi masyarakat Kota Bogor yang menginginkan abate, Dinas Kesehatan telah menitipkan di Posyandu melalui para kadernya dan juga kader Jumantik (Juru Pemantau Jentik). Prosedurnya, bagi masyarakat yang meminta abate bisa menghubungi kader Posyandu di wilayahnya masing-masing.

“Kita sudah menitip di posyandu karena itu yang terdekat dengan masyarakat. Semua puskesmas sudah kita instruksikan untuk dititip di kader posyandu,” ungkapnya.

Disinggung tindakan fogging atau pengasapan, Retno menjelaskan, bahwa tindakan tersebut hanya membunuh nyamuk dewasa tetapi tidak memutus rantai siklus hidup nyamuk dengan kata lain jentik nyamuk tidak akan mati. Oleh karenanya, lebih baik memberantas jentik-jentiknya karena itu sumber penularannya.

“Fogging tidak ubahnya semprotan anti nyamuk pada umumnya. Gerakan PSN dan kebersihan lingkungan lebih efektif dibanding mengandalkan fogging,” tandasnya.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor Ade Sarip Hidayat menjelaskan mengenai perkembangan kasus DBD di Kota Bogor, Pemkot Bogor bersama unsur Forkopimda serta stakeholder terus melakukan pemantauan, pengawasan dan edukasi kepada warga.

“Penanganan DBD di Kota Bogor tidak berbeda jauh dengan penanganan virus Convid-19. Bahkan, berdasarkan data sudah ada korban meninggal akibat DBD sehingga antisipasi terus ditingkatkan,” ungkap Ade Sarip di Balaikota Bogor, Selasa (10/3/2020) kemarin. (*/Hrs)
Foto Istimewa (Pikiran-Rakyat.com)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed