by

RUJUKAN MENYOAL ETIKA DAN HUKUM DALAM FOTO JURNALISTIK

CIBINONG – Kelompok Wartawan (POKWAN) DPRD Kabupaten Bogor, kembali menggelar acara RUJUKAN (Ruang Jurnalisme Kelompok Wartawan). Kali ini tema yang dibahas mengenai Etika Fotografi, Hukum dan Penggunaan Foto Jurnalistik. Rujukan menghadirkan Robinsar Opak, Fotografer senior yang juga mantan Kepala Divisi Hukum dan Advokasi Pewarta Foto Indonesia, sebagai narasumber.

Ketua Pokwan DPRD Kabupaten Bogor, Saeful Ramadhan mengatakan, banyak hal dianggap sepele dalam kegiatan jurnalistik foto padahal berpotensi bermasalah secara hukum maupun etika. “Karena itu diskusi ini menjadi penting untuk mempertajam kembali ingatan dan pengetahuan teman-teman jurnalis agar menghasilkan visual yang bagus dan terhindar dari masalah etik maupun hukum yang berlaku,” ujarnya disela acara RUJUKAN,  di Gedung DPRD Kabupaten Bogor, Kamis (27/8).

Ketua Panitia Rujukan, Hendi Novian menambahkan, kegiatan foto jurnalistik tidak hanya dilakukan oleh wartawan foto tapi juga oleh wartawan tulis. Karena itu pengetahuan dasar mengenai etika potografi, hukum dan penggunaan foto jurnalistik adalah modal yang sangat penting.

Acara yang diikuti kurang lebih 30 orang wartawan dan fotografer berlangsung cukup interaktif. Pembahasan soal etika menyerempet soal perdebatan antara nilai kemanusiaan dan momentum pada kejadian korban kecelakaan, musibah yang mengharuskan seorang wartawan memilih apakah menolong atau mengambil gambar terlebih dulu. “Pada situasi dilematis seperti ini, ambillah jalan tengah,” ujar Robinsar Opak.

Wartawan juga harus bijak dalam memilih foto yang akan ditayangkan di media massa. Poto, kata dia, jangan sampai hanya membangkitkan rasa trauma pada orang yang terkait dengan objek di dalam foto tersebut. “Foto mestinya menjadi alat bantu identifikasi untuk memperjelas apa sebenarnya yang terjadi,” katanya.

Opak juga membahas soal batasan antara ruang publik dan ruang privasi. Pada ruang publik, kata dia, tidak ada yang bisa melarang wartawan untuk mengambil gambar. Namun, kebebasan tersebut mestinya diiringi dengan penghormatan atas hak privasi pada sosok yang akan dijadikan objek foto. “Pada situasi tertentu langkah yang paling baik adalah meminta izin kepada orang yang akan kita jadikan objek foto, mengenalkan diri dan menyampaikan tujuan kita mengambil gambar,” katanya.

Banyak hal menarik lainnya yang dibahas dan kadang menimbulkan perdebatan. Antara lain soal berbagai kasus yang muncul dalam foto jurnalistik, bagaimana penyelesaiannya, dan apa konsekuensi bagi wartawan dan media yang menayangkan. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed