Camat Bogor Timur Bertani Tanpa Sinar Matahari

BOGORONLINE.com – Deretan lampu khusus yang menyala tampak menyinari tanaman sayuran yang tumbuh subur di lubang tanam pada pipa trapesium. Di dalam pipa, air terus mengalir kecil dan pelan membasahi akar tanaman yang tertancap di media tanam rockwool.

Itulah sekilas gambaran metode budidaya sayuran tanpa media tanah dengan memanfaatkan air atau yang disebut hidroponik di indoor vertical farming yang ada di gedung Kecamatan Bogor Timur.

Camat Bogor Timur, Rena Da Frina menjelaskan, indoor vertical farming ini merupakan program Corporate Social Responsibilty (CSR) PT Agrifarm sebagai sarana edukasi mengenai budidaya tanaman dengan metode vertical farming yang dapat dimanfaatkan di tengah keterbatasan lahan perkotaan.

“Jadi mereka mencoba konsep untuk pertanian masa depan. Prediksi kedepan dengan meningkatnya populasi tidak menutup kemungkinan akan semakin sedikitnya lahan terlebih di perkotaan. Pemenuhan kebutuhan pangan juga akan semakin meningkat. Maka metode ini bisa dimanfaatkan karena tidak memerlukan lahan yang luas,” kata Rena, Selasa (22/3/2022).

Ia mengatakan, bahwa metode vertical farming atau pertanian vertikal yang dikembangkan saat ini merupakan hal baru, tempatnya di dalam ruangan gedung. Berbeda dengan teknologi pertanian hidroponik yang sudah ada sebelumnya diterapkan dalam green house.

Oleh karenanya, sambung Rena, pada indoor vertical farming ini ada sentuhan teknologi modern, salah satunya penggunaan LED grow light sebagai cahaya buatan untuk menyinari tanaman atau fungsinya sebagai pengganti sinar matahari.

Selain perangkat lampu khusus tanaman, juga dipasang air conditioner (AC) dengan pengaturan suhu untuk di dalam ruangan tersebut. Perangkat lain, yakni bak berukuran besar berikut pompa untuk memasok air nutrisi dari bak ke tanaman melalui instansi hidroponik.

Rena mengatakan, selain bisa dilakukan di lahan terbatas dan berbagai tempat, dari informasi yang didapatnya dengan metode vertical farming lebih hemat dalam penggunaan air sampai dengan 90 persen. “Kualitas tanaman yang dihasilkan lebih sehat dan bersih. Karena ruangan ini juga cukup steril,” imbuhnya.

Untuk perawatan yang perlu diperhatikan dalam proses bertani seperti ini, terang Rena, pengecekan kondisi PPM nutrisi, pH air, sanitasi lingkungan termasuk tanaman rutin dilakukan secara berkala dan pencahayaan lampu dipastikan tetap terjaga.

Di indoor vertical farming Kecamatan Bogor Timur sendiri, saat ini telah memasuki masa tanam kedua dengan jenis sayuran yang ditanam kangkung hasil pembibitan secara mandiri. Sebelumnya atau pada masa tanam perdana, jenis sayuran yang ditanam berupa pakcoy dan selada.

Rena mengaku dirinya memang masih perlu banyak belajar lagi mengenai teknologi pertanian yang dimanfaatkan tersebut. Namun produksi dari budidaya kemarin itu setara dengan 50 kilogram sayuran.

Setelah sayuran kangkung, ia akan mengembangkan budidaya untuk jenis tanaman lainnya pada media tanam empat rak dengan 300-an lubang tanam tersebut. Rencananya berbagai edibel flower.

“Memang kalau dari segi untuk jual pastinya belum (tercukupi), karena cost-nya lebih tinggi. Jadi ini (indoor vertical farming) kami gunakan untuk edukasi memperkenalkan mengenai pertanian masa depan,” tandas Rena. (Hrs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *