Koalisi vs Oposisi

Headline, Sosok856 views

Dalam dunia politik “tidak ada kawan dan musuh abadi yang ada kepentingan abadi”. Kepentingan itu tidak memiliki basis nilai, norma, moral, atau etika. Ia hanya bertumpu pada nafsu yang licik, culas dan serakah. Pasca keputusan MK dan menetapan Presiden dan Wakilnya oleh KPU, kita menyaksikan berbagai manuver politik untuk membangun koalisi besar merangkul yang kemarin berbeda pilihan dan jalan untuk duduk bersama diatas tikar kepentingan pragmatis. Demi bangsa dan demi persatuan menjadi dalil bagi mereka untuk melegitimasi kepentingannya. Fenomena ini semakin memperlihatkan secara jelas dan gamblang bahwa Partai Politik yang ada tidak memiliki ideologi.

Ideologi itu tentang tujuan, jalan, dan arah yang lahir dari ide, pikiran, dan gagasan tinggi, dalam, luas dan besar kemudian membentuk kandungan batin yang akan mengeluarkan rencana – rencana tindakan. Hakikat ideologi itu eklusif yang akan membentuk watak non-kompromistis. Ketika ideologi itu melentur untuk kemudian bersikap akomodatif, kooperatif, dan kompromistis, maka ideologi itu telah kehilangan karakternya ditelan kepentingan pragmatis (kini dan disini). Ketika kepentingan sudah menjadi panglima yang mengarahkan dan mengendalikan partai politik, ia telah kehilangan ideologinya. Ketika ideologi hilang, hakikatnya ia telah kehilangan ide, pemikiran dan gagasan. Ketika pemikiran hilang, yang tersisa darinya tinggal binatangnya. (karena manusia binatang yang berfikir). Menurut Sujiwo Tedjo: “demi bangsa”, dan “demi rakyat” adalah kalimat yang sudah runtuh.

Bagi sebuah partai politik, pilihan untuk membangun koalisi dan oposisi, sejatinya lahir dari sentimen ideologi atau sikap ideologi. Orang – orang yang memiliki ideologi yang siap berbeda dan bersebrangan. Orang – orang yang memiliki ideologi adalah, mereka yang memiliki kepercayaan diri dan keberanian yang menjadi jati diri dan citra diri sebuah partai politik. Jika, partai politik sudah kehilangan jati diri dan citra dirinya, sama dengan kehilangan ideologi. kehilangan ideologi sama dengan kehilangan pikiran. Jika sudah kehilangan pikiran, masihkan kita sebagai rakyat mempercayai mereka untuk melakukan perubahan dan perbaikan bagi bangsa ini. Yang ada adalah perubahan dan perbaikan bagi kepentingannya.

ARTIKEL REKOMENDASI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *