Untuk Apa Sekolah Jika Akhirnya Menjadi Pengangguran?

beranda, Headline385 views

Oleh: Abah Yayat
Manajer Pendidikan SIT. Asy – syifa Qolbu

Berita harian Kompas menginformasikan bahwa sekitar 1,01 juta lulusan sarjana di Indonesia tercatat sebagai pengangguran pada tahun 2025. Sementara itu, jumlah total pengangguran di Indonesia per Februari 2025 mencapai 7,28 juta orang, di mana lulusan sarjana menyumbang sekitar 14% dari angka tersebut.
Kita menempuh pendidikan selama 17 tahun: satu tahun di TK, enam tahun di SD, tiga tahun di SMP, tiga tahun di SMA, dan empat tahun di perguruan tinggi. Namun setelah lulus, tak sedikit yang justru menjadi pengangguran. Ini menimbulkan pertanyaan reflektif: Selama 17 tahun kita belajar, tetapi mengapa masih bingung menentukan apa yang harus dilakukan?
Ilmu pengetahuan seharusnya membentuk identitas sejati manusia, sebuah identitas yang membuat kita mengenali diri secara utuh sehingga mengetahui tujuan dan peran kita di muka bumi ini.
Fenomena pengangguran sebenarnya merupakan produk dari sistem kapitalisme yang mencengkeram. Dalam sistem ini, pendidikan diarahkan semata-mata untuk mencetak pencari kerja yang diserap oleh sistem tersebut. Ketika sistem gagal menyediakan lapangan kerja, muncullah istilah “pengangguran”. Kata ini kemudian membentuk stereotip bahwa mereka yang menganggur adalah individu yang tidak berguna, dan ilmu yang diperoleh pun menjadi tampak sia-sia. Maka, muncul keraguan: Untuk apa sekolah dan kuliah?
Benar dan salah, baik dan buruk, adalah nilai-nilai yang tidak berubah. Dari sini kita belajar bahwa dalam sejarah kehidupan, ada hal-hal yang bersifat tetap dan abadi, serta hal-hal yang bersifat berubah atau temporer. Pendidikan seharusnya diarahkan pada keduanya. Yang bersifat tetap adalah nilai-nilai kebenaran dan kebaikan, yang akan membentuk identitas sejati setiap peserta didik—yakni kesadaran akan siapa dirinya dan bagaimana ia harus menjalani kehidupan.
Bagi mereka yang telah menemukan identitas sejatinya, mereka akan tahu apa yang harus dilakukan. Dari sinilah pendidikan sejati tidak akan pernah melahirkan para penganggur.
Sementara itu, yang bersifat temporer dan terus berubah adalah keadaan atau zaman. Maka pendidikan juga harus mengajarkan kecakapan hidup yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dengan demikian, pendidikan memiliki dua rute penting:
1. Rute pertama adalah membentuk identitas sejati manusia.
2. Rute kedua adalah membangun kecakapan atau keterampilan hidup.
Keduanya harus berjalan beriringan dan seimbang. Jika rute pertama diabaikan, peserta didik akan kehilangan arah dan bingkai moral. Sebaliknya, jika rute kedua diabaikan, maka akan lahir peserta didik yang baik dan saleh, namun tidak mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan.
Permasalahan utama pada rute pertama adalah memastikan nilai-nilai yang ditanam dalam diri peserta didik sesuai dengan fitrah mereka. Jika nilai yang ditanam keliru, maka arah hidup yang ditempuh pun akan salah. Nilai-nilai itulah yang akan membentuk identitas peserta didik dan menentukan arah kehidupannya. Oleh karena itu, memastikan nilai-nilai yang benar dan baik menjadi sesuatu yang sangat penting dan mendesak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *