Padukan Lignin Hasil Isolasi Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Vitamin E, Siswa SMA Islam Hasmi Kembangkan Sediaan Tabir Surya

Bogor – Tandan kosong kelapa sawit yang selama ini dikenal sebagai salah satu limbah padat industri sawit berhasil diolah menjadi sediaan krim tabir surya oleh siswa SMA Islam Hasmi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Inovasi tersebut dikembangkan oleh Tim UVANGERS RZ yang beranggotakan Rangga Putra Sudrajat (16) dan Zaki Al Fikri Lubis (17). Keduanya didampingi oleh guru pembimbing Daffa’ Rizal Dzulfaqaar Alauddin, S.Si., M.Si.

Penelitian mereka berjudul “Optimasi Formulasi Tabir Surya Kombinasi Vitamin E dan Lignin Hasil Isolat Biomassa Kelapa Sawit sebagai Agen Fotokemopreventif dalam Mitigasi Risiko Kanker Kulit”. Penelitian tersebut tidak lagi berhenti pada tahap gagasan. Tim telah menyelesaikan proses pembuatan produk dan melakukan uji hedonik untuk mengetahui tingkat penerimaan panelis terhadap karakteristik krim yang dihasilkan. “Hasil penelitian sementara cukup menggembirakan karena produk sudah berhasil dibuat dan dapat membentuk sediaan krim. Uji hedonik juga menunjukkan bahwa produk memperoleh penerimaan yang baik dari panelis,” ujar Rangga Putra Sudrajat.

Penelitian ini berawal dari dua persoalan yang sering dipandang terpisah, yaitu risiko paparan sinar ultraviolet dan banyaknya limbah biomassa kelapa sawit. Radiasi ultraviolet atau UV dapat menyebabkan stres oksidatif dan kerusakan DNA pada sel kulit. Jika terjadi dalam waktu lama tanpa perlindungan yang memadai, paparan tersebut dapat meningkatkan risiko penuaan dini dan kanker kulit. International Agency for Research on Cancer (IARC) memperkirakan terdapat lebih dari 1,5 juta kasus baru kanker kulit di dunia pada 2022. Lembaga tersebut juga memperkirakan lebih dari 80% kasus melanoma kulit pada tahun yang sama berkaitan dengan paparan radiasi ultraviolet. Di sisi lain, tandan kosong kelapa sawit masih memiliki komponen alami yang dapat dimanfaatkan. Salah satunya adalah lignin, yaitu polimer alami yang terdapat dalam dinding sel tumbuhan. Lignin memiliki struktur aromatik yang membuatnya mampu menyerap sebagian radiasi ultraviolet. Kandungan gugus fenolik di dalamnya juga berpotensi memberikan aktivitas antioksidan.

Prototipe krim tabir Surya kombinasi vitamin E dan Lignin ditampilkan bersama tandan kosong kelapa sawit yang menjadi bahan baku penelitian .

“Kami melihat lignin bukan hanya sebagai bagian dari limbah biomassa. Bahan ini mempunyai karakteristik yang berpotensi dikembangkan sebagai penyerap sinar UV sekaligus antioksidan,” kata Rangga.

Dalam penelitian ini, lignin hasil isolasi dari tandan kosong kelapa sawit dipadukan dengan vitamin E atau alfa-tokoferol. Vitamin E dipilih karena dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan telah banyak digunakan dalam produk perawatan kulit. Menurut Zaki Al Fikri Lubis, lignin dan vitamin E mempunyai fungsi yang saling melengkapi. Lignin diarahkan sebagai bahan penyerap radiasi UV, sedangkan vitamin E diharapkan membantu mengurangi stres oksidatif akibat pembentukan radikal bebas. “Kami tidak hanya ingin membuat krim dari lignin. Kami mencoba mengombinasikannya dengan vitamin E agar formula memiliki potensi fotoprotektif dan aktivitas antioksidan yang lebih baik,” ujarnya.

Proses pembuatan diawali dengan isolasi lignin dari tandan kosong kelapa sawit menggunakan metode alkaline pulping. Lignin kemudian dimurnikan sebelum dicampurkan dengan vitamin E ke dalam basis krim. Basis krim yang digunakan terdiri atas asam stearat, setil alkohol, gliserin, trietanolamin, dan akuades. Seluruh bahan dicampurkan melalui proses emulsifikasi hingga membentuk sediaan krim. Tim juga melakukan pengukuran pH untuk memastikan karakteristik formula berada pada kisaran yang ditargetkan. Selain itu, kondisi fisik krim diamati untuk melihat warna, aroma, tekstur, homogenitas, dan kemungkinan terjadinya pemisahan fase. Setelah produk berhasil dibuat, Tim UVANGERS RZ melakukan uji hedonik. Pengujian ini digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaan dan penerimaan panelis terhadap karakteristik sensori produk.

Aspek yang dinilai meliputi warna, aroma, tekstur, kenyamanan, dan sensasi krim ketika diaplikasikan. Berdasarkan keterangan tim, hasil pengujian menunjukkan tingkat penerimaan yang memuaskan. “Panelis dapat menerima karakteristik produk yang kami buat. Penilaian tersebut menjadi hal penting karena produk tabir surya tidak hanya membutuhkan fungsi perlindungan, tetapi juga perlu memiliki tekstur, aroma, dan kenyamanan yang dapat diterima pengguna,” kata Zaki.

Hasil uji hedonik memberikan gambaran bahwa prototipe memiliki karakteristik fisik yang cukup disukai panelis. Meski demikian, pengujian tersebut tidak digunakan untuk mengukur kemampuan krim dalam melindungi kulit dari radiasi ultraviolet. Guru pembimbing, Daffa’ Rizal Dzulfaqaar Alauddin, menegaskan pentingnya membedakan penerimaan panelis dengan efektivitas produk. “Uji hedonik menjawab apakah produk disukai dan dapat diterima dari sisi warna, aroma, serta teksturnya. Penelitian sebelumnya juga sudah mengungkapkan jika krim dari TKKS memiliki nilai SPF 15,14 dan aktivitas antioksidan hingga 68 persen.” jelas Daffa’.

Keberhasilan menghasilkan prototipe menjadi capaian penting bagi tim. Hasil uji hedonik yang memuaskan juga memberikan gambaran awal bahwa karakteristik fisik krim dapat diterima panelis. Tim masih perlu memperkuat hasil penelitian melalui data kuantitatif. “Kami senang karena gagasan ini sudah berhasil diwujudkan menjadi produk. Harapan kami, penelitian ini dapat terus dikembangkan dan memberikan alternatif pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit menjadi bahan yang lebih bernilai,” tutup Rangga. (Tim)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *