bogorOnline.com-KLAPANUNGAL
Belum apa-apa Program ketahanan pangan (Ketapang) pembesaran domba melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Nambo, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor sudah mati dan rugi.
Hal itu seperti dijelaskan, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Nambo Nesin Minda mengatakan, memang yang mati domba ada dua ekor dari total tiga puluh. Sedangkan
terkait untung ruginya setelah ada penjualan mungkin ada hitungannya.
“Terkait yang mati mungkin kita anggap usaha rugi juga,” katanya saat dihubungi melalui WA (WhatsApp) pribadinya Selasa (13/01/26).
Sebelumnya, Kepala Desa (Kades) Nambo, Nanang, menjelaskan bahwa dana tersebut telah masuk secara bertahap ke BUMDes dan digunakan untuk menjalankan program pembesaran domba yang berlokasi di RT 09/05. Program ini memanfaatkan lahan seluas 400 meter persegi dan mulai beroperasi dalam hitungan bulan terakhir.
“Dana yang sudah masuk sekitar 200 jutaan untuk pembesaran domba. Saat ini baru berjalan beberapa bulan dan baru membeli lima belas bibit domba,” ujar Nanang saat ditemui bogorOnline.com, di lokasi Selasa (09/13/25).
Nanang menambahkan, bahwa pihaknya belum dapat berbicara mengenai keuntungan karena program masih dalam tahap awal. Fokus sementara adalah menstabilkan operasional dan memastikan perawatan serta pengembangan ternak berjalan baik. Dimana program pembesaran domba ini diharapkan menjadi salah satu penguatan ekonomi desa melalui sektor peternakan, sekaligus membuka peluang pemberdayaan bagi warga sekitar. Desa menargetkan jumlah ternak dan kapasitas usaha dapat meningkat seiring berjalannya waktu.
“Kita belum bisa bicara soal untung karena baru berjalan,” tambahnya.(rul)






