FEB UIKA Gelar EBICON ke-5, Bahas Strategi Ketahanan Bisnis di Era Disrupsi Digital

BOGORONLINE.com – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor menggelar The 5th Economy and Business Conference (EBICON) bertema “Digital Innovation and Creative Economy: Building Resilient Businesses in the Age of Disruption” di Auditorium Prof. Abdullah Siddiq, S.H., UIKA Bogor, pada Kamis (16/7/2026) lalu.

Konferensi internasional tahunan tersebut diselenggarakan secara hybrid, memadukan kehadiran peserta secara luring dan daring. EBICON ke-5 menjadi wadah pertukaran gagasan yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, serta pemangku kebijakan dari berbagai negara untuk membahas strategi membangun ketahanan bisnis melalui inovasi digital di tengah percepatan disrupsi teknologi.

Kegiatan ini diikuti lebih dari 200 peserta secara langsung di auditorium dan lebih dari 100 peserta melalui platform daring.

Pembukaan konferensi dilakukan oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik UIKA Bogor, Maimunah Sa’diyah, yang hadir mewakili Rektor UIKA Bogor. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai pusat inovasi yang mampu menjawab tantangan perubahan ekonomi global.

“Transformasi digital telah mengubah total cara kita belajar, bekerja, dan berbisnis. Kreativitas dan kepemimpinan adaptif kini menjadi modal krusial. UIKA Bogor terus berkomitmen menjadi jembatan yang menghubungkan riset akademis dengan kebutuhan nyata industri melalui kolaborasi internasional seperti ini,” tegas Maimunah.

Sementara itu, Dekan FEB UIKA Bogor, Immas Nurhayati, mengatakan era disrupsi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai momentum untuk menciptakan peluang baru melalui inovasi.

“Inovasi digital dan penguatan ekonomi kreatif adalah mesin penggerak utama daya saing masa kini. Melalui EBICON ke-5, kami memfasilitasi pertukaran ide dan diseminasi hasil riset guna menghasilkan rekomendasi konkret dari berbagai negara yang pastinya bermanfaat langsung bagi para pelaku usaha, termasuk penguatan sektor UMKM,” ungkapnya.

Pada sesi utama, Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Cecep Rukendi, tampil sebagai keynote speaker. Ia memaparkan strategi nasional dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis digital sebagai salah satu fondasi pembangunan ekonomi Indonesia di tengah pesatnya transformasi teknologi.

Konferensi juga menghadirkan sejumlah akademisi internasional yang membagikan perspektif mengenai inovasi dan ketahanan bisnis.

Dari Tokyo Gakuen University, Jepang, Jun Kumamoto melalui materi “Japanese Lessons for Resilient Creative Business in the Age of AI Platforms” menyoroti pentingnya model bisnis yang berorientasi pada pemasaran dan adaptasi teknologi.

“Pelajaran berharga dari Jepang menunjukkan bahwa pemanfaatan model Direct-to-Consumer (D2C), sistem pembayaran digital, serta kreativitas digital merupakan instrumen utama yang membantu perusahaan untuk belajar, saling terhubung, dan cepat beradaptasi di bawah tekanan disrupsi platform kecerdasan buatan (AI),” ujarnya.

Dari Ming Chi University of Technology, Taiwan, Jau-Rong (Kelly) Chen mengangkat tema “Sustainable Digital Innovation in Emerging Economies: A University Social Responsibility Perspective from Taiwan”.

Ia menilai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memperluas akses terhadap teknologi melalui konsep University Social Responsibility (USR).

“Inovasi digital berkelanjutan di negara-negara berkembang harus didorong kuat oleh institusi pendidikan tinggi. Melalui perspektif University Social Responsibility (USR), universitas bertanggung jawab menjembatani inklusi teknologi demi kesejahteraan sosial masyarakat sekitar,” jelasnya.

Sementara itu, Felina C. Young dari Philippine Women’s University menekankan bahwa perusahaan perlu membangun fondasi yang kuat agar mampu bertahan menghadapi perubahan.

“Ketangguhan bisnis di era ekonomi kreatif menuntut organisasi untuk memiliki tiga pilar pertahanan utama: strategi inovasi yang berkesinambungan, komitmen terhadap keberlanjutan (sustainability), serta kepemimpinan yang lincah (agile leadership) dalam mengelola risiko disrupsi,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Cordelia Mason dari Universiti Kuala Lumpur melalui materi “Industry 4.0 and Smart Business Transformation”.

“Transformasi bisnis cerdas di era Industri 4.0 harus berlandaskan pada efisiensi proses kerja dan akurasi pengambilan keputusan berbasis data,” ujarnya.

Dari Indonesia, Asti Marlina dari UIKA Bogor memaparkan pentingnya transformasi digital bagi keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“UMKM adalah tulang punggung ekonomi yang harus segera disuntik dengan penguatan teknologi dan kemampuan manajerial agar mereka tidak tergilas dalam ekosistem digital,” tuturnya.

Selain sesi pleno, EBICON ke-5 juga menggelar Parallel Sessions dalam rangka Call for Papers. Lebih dari 30 pemakalah dari berbagai perguruan tinggi berpartisipasi, di antaranya Universitas Jambi, Universitas Pakuan, Universitas Djuanda, Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan Bogor, serta Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Menutup rangkaian kegiatan, Wakil Dekan III FEB UIKA Bogor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Dakwah, Mohammad Jibriel Avessina menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya konferensi tersebut.

“EBICON ke-5 membuktikan bahwa ketahanan bisnis hari ini tidak lagi ditentukan oleh besarnya modal semata, melainkan oleh keberanian melakukan inovasi teknologi dan kesiapan berkolaborasi. Terima kasih kepada seluruh pihak yang menyukseskan acara ini,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *