BPBD Kota Bogor Gelar Aksi Hijau, Perkuat Mitigasi Bencana

BOGORONLINE.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor memperkuat upaya mitigasi bencana melalui kegiatan Aksi Hijau di Kelurahan Ciparigi, Kecamatan Bogor Utara, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2026 sekaligus mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

 

Aksi yang dipusatkan di Kantor Kelurahan Ciparigi tersebut meliputi penanaman pohon, pembersihan aliran sungai, serta pelayanan pengobatan tradisional gratis bagi masyarakat dengan menggandeng praktisi Thibbun Nabawi.

 

Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur lintas sektor melalui pendekatan pentahelix, di antaranya Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor, Kecamatan Bogor Utara, Kelurahan Ciparigi, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Bogor, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bogor, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana), serta Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Ciparigi.

 

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko, mengatakan kegiatan lapangan difokuskan di sekitar aliran sungai dan fasilitas umum yang berada dalam radius sekitar 50 hingga 100 meter dari Kantor Kelurahan Ciparigi.

 

Menurutnya, Aksi Hijau bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat agar mitigasi bencana menjadi kebiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan.

 

“Poin utamanya adalah bagaimana kita memasifkan edukasi dan aksi mitigasi secara konsisten. Mitigasi yang terus kita rawat dan jaga ini menjadi indikator penting ketangguhan kota. Pohon yang kita tanam hari ini mungkin tidak langsung kita rasakan manfaatnya sekarang, melainkan untuk anak cucu kita kelak,” ujar Dimas.

 

Ia menjelaskan, penanaman pohon juga memiliki fungsi ekologis sebagai penahan tanah secara alami, terutama di kawasan dengan kondisi tanah terjal yang berpotensi mengalami longsor. Upaya tersebut dinilai dapat menjadi salah satu alternatif mitigasi berbasis alam tanpa harus selalu mengandalkan konstruksi beton yang membutuhkan biaya besar.

 

Dimas mengungkapkan, berdasarkan imbauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kota Bogor mulai menghadapi peningkatan curah hujan dengan intensitas yang bervariasi, mulai dari rendah, menengah hingga tinggi.

 

Menghadapi potensi cuaca ekstrem tersebut, BPBD Kota Bogor terus mengingatkan masyarakat melalui slogan penanggulangan bencana, yakni “Kenali Potensinya, Kurangi Risikonya.”

 

“Masyarakat perlu mengenali potensi bahaya di sekitarnya. Jika angin kencang dan hujan deras, risikonya adalah pohon tumbang atau atap rumah berterbangan. Untuk wilayah rawan perbukitan, ada potensi tanah longsor. Sedangkan untuk banjir, karakteristik di Kota Bogor umumnya adalah banjir lintasan yang seketika surut dalam kurun waktu beberapa jam setelah hujan mereda,” jelasnya.

 

Sebagai bagian dari penguatan mitigasi hingga tingkat masyarakat, BPBD Kota Bogor juga terus mengembangkan Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana). Hingga Oktober 2026, tercatat sebanyak 39 Keltana telah terbentuk di seluruh wilayah Kota Bogor.

 

Dimas menyebut keberadaan Keltana memiliki peran strategis karena menjadi garda terdepan dalam menyampaikan informasi dan merespons potensi bencana di lingkungan masing-masing.

 

“Teman-teman Keltana ini adalah first responder di lapangan. Penyampaian informasi yang cepat dan akurat di tingkat awal akan menentukan keberhasilan penanganan darurat dan langkah keberlanjutan. Keltana bukan sekadar bergerak saat tanggap darurat, tetapi juga menjadi corong BPBD untuk menyebarkan ‘virus’ mitigasi dan kesiapsiagaan kepada warga,” tegasnya.

 

Selain memperkuat kesiapsiagaan lingkungan, BPBD Kota Bogor mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan keselamatan saat hujan deras dan angin kencang.

 

Pengendara kendaraan bermotor diminta menghindari lokasi parkir maupun tempat berteduh di bawah pohon rindang karena berisiko tertimpa pohon tumbang. Apabila jarak pandang terbatas, pengendara disarankan menepi di tempat yang aman.

 

Sementara itu, pejalan kaki diimbau tidak berlindung di bangunan atau area yang berpotensi roboh maupun lokasi terbuka yang rawan sambaran petir.

 

BPBD juga mengajak masyarakat menjaga kebersihan saluran drainase dan aliran sungai agar tidak tersumbat sampah. Kepedulian serta semangat gotong royong antarwarga dinilai menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak bencana.

 

“Insya Allah, warga Bogor yang guyub dan bergotong royong akan senantiasa ditangtayungan serta dijauhkan dari marabahaya,” ungkap Dimas.

 

Di lokasi yang sama, Lurah Ciparigi, Denny Ardiansyah, menyambut baik pelaksanaan Aksi Hijau yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dan instansi terkait.

 

Ia mengatakan, Pemerintah Kota Bogor terus melakukan pembenahan sistem pengelolaan sampah di wilayah Kelurahan Ciparigi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengoptimalkan keberadaan dua lokasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).

 

Denny juga menyoroti pentingnya koordinasi lintas wilayah dalam menangani persoalan sampah, khususnya di kawasan perbatasan antara Kota Bogor dan Kabupaten Bogor.

 

“Kami terus menjalin komunikasi dan koordinasi yang sinergis dengan pihak Desa Pasir Jambu (Kabupaten Bogor) serta tokoh masyarakat sekitar. Mengenai aktivitas Pedagang Kaki Lima (PKL) maupun pengelolaan sampah di area perbatasan, kami berupaya mengomunikasikannya dengan pengelola dan paguyuban setempat agar sampah tidak dibuang sembarangan ke aliran sungai yang melintasi Ciparigi,” kata Denny.

 

Selain pengelolaan sampah, pihak kelurahan bersama Pemerintah Kota Bogor juga telah membangun fasilitas pedestrian untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pejalan kaki.

 

Dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem yang kerap terjadi pada sore hingga malam hari, Kelurahan Ciparigi mengoptimalkan koordinasi melalui jaringan komunikasi digital bersama para Ketua RW.

 

“Kami terus siaga melalui grup komunikasi bersama para Ketua RW. Setiap ada potensi hujan deras atau angin kencang, informasi langsung direspons secara cepat. Logistik dan lumbung sosial di tingkat kecamatan juga sudah disiapkan dengan baik untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan,” pungkasnya.

 

Melalui kegiatan Aksi Hijau, BPBD Kota Bogor berharap kolaborasi pemerintah, komunitas, organisasi masyarakat, dan warga dapat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih aman dan tangguh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *