JAKARTA – bogoronline.com – Itulah janji Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, saat berbicara di hadapan wartawan, Jumat (14/10) lalu. Yang akan membayar Rp 20 ribu per ekor tikus menjadi kebjakan yang paling aneh dan jadi trending topik para netijen.
“Satu tikus, kita berikan insentif Rp20.000,” kata Jarot, usai sholat Jumat di sebuah masjid di Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur.
Mantan wali kota Blitar ini, rupanya, tidak sedang berkelakar. Dengan mimik serius, dia mengaku sudah mengenalkan gagasannya itu kepada semua lurah dan camat di ibu kota.
“Namanya GBT, Gerakan Basmi Tikus,” katanya, lantang.
Tugas menangkap tikus ini bisa saja dilakukan oleh petugas dinas terkait, akan tetapi masyarakat biasa bisa melakukannya dengan imbalan yang sama, katanya.
“Nanti biar (bangkai tikusnya) dikumpulkan oleh Dinas Kebersihan,” ungkapnya tanpa menjelaskan detail teknisnya. Lalu,” dihitung buntutnya”.
Lantas akan dikemanakan bangkai tikus-tikus (atau ekornya semata) itu? Belum jelas. Djarot hanya mengatakan, akan dikubur di lahan tertutup. “Bisa dimanfaatkan menjadi pupuk kan.”
‘Tikus Jakarta gede-gede’
Gagasan melibatkan masyarakat membasmi tikus, menurutnya, dilatari masalah populasi tikus di Jakarta yang disebutnya masuk “kategori mengkhawatirkan”.
Apabila hewan mengerat itu dibiarkan, Djarot mengatakan, “Kalau tikus mengigit bayi, itu bahaya sekali.”
Lagi pula, “Tikus di Jakarta itu gede-gede,” ungkapnya seraya menceritakan pengalaman ‘mengerikan’ ditabrak tikus gede alias besar saat berkunjung ke wilayah Johar Baru, Jakarta.
Dari mana anggaran untuk hadiah bagi orang-orang yang berhasil menggondol tikus? Tanya wartawan.
Semula, Djarot mengatakan uang itu dari kantong pribadinya, tetapi dia belakangan mengoreksinya. Dia juga menegaskan bahwa yang dibasmi adalah tikus besar.
“Anggarannya ada di Biro Umum, ada juga mungkin di Dinas Pertamanan, makanya mereka akan koordinasi bagaimana kemudian actionnya di lapangan,” katanya, Rabu (19/10).
Hal itu dia tegaskan setelah ada kritikan dari sejumlah politikus di DPRD Jakarta yang menuduh gagasan membasmi tikus itu ‘akal-akalan’ Djarot menjelang Pilkada DKI Jakarta.
Tikus dari luar Jakarta?
Gagasan membasmi tikus yang dilontarkan Djarot Saiful Hidayat, rupanya, belum banyak diketahui oleh sejumlah pejabat terkait di Jakarta.
“Kita mendengarnya dari media,” ungkap Wakil Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim saat dihubungi wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Rabu (19/10) siang.
Dia juga mengaku pihaknya belum pernah diajak rapat untuk membahas mekanisme GBT.
“Tapi, kita akan mensupport (mendukung) kegiatannya, terutama pembuangannya (bangkai tikus),” tambah Ali.
Lebih lanjut Ali mengharapkan agar digelar rapat khusus untuk membahas aspek rinci dari gagasan tersebut.
“Misalnya, yang belum jelas itu, seperti apa teknis teknis penguburannya, karena bangkai tikus tidak bisa dibuang begitu saja.”
“Panduannya harus jelas, jangan sampai programnya baik, tapi karena belum dirapatkan, nanti hasilnya tidak tepat sasaran dan ada ekses atau masalah baru,” paparnya.
Dengan tertawa kecil, Ali kemudian memberikan contoh, “Kita harus memastikan bahwa tikus itu dari Jakarta. Jangan sampai nanti ada orang bawa buntut tikus dari mana-mana (luar Jakarta).”(bo/bbc.com)





