Rumpin – bogoronline.com – Meski Kecamatan Rumpin dikenal memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah ruah dan dieksploitasi perusahaan besar, namun ironisnya kekayaan alam itu tidak serta merta dinikmati rakyatnya, karena diperkirakan ada ratusan atau bahkan ribuan kepala keluarga di Rumpin yang terpaksa bekerja serabutan, seperti membuat tusuk sate, semisal yang dilakoni Enur.
Nenek tiga cucu berusia sekitar 43 tahunan ini, terpaksa menjalani profesi sebagai pembuat tusuk sate dengan memanfaatkan potongan bambu bekas yang dibuang perajin kursi. “Walau tak besar, tapi penghasilan dari membuat tusuk sate ini minimal bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari lah,” kata Enur, saat disambangi wartawan di rumahnya, Minggu (09/10).
Menjadi tukang pembuat tusuk sate, bagi warga Kampung Pranala RT 02/07, Desa Kertajaya ini pilihan terakhir. “Inginnya sih kerja lain, tapi gimana, keahlian tak punya, jadi membuat tusuk sate lah pilihan terakhir, yang penting masih mendapatkan penghasilan,” ujar Enur.
Dalam sehari Enur bisa membuat 1.000 batang tusuk sate, hasil jerih payahnya itu hanya dihargai Rp 10.000. “Dari 1.000 tusuk sate itu dibagi kedalam lima ikat, jadi masing-masing ikat berjumlah 200 tusuk, satu ikat dihargai pengepul sebesar Rp 2.000,” ungkapnya.
Enur sendiri mengaku menggeluti usaha pembuatan tusuk sate saat usianya masih dibawah 30 tahun dengan tujuan membantu menambah penghasilan keluarga, karena kalau mengandalkan suaminya jelas tak akan cukup.
Namun usaha yang digelutinya sekarang ini mengalami kendala ketersedian bahan baku bambu. “Dulu mah kan bahan baku gampang, harganya pun murah, tapi sekarang susah didapatkan, kalau pun ada harganya cukup mahal, tak sebanding dengan keuntungan yang didapatkan Ini disebabkan lantaran hutan-hutan bambu di Rumpin mulai sedikit, karena bukit-bukit tempat si pohon bambu tumbuh dieksploitasi untuk diambil batunya,” ungkapnya.
Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) meski Rumpin kaya SDA, tapi ironisnya di kecamatan ini jumlah penduduk miskinnya sangat tinggi, bahkan dari 40 kecamatan, Rumpin bertengger diurutan pertama. “Di Rumpin jumlah keluarga miskinnya mencapai 4.117 kepala keluarga,” Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial, Bappeda, Emy Sriwahyuni.
Ketua Komisi II Yuyud Wahyudin menyoroti, soal Rumpin yang berada ditingkat pertama, yang jumlah keluarga miskinnya paling banyak. “Seharusnya dengan Sumber Daya Alam (SDA) melimpah, jumlah rakyat atau keluarga miskin di Rumpin lebih sedikit dibandingkan kecamatan minim SDA. Ini pasti ada hal yang salah, dalam pengelolaan dan pengekploitasian SDA di Rumpin,” ungkapnya. n ZAH





