Akan Ada Rusunami Dekat Stasiun Bogor, Harganya Mulai Rp 6,5 Juta

BOGOR- Perum Perumnas bakal membangun Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami) di area dekat dengan Stasiun Bogor milik PT KAI di atas lahan seluas 42.038 meter persegi. Total, bakal tersedia 3.600 unit dari enam tower yang direncanakan 2017 mendatang.

Tidak cuma Stasiun Bogor, Stasiun Pondok Cina yang berlokasi di Depok juga akan ada dua tower yang dibangun di atas lahan seluas 5.539 meter persegi dengan total unitnya mencapai 520 unit.

Ini sebagai upaya pengembangan kawasan yang terintegrasi dan inklusif berbasis Transit Oriented Development (TOD). Untuk tahap perdana, ada tiga stasiun yang menjadi lokasi pembangunan, yaitu Stasiun Bogor, Stasiun Tanjung Barat dan Stasiun Pondok Cina.

Sementara Stasiun Tanjung Barat yang berlokasi di Lenteng Agung, akan ada 860 unit rusunami dalam dua tower di atas lahan seluas 10.450 meter persegi.

Adapun luas dari tiap unit berbeda-beda, mulai dari tipe kecil ukuran 21 meter persegi hingga 45 meter persegi, dengan harga Rp 6,5 juta-13 juta per meter persegi. Pemanfaatan lahan sendiri akan menggunakan konsep Hak Guna Bangunan (HGB) dengan jangka waktu pemakaian 30 tahun, dan bisa perpanjangan.

“Dia bisa memakai selama 20-30 tahun, tapi bisa diperpanjang lagi,” kata Direktur Utama Perum Perumnas, Bambang Triwibowo di Stasiun Juanda, Jakarta, dilansir detikcom, Senin (19/12/2016).

Proyek rusunami ini sendiri juga memakai fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) yang menyasar Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Sekitar 30 hingga 40% hunian akan diperuntukkan bagi program subsidi perumahan, FLPP.

“Kita berusaha mengurangi pengeluaran biaya transportasi. Karena kalau dari rumah jalan ke stasiun mungkin habis untuk naik motor dulu. Saya dengar 7.000-10.000 per hari. Belum bensinnya. Kalau dikali 30 hari cukup banyak. Kalau sasaran market kita orang berpenghasilan Rp 2,5 juta-Rp 3 juta itu sudah cukup signifikan,” ungkap dia.

“Jadi dengan mereka tinggal di sini, maka biaya-biaya itu akan hilang. Jadi mereka bisa gunakan kelebihan selain untuk menyicil, bisa untuk biaya-biaya pendidikan anaknya dan kita bisa mengurangi kemacetan, dengan mengurangi banyak motor,” tandasnya.

Ketiga proyek TOD tersebut akan menyediakan sekitar 5.000 unit hunian baru yang akan menelan investasi sekitar Rp 2 triliun. Diharapkan groundbreaking bisa dilakukan pada kuartal pertama 2017 mendatang, dan selesai hingga empat tahun selanjutnya. (cex/dtc)