JAKARTA- Penolakan warga atas pendirian pabrik semen di pegunungan Kendeng, eks keresidenan Pati, Jawa Tengah, dibuktikan dengan aksi semen kaki oleh warga sekitar yang mayoritas petani. Sayangnya, aksi tersebut berbuntut pada kematian Patmi, salah seorang massa aksi.
Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pun menyikapi kejadian tersebut, dengan mengadakan diskusi terbuka dengan tema “Sikap Mahasiswa UIN Jakarta terkait Pelanggaran HAM dan Aksi Kamisan” di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (22/3).
Presiden Mahasiswa UIN Jakarta, Riyan Hidayat mengaku prihatin terhadap persoalan yang menimpa petani Kendeng. Ia mengatakan, kondisi ini adalah tanda bahwa pemerintah saat ini tidak mempunyai hati dan perasaan.
“Kita sangat prihatin dengan masalah yang menimpa warga petani Kendeng khususnya almarhumah ibu Patmi yang telah gugur dalam perjuangannya membela hak rakyat. Kalau dengan kondisi semacam ini pemerintah masih bungkam, berarti ini adalah salah satu tanda bahwa pemerintahan memang sudah tidak memiliki hati dan perasaan terhadap rakyat kecil,” ungkapnya miris.
Sementara, Ketua Bidang Advokasi DEMA UIN Jakarta, Afif Kurniawan, mengatakan, bahwa cara penyelesaian masalah oleh negara tak lebih layaknya dagelan semata.
“Bagi saya, penyelesaian negara pada kasus kendeng saat ini adalah dagelan, akrobat politik yg tidak menyelesaikan masalah. Kami sedih dan marah karna pemerintah tidak ada rasa malu dan bersalah serta lepas tangan atas perjuangan warga kendeng,” ujarnya.
Selanjutnya, Riyan mengatakan pihaknya akan terus melakukan konsolidasi dalam rangka membantu petani kendeng memperjuangkan suaranya. Dan dalam waktu dekat ini pihaknya bersama BEM Kampus lainnya akan melakukan aksi besar-besaran di depan Istana Negara.
“Hari ini kita terus melakukan konsolidasi dalam rangka ikut memperjuangkan suara warga petani Kendeng. Kawan-kawan BEM Fakultas sedang kita komunikasikan. Setelah ini kita akan melakukan konsolidasi dengan BEM kampus lainnya. Dan dalam waktu dekat ini kita akan melakukan aksi besar-besaran di depan istana negara. Supaya pemerintah paham, kalau rakyat sudah bersatu, mereka bukanlah siapa-siapa,” pungkasnya. (cex)





