BOGORONLINE.com, Tamansari – Komunitas sejarah dan budaya lokal, Bogor Historia (BoHis), melakukan ekspedisi ke kawasan Pasir Kaca dan mencari Goa Kristal yang terletak di Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya komunitas tersebut dalam menelusuri jejak-jejak warisan budaya, sejarah lokal, serta potensi situs arkeologi di kawasan kaki Gunung Salak, sekalipun wilayah tersebut sebelumnya telah pernah dijelajahi.
Ekspedisi yang berlangsung pada pertengahan September ini melibatkan sembilan orang anggota BoHis, termasuk para jurnalis dan pegiat budaya. Mereka menjelajahi beberapa lokasi yang diyakini memiliki nilai historis dan kultural, termasuk wilayah yang dikenal masyarakat setempat sebagai Pasir Kaca, serta jalur menuju Goa Kristal dan aliran Sungai Ciapus Kecil.
Sekretaris BoHis, Eko Hadi Lesmono, menjelaskan bahwa meskipun lokasi yang ditelusuri bukanlah wilayah baru yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, ekspedisi tetap memberikan wawasan baru bagi tim, khususnya dalam menggali informasi mengenai sisa-sisa aktivitas budaya masa lampau yang belum banyak terdokumentasikan secara akademis.
“Dalam ekspedisi kali ini, kita memang tidak menemukan temuan arkeologis yang luar biasa, namun ada beberapa indikasi aktivitas budaya masa lalu yang menarik. Di lokasi yang disebut sebagai Pasir Kaca, kami menemukan sejumlah perlengkapan ritual seperti dupa, telur, dan minyak yang ditinggalkan begitu saja tanpa dibersihkan. Ini menunjukkan bahwa tempat tersebut masih digunakan untuk kegiatan spiritual oleh masyarakat tertentu,” ungkap Eko, Kamis (12/9/2017).
Lebih lanjut, Eko menyebutkan bahwa situs Pasir Kaca memiliki kemiripan dengan beberapa situs megalitikum lain di wilayah Kabupaten Bogor, seperti Cibalay dan Calobak. Ia menggambarkan struktur situs tersebut sebagai sebuah panggung berundak setinggi kurang lebih 30 cm, dengan batu pipih di bagian tengahnya, yang diduga memiliki fungsi seremonial atau ritual tertentu.
“Situs ini dari segi bentuk dan struktur sangat mirip dengan situs megalitik lain yang pernah kita telusuri, baik dari sisi susunan batu maupun penempatan geografisnya. Meski tidak ada data resmi dari arkeolog, kita menduga tempat ini digunakan sebagai ruang pemujaan atau pusat kegiatan ritual tertentu,” tambah Eko yang juga dikenal sebagai jurnalis budaya.

Sementara itu, Ketua Tim Ekspedisi BoHis, Iman Abdurahman, mengungkapkan bahwa kegiatan penelusuran kali ini juga mencakup penyusuran jalur Sungai Ciapus Kecil yang masih berada dalam kawasan situs Pasir Kaca. Sayangnya, beberapa titik penting yang ditargetkan tidak berhasil ditemukan akibat medan yang cukup menantang serta keterbatasan waktu.
“Kami menyusuri area sekitar Pasir Kaca sambil melakukan pembersihan terhadap sampah dan sisa perlengkapan ritual yang ditinggalkan. Kami melihat pentingnya menjaga kebersihan situs agar tetap lestari. Ini adalah bagian dari etika menjelajah situs sejarah,” kata Iman yang juga merupakan jurnalis senior MGS TV.
Ia menambahkan bahwa ekspedisi kali ini baru merupakan tahap awal. Rencananya, BoHis akan melanjutkan eksplorasi ke tahap kedua dengan menjadikan area sekitar Gunung Salak sebagai lokasi utama.
“Ekspedisi tahap dua sedang dalam perencanaan. Lokasinya masih kami bahas bersama tim teknis. Jika semuanya berjalan lancar, kita juga akan membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk bergabung dalam ekspedisi berikutnya. Tentunya dengan syarat dan ketentuan tertentu yang harus dipenuhi,” ungkap Iman.
Dalam rencana pembukaan ekspedisi tahap dua untuk publik, Iman menyampaikan pentingnya kesiapan fisik dan mental bagi calon peserta. Mengingat medan di kawasan Gunung Salak tergolong menantang, ia menegaskan bahwa peserta harus memiliki stamina prima serta kesiapan menghadapi kondisi alam terbuka yang tidak terduga.
“Ekspedisi ini bukan sekadar jalan-jalan. Ini adalah perjalanan ilmiah sekaligus spiritual yang menuntut kesiapan penuh dari semua peserta. Kita akan masuk ke wilayah yang cukup terjal, lembab, dan belum terjamah oleh infrastruktur wisata. Jadi, kita harus benar-benar siap,” tandasnya.

Kegiatan ekspedisi ini juga didukung oleh tokoh budaya lokal, Mardhy Hidayatul Fauzan, yang memberikan arahan awal serta latar belakang sejarah mengenai situs yang akan dieksplorasi. Mardhy, yang merupakan budayawan sekaligus penduduk asli Desa Tamansari, memberikan informasi mengenai asal-usul nama Pasir Kaca dan berbagai mitos yang melekat pada situs tersebut.
Menurut Mardhy, istilah Pasir Kaca bukan merujuk pada material kaca secara harfiah, melainkan merujuk pada kilauan alami bebatuan kuarsa yang terdapat di daerah tersebut. Batu-batu tersebut sering kali tampak berkilau ketika terkena sinar matahari, sehingga oleh masyarakat sekitar disebut sebagai “kaca”.
Selain aspek budaya, ekspedisi ini juga menyoroti pentingnya konservasi lingkungan. Kawasan yang dijelajahi BoHis dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, termasuk vegetasi khas hutan hujan tropis serta aliran sungai alami yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar.
Dalam ekspedisi tersebut, selain Eko Hadi Lesmono dan Iman Abdurahman, turut serta beberapa anggota lainnya, yakni RZ Bunai, Handy Maung (Mehonk), Adit, Robby Firliandoko, Rangga, M. Andi (PFI), dan Rachmat Angga Syahputra. Seluruh peserta berkomitmen untuk menjaga etika penelusuran situs dengan prinsip “tidak mengambil, tidak merusak, dan tidak meninggalkan jejak yang merugikan”.
Komunitas BoHis sendiri dikenal aktif dalam kegiatan pelestarian sejarah lokal, edukasi publik tentang arkeologi dan budaya, serta kampanye pelestarian situs-situs yang terancam oleh pembangunan maupun vandalisme. Kegiatan mereka tidak hanya terbatas pada eksplorasi, tetapi juga dokumentasi, penulisan artikel ilmiah populer, hingga penyuluhan ke sekolah-sekolah dan komunitas pemuda.
Dengan terlaksananya Ekspedisi Pasir Kaca ini, BoHis berharap dapat meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya lokal. Mereka juga membuka peluang bagi para peneliti, akademisi, maupun komunitas lain yang ingin terlibat dalam kolaborasi pelestarian situs sejarah.
“Bogor punya begitu banyak situs budaya yang belum banyak diketahui publik. Kami ingin menjadi jembatan antara masyarakat dan sejarahnya sendiri, agar generasi muda bisa lebih menghargai akar budaya lokalnya,” tutup Eko Hadi. (Nai)





