BOGORONLINE.com, Kota Bogor – Sukses di usaha kuliner tak diraih begitu saja dalam waktu singkat oleh Indra Maulana, S.AB. Perjalanan panjang, pengalaman, kerja keras dan optimisme ada dibalik kesuksesan dari usahanya hingga saat ini, warung sate maranggi NYAMAR (Nyate Maranggi).
“Bisnis itu perlu mental kuat dan pemikiran yang luas serta jangan mudah menyerah,” ujar Indra, Senin (15/6/2020).
Dari sisi bisnis, dengan ilmu yang miliki dari Administrasi Bisnis Universitas Padjadjaran Bandung, Indra mengatakan, banyak pengalaman yang dimilikinya sejak 2007. Awalnya ia membuka usaha konter pulsa sekaligus mencoba membuka jaringan MLM pulsa di kawasan kampus.
Dua tahun berikutnya atau tepatnya 2009, ia merambah di usaha kuliner dengan membuka kedai kopi bersama beberapa temannya di kawasan Jatinangor, hingga membuka mandiri di kawasan Jakarta Selatan.
“Di kawasan Jatinangor selama 2 tahun, lalu saat lulus kami semua pisah dan saya buka sendiri dikawasan Tebet, Jakarta Selatan selama 4 tahun. Dari pengalaman di bidang kuliner tersebut saya mulai buka pemikiran terhadap produk yang dijual serta pesaing,” ungkapnya.
Indra juga bercerita sempat membuka perusahaan di bidang Event Organizer (EO) setelah rehat sejenak 2 tahun dalam dunia kuliner dengan menjalani beberapa pameran atau bazaar serta mempromosikan produk mereka. Dari situ, ia banyak belajar berbagai macam produk yang diciptakan oleh UMKM di Indonesia.
“Pada tahun 2016 saya putuskan untuk kembali ke dunia kuliner, saya mengawali langkah membuka warung kopi di kawasan Puncak, Bogor bernama Pallet Cafe untuk mengumpulkan modal dengan menjual aneka kopi, indomie, jagung dan sate serta makanan berat lainnya,” imbuhnya.
Namun dalam perjalanannya, Indra biasa disapa Kang Ewok itu diajak oleh temannya yang memiliki tempat di kawasan Kota Bogor. Waktu itu, dirinya tak lantas langsung memutuskan karena berpikir untuk memilah produk yang paling laku di warung kopinya, yaitu sate maranggi.
“Bicara sate maranggi pasti sudah pada kenal khususnya di daerah Purwakarta dan dilestarikan atau dikembangkan di Cipanas sehingga menjadi kuliner khas Jawa Barat,” ungkapnya.
Soal tekad dan optimisme dalam menjalankan sebuah usaha, kata Kang Ewok, tidak ada salahnya belajar dari warung sate maranggi yang sudah terkenal baik dari bahan baku utama hingga sambalnya.
“Dari bahan baku utama yakni daging sapi serta jando atau lemak sapi itu sama namun perbedaan ada di sambal. Saya coba ciptakan resep kombinasi sambal maranggi dan brand untuk sate maranggi bersama istri. Terciptalah sebuah nama dari singkatan Nyate Maranggi “NYAMAR” yang merupakan kata umum sehingga mudah diingat. Untuk itu, saya dan istri putuskan nama sate maranggi NYAMAR,” ujarnya.
Bermodal kenekatan merintis usaha warung sate maranggi dan berbekal tempat dari temannya dengan sistem bagi hasil di kawasan Kota Bogor atau tepatnya disamping Polsek Bogor Barat pada pertengahan 2017, sate maranggi NYAMAR berjalan 4 bulan diterima oleh masyarakat Bogor dan beberapa wisatawan yang bermain ke Bogor.
“Namun bulan kelima ketika ramai, teman memutuskan untuk tidak kerjasama tempat yang akhirnya menjadi sebuah kendala namun tambah berkah karena kami menemukan tempat pengganti yang tidak jauh dari sebelumnya sehingga masih bisa dijangkau pelanggan kami,” tambahnya.
Tepat di akhir 2017, ia memutuskan pindah disamping RSUD Kota Bogor atau persisnya depan Hotel Brajamustika hingga saat ini. Bahkan awal 2020, Kang Ewok telah memiliki cabang di sekitar perumahan KRR atau Kebun Raya Residence.
“Saya setiap hari mengolah mulai dari 3 Kg daging, paling laku 1 Kg. Sisanya saya buang atau dibakar untuk makan sendiri dan saya bagikan secara gratis. Berkahnya dalam menjalani, sampai saat ini kami bisa mengolah 10 Kg daging per kedai,” ujarnya.
Lamanya berkelut di dunia usaha sedemikian itu ternyata membawa berkah tersendiri bagi dirinya, bahkan di masa pandemi Covid-19 awal tahun hingga saat ini.
“Berkah sedekah intinya Pak, saat kita dalam keadaan terjepit dan sulit, solusinya ternyata bukan menabung dan menumpuk harta, tetapi memberikan apa yang kita miliki kepada orang lain. Seadanya kita. Tidak perlu ditambah atau dikurang. Sekemampuan saja dan juga mengajak rekan, sahabat, keluarga juga teman” katanya.
Dalam masa pandemi yang ia lakukan berbagi saja disamping penjualan secara online, namun keberkahan muncul karena dipaksa untuk melangkah 1.000 kali dari sebelumnya supaya usaha bisa tetap berjalan hingga tercipta dan lahirlah sebuah konsep ide bisnis bermitra.
“Karena produknya bukan musiman dan merupakan kuliner khas Jawa Barat yang sekaligus memajukan pariwisata maka sudah menjadi keharusan untuk melindungi aset pariwisatanya dan sate maranggi merupakan salah satu aset pariwisata yang saya maksudkan,” ungkapnya.
Bak gayung bersambut, lanjutnya, ternyata konsep ide bermitra itu diterima puluhan orang untuk awal. Ia pun sudah memiliki rencana besar dalam upaya melakukan branding sate maranggi NYAMAR.
“Para pengunjung setiap harinya terus bertambah. Kalau akhir pekan kami bisa kewalahan melayani pengunjung,” paparnya.
Kini, usaha Kang Ewok bertambah besar dengan adanya puluhan mitra yang dimulai dengan bukanya sate maranggi NYAMAR di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, lalu akan lanjut Kemayoran, Jakarta Pusat, Serang, Bekasi, Depok, Cirebon, Indramayu dan lainnya.
“Diakhir saya memberikan tips bahwa modal bukan segalanya namun mental yang kuat, kerja keras dan inovasi, pantang menyerah, jalani, nikmati dan syukuri serta jangan lupa sedekah merupakan menjadi kunci kesuksesan dalam berusaha,” tutupnya. (*/Hrs)





