by

Bima Arya : Harus Bisa Membangun Sistem

BOGORONLINE.com, Kota Bogor – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menggelar Rakor Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat (KKS) 2021 di Paseban Sri Baduga, Balai Kota Bogor, Senin (30/11/2020). Rakor KSS dibuka Wali Kota Bogor, Bima Arya yang diikuti 105 peserta yang mana 75 peserta mengikuti secara zoom dan sisanya tatap muka.

Bima Arya mengatakan, pemahaman dan persepsi tentang lomba dan kegiatan bukan hanya untuk catatan penghargaan, untuk promosi jabatan atau ukuran prestasi. Sebab, jika persepsi itu menjadi motivasi utama, maka tidak akan bisa membangun sistem.

“Kalau kita menang lomba, menang penghargaan cuma bertahan satu tahun, kita tidak akan naik kelas, ikhtiar kita membangun sistem. Ketika semua bergerak secara maksimal, terintegrasi semuanya, tidak sendiri-sendiri perlu usaha maksimal semua OPD,” tegasnya.

Dia menekankan, lomba dan kegiatan seharusnya bisa membangun sistem. Sistem ini diuji ketika Covid-19 dan ikhtiar Pemkot Bogor di zaman Covid-19 membangun sistem sama-sama. Covid-19 ini menguji sistem jalan atau tidak. Saat ini, klaster perkantoran paling banyak terkena Covid-19. Jika dari dahulu sistem perkantorannya berjalan, maka tidak akan ada penularan, belum lagi berbicara permukiman yang didorong lewat kampung ABC (Aman Bencana Covid-19).

“Dapat penghargaan memang membanggakan, tapi sistem juga harus dibangun dengan ikhtiar dan bergerak bersama-sama menaikan status kota sehat, mewujudkan kota ramah keluarga,” katanya.

Pembina Forum Kota Sehat, Hanafi mengatakan, Rakor KKS 2021 ini untuk verifikasi penilaian di awal 2021, mengingat penilaian KSS dilakukan setiap dua tahun sekali. Pada penilaian KKS 2021 ini diakuinya ada perbedaan prinsip dibanding tahun-tahun. Sebut saja Payung Hukum KKS yang sebelumnya Peraturan Menteri Bersama, yakni Kemendagri dan Kemenkes berubah menjadi Peraturan Presiden (Perpres) yang saat ini tinggal ditandatangani.

“Ada perubahan penilaian juga yang tadinya hanya sembilan tatanan menjadi sepuluh tatanan, karena sekarang KKS merupakan program strategis nasional,” katanya.

Hanafi menjelaskan, penilaian dan verifikasi KSS ini untuk merubah mindset masyarakat dan merubah yang awalnya belum sehat menjadi sehat. Misalnya yang masih terjadi di Kota Bogor, Buang Air Besar (BAB) sembarangan yang tentu saja harus dihilangkan karena BAB sembarangan merupakan sumber penyakit.

Tak ayal, Pemkot Bogor bersinergi dengan stakeholder lainnya mengintervensi melalui infrastruktur, yakni pembangunan septic tank komunal untuk merubah kebiasaan masyarakat yang tidak disiplin menjadi disiplin.

“Di 2019 Kota Bogor mendapatkan predikat tertinggi Swasti Saba Wistara, tapi 2019 tatanannya masih sembilan dan aturan masih Permenkes dan Permendagri. Jadi di 2021 mempertahankan akan lebih sulit daripada meraih. Sekarang bersama-sama OPD terkait sebut saja Dinas PUPR, Disperumkim, DKPP, Disdik, Dinkes, DPMPPA, Dishub, Disdukcapil Bappeda dan Kecamatan membuat inovasi baru,” pungkasnya. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed