by

Obat Jenuh Mahasiswa Saat Pandemi

Kabar adanya virus corona masuk ke Indonesia heboh di bulan Maret 2020. Hal ini diawali oleh pernyataan Presiden Jokowi adanya kasus positif di Depok, padahal diduga virus masuk ke Indonesia minggu ke-3 bulan Januari, asumsi Pandu Riono staf pengajar FKM UI dalam ulasan detik.com (19/4). Disusul oleh seruan pemerintah pusat dan daerah untuk masyarakat agar menjaga diri di rumahnya masing-masing.

Segala aktivitas pun dilakukan dari rumah, tak terkecuali pendidikan perguruan tinggi. Aktivitas dari rumah ‘terpaksa’ dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat, meskipun belum siap dengan fasilitas teknologinya ditambah kebijakan pemerintah yang masih seruan lisan terkesan tidak terlalu berbahaya jika beraktivitas seperti biasanya.

Kemendikbud baru mengeluarkan pedoman penyelenggaraan belajar dari rumah pada 29 Mei 2020, dua bulan setelah pembelajaran dilakukan secara online. Rentang waktu yang cukup lama ini menjadikan satuan pendidikan meraba-raba dalam kegiatan belajar mengajar. Siswa, guru, mahasiswa, bahkan dosen banyak yang menunggu bahkan tidak ada pembelajaran sampai pedoman ini diterbitkan. Pendidikan nasional tidak terisi dalam dua bulan itu.

Faktanya bahwa kuliah online sudah berjalan sepuluh bulan ini, mahasiswa mengusahakan tetap masuk kelas meskipun banyak hambatan mulai dari kuota, sinyal, jaringan sampai kebutuhan smartphone. Pemberitaan mahasiswa UMM yang kuliah di pinggir jalan menarik perhatian rektor, ia haru akan perjuangan mahasiswanya, ada juga seorang ayah yang membangun tenda untuk kuliah online anaknya karena tidak ada koneksi internet di rumah sampai berita mahasiswa yang mesum saat virtual meeting.

Kuliah online yang memakai aplikasi zoom meeting cukup memberatkan bagi mahasiswa selain kuota yang tersedot banyak, kebutuhan memorinya pun perlu banyak. Survei kemendikbud membuktikan bahwa mahasiswa mayoritas ingin kuliah secara tatap muka. 90% kuliah luring diinginkan oleh mahasiswa, meskipun begitu hasil pencapaian kuliah daring menunjukan kualitas yang baik.

Keluhan mahasiswa tentang koneksi internet yang sering bermasalah, berdampak pada kualitas pemahaman materi yang minim dan pengumpulan tugas tidak tepat waktu. Hasil akhirnya adalah mereka tidak bisa mengerjakan ujian karena ketidakpahaman dari materi yang disampaikan oleh dosen.

Kejenuhan-kejenuhan yang dirasakan membuat mahasiswa mencari kegiatan lain yang lebih asik dilakukan. Seperti nonton film, main game, belajar memasak, olahraga, berbisnis, mengembangkan hobi dan lain-lain. Para mahasiswa tidak memikirkan lagi bagaimana nasib kuliahnya, mereka sudah menikmati kegiatan lain diluar dari perkuliahan.

Ada pula mahasiswa yang aktif mengembangkan program organisasi kampusnya guna melanjutkan keeksistensian yang sudah tercipta. Ini lebih menarik minat mereka, kreativitas bisa terus di asah dan feedback dari luar pun langsung dirasakan. Obat kejenuhan itu mampu menyembuhkan mahasiswa dari kekhawatirannya tentang kuliah.

Mahasiswa tidak bisa diam dalam situasi apapun, terutama ditengah pandemi ini. Jika ada masalah dijaringan internet maka mereka mencari cara untuk mengisi dirinya dengan aktivitas lain, disamping kuliah yang didapat ‘seadanya’. Pemerintah perlu menyiapkan protokol yang dapat dipakai mahasiswa untuk kuliah luring karena kondisi itu telah terbukti membakitkan semangat yang lebih bagi mahasiswa untuk belajar.

 

Ghaitsa Ranawigena

Mahasiswi Ibn Khaldun Bogor

 

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *