by

PANDEMI COVID-19 “The Lost Generation”

Oleh: Yayat Supriyatna
Praktisi Pendidikan dan Manajer Pendidikan SIT Asy – syifa Qolbu – Bogor

Ketika manusia terlempar ke Bumi, manusia akan merasakan kecemasan yang akan membuatnya berpikir “dari mana, untuk apa, dan akan kemana kehidupan ini?”. Dari sinilah manusia berpikir mencari cara bagaimana agar bisa mempertahankan dan mengembangkan kehidupannya, dari kesadaran inilah ilmu pengetahuan lahir, tumbuh, dan berkembang sebagai jawaban atas kecemasannya. Manusia mulai mengembangkan kebutuhan dan sumber daya lainnya untuk merawat, menjaga, dan mengembangkan kehidupannya.
Berbagai cara ditempuh, berbagai bentuk kegiatan dilakukan, dan berbagai sarana-prasarana kehidupan dibuat dan diadakan yang tujuan satu dan sama mempertahankan, menjaga, merawat, dan mengembangkan hidup dan kehidupan manusia. Pergerakan, perubahan, pertumbuhan, perkembangan, dan kamajuan sarana – prasarana penunjang kehidupan semakin pesat menjejali dan bahkan sampai membebani kehidupan manusia. Banyak sekali sarana-prasarana penunjang kehidupan sebenarnya tidak dibutuhkan manusia, namun keadaan memaksanya dan bahkan sampai melumpuhkan kesadaran manusia, hingga manusia tidak lagi punya cara yang benar dan baik untuk memilah dan memilih mana dari semuanya yang benar – benar dibutuhkan manusia. Dunia Pendidikan dalam hal ini sangat strategis bagi lahirnya manusia – manusia yang kreatif dan inovatif dalam mengembangkan sarana-prasarana kehidupan manusia.
Pandemic Covid-19 sebuah fenomena global yang kini menghentikan roda pergerakan dan perubahan hidup dan kehidupan manusia dihampir diseluruh dunia. Kini kehidupan tersendat sendat dan bahkan berhenti, dan lebih tragis lagi hampir melenyapkan kehidupan manusia. Penunjang sarana-prasarana dan berbagai sector kehidupan kini terbatas dan bahkan lumpuh tak bergerak, sementara kebutuhan hidup semakin sulit didapatkan. Dan sector yang paling strategis yang merupakan sub-sistem paling menentukan bagi eksistensi sebuah negara adalah sector Pendidikan yang kini mulai tersendat dan terseok seok dalam memberikan pelayanannya. Lewat dan melalui pendidikanlah kualitas sumber daya manusia dapat dihadirkan untuk mengisi dan menguatkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang kini pergerakannya terbatas.
Anak – anak kini berada di rumah dalam pengasuhan orang tua yang memiliki keterbatasan baik secara ilmu pengetahuan, ketersediaan sarana penunjang, dan penggunaan sarana penunjang, serta waktu yang tersedia, dan sering kali kita menyaksikan anak anak berada dijalan akibat dari kejenuhannya tinggal di rumah. Anak – anak kini mulai liar tak terkendali mengerjakan sesuatu yang kadang tidak seharusnya dan sepatutnya mereka kerjakan.
Hampir satu tahun lebih Pandemi Covid-19 ini hadir secara bertahap dan kini sudah merajalela hingga 1 juta lebih masyarakat Indonesia sudah terpapar. Kini ia mulai mendekat berada disekitar kita memberikan ancaman yang seirus. Dalam hal ini penyelenggaraan Pendidikan pun mulai terasa dampaknya. Anak anak kini sudah tidak tersentuh Pendidikan secara sistematis. Pendidikan yang diselengarakan dalam keterbatasan ini adalah Pendidikan hanya sekedar ada. Kini kita menyaksikan kualitas Lembaga Pendidikan hampir sama merata secara kualitas.
Keterbatasan Pendidikan memberikan pelayanan, akan membuat sebuah generasi lemah, kurang atau bahkan tidak berkualitas. Sebuah generasi yang bisa jadi menghilang ketika bangsa dan negara ini membutuhkannya. Jadi ancaman terberat dan terbesar bagi bangsa ini adalah kehilangan sebuah generasi. Bagaimana kita semua dan seluruhnya harus bersinergi untuk mengantisipasi dan meminimalisir ancaman kehilangan generasi ini. karena hilangnya generasi (lemah) akan menghilangkan negara dan bangsa ini. Langkah yang mungkin bisa kita lakukan adalah:
1. Menumbuhkan kesadaran terus menerus kemasyarakat untuk mengubah kebiasaan untuk hidup lebih teratur, besih, dan sehat
2. Menumbuhkan kesadaran bahwa kini kita hidup bersama Covid-19 dengan mengubah cara berineteraksi dalam menjalin relasi kehidupan social dengan memperhatikan batas batas dan ketentuan yang harus dijalaninya. Masalahnya kini bukan di kehadiran Virusnya, tapi sikap atau respoon kita terhadapnya yang harus segera dirubah dan dibiasakan dengan cara baru. Virus ini akan menghilang seiring masyarakat patuh pada jenis relasi yang harus dijalankannya (memperhatikan prokes)
3. Pemerintah pada setiap level harus lebih focus pada pemberdayaan dan ketahanan keluarga dengan lebih memperhatikan sarana-prasarana kesehatan dan Pendidikan, karena kini anak anak waktunya lebih banyak bersama keluarga. Maka pemberdayaan keluarga dari sector Pendidikan menjadi penting dan mendesak. Pemerintah dalam hal ini harus memiliki rekayasa yang bisa menghidupkan rumah secara edukatif, agar bangsa ini tidak terlalu banyak kehilangan generasi.
4. Menjalin sinergi antara pemerintah, masyarakat dan stakeholder lainnya dalam menciptakan suasana yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan dalam situasi Pandemi seperti ini
5. Mengembanghkan program / kegiatan penumbuhan mental-spiritual dan moral-spiritual masyarakat. Agar dimensi spiritualitas ini bisa menjadi cara lain dalam memnumbuhkan kesadaran masyarakat dan membuka pintu langit agar Allah SWT cepat mengangkat dan menempatkan virus ini ditempat yang jauh dari kehidupan manusia
6. Kehilangan generasi adalah kehilangan ilmu pengetahuan, maka Pandemi Covid-19 harus dijadikan oleh seluruh keluarga sebagai moment untuk menumbuhkembangkan budaya baca. Dan bagaimana budaya baca inipun didukung dan disokong oleh berbagai pihak, agar anak anak (generasi) ini tidak kehilangan ilmu pengetahuan yang harus dipelajarinya.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *