by

Manfaat Adopsi Tanaman Biotek bagi Petani

BOGORONLINE.com, Kota Bogor – Dalam rangka memperingati HUT RI ke 76, Indonesian Biotechnology Information Centre (IndoBIC) didukung SEAMEO Biotrop dan International Services for the Acquisition of Agri-biotech Application (ISAAA) menggelar webinar manfaat adopsi tanaman biotek bagi petani, pada Rabu (18/8/2021) siang. acara ini menghadirkan beberapa perkembangan penting khususnya di Indonesia terkait bioteknologi antara lain menyoroti hasil studi persepsi publik yang telah dilakukan di tahun 2020 sekaligus persetujuan 2 regulasi baru dan produk kentang bioteknologi yang sebentar lagi akan dikomersialkan.

Diketahui, bioteknologi lebih spesifik lagi Produk Rekayasa Genetika (PRG) adalah salah satu bagian luar biasa dari kehidupan. Diantara teknologi modern yang diaplikasikan secara luas di dunia, produk PRG merupakan hasil terknologi yang paling rinci diatur dan dikaji serta diuji sebelum dimanfaatkan.

Bioteknologi menyediakan produk dan teknologi terobosan untuk memberi solusi kekurangan pangan, memulihkan kerusakan lingkungan dan mendorong perekonomian. Bioteknologi pun merupakan alternatif solusi bagi beberapa masalah utama global seperti pemanasan global, meningkatnya krisis bahan bakar minyak bumi dan terutama kemiskinan.

Plt. Kepala Biro Kerjasama dan Hubungan masyarakat pada Kemendikbudristek, Ir. Hendarman menyampaikan, penguasaan teknologi pertanian perlu diberikan kepada siswa didik di SMK Pertanian karena teknologi pertanian di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain. Hal ini mengingat beberapa kebutuhan pangan dalam negeri masih mengimpor dari luar negeri, padahal Indonesia memiliki potensi yang belum dikembangkan.

“Revitalisasi SMK Pertanian diharapkan dapat mengatasi kekurangan bahan pangan di Indonesia dengan menciptakan tenaga terampil dan wirausaha bidang Pertanian,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur IndoBIC, Prof. Dr. Bambang Purwantara memaparkan, status terkini adopsi tanaman biotek di dunia yang telah dilaporkan oleh ISAAA. Total seluas 190,4 juta hektar tanaman biotek telah ditanam di 29 negara hingga peningkatan kehidupan 17 juta petani biotek dan keluarga mereka di seluruh dunia pada tahun 2019.

“Sebentar lagi Indonesia akan memiliki produk biotek lain milik anak bangsa yang akan segera dikomersialisasi selain tebu tahan kekeringan milik PTPN XI. Hal penting lain adalah perpanjangan kembali Lomba Karya Tulis bertema Bioteknologi pertanian sampai bulan September 2021. Lomba yang ditujukan bagi kalangan media dan masyarakat umum yang aktif di media sosial diharapkan dapat menarik lebih banyak perhatian terutama menyangkut berbagai isu bioteknologi di Indonesia. Acara webinar yang digelar dengan menghadirkan empat pembicara utama,” tuturnya.

Ditempat yang sama, Direktur SEAMEO Biotrop, Dr. Zulhamsyah Imran memaparkan, saat ini SEAMEO Biotrop dengan visinya Tropical Biodiversity Mountain to Ocean memiliki tiga flagship program yaitu, ecosystem restoration and conservation, sustainable use biodiversity, bioenergy, Biotechnology, food security dan resilience in face global climate change.

“Ketiga flagship tersebut diterjemahkan kedalam beberapa program dan aktivitas yang sudah dirancang sejak dimulai BiD 100 pada bulan Januari 2021. Terlihat sekali dukungan Biotrop dalam penerapan bioteknologi sudah dituangkan kedalam program-program utamanya. Salah satu contoh kontribusi terkininya adalah penerapan bioteknologi di bidang perikanan khususnya bagi komoditas udang vaname,” bebernya.

Ia melanjutkan, kedepannya, semua penelitian Biotrop akan terus disesuaikan dengan kebutuhan industri 4.0 otomatisasi peralatan-peralatan pendukung penelitian yang dapat membantu memecahkan berbagai permasalahan sekaligus meningkatkan produktivitas di dunia pertanian dalam berbagai skala. Tentunya, diharapkan akan meningkatkan produktivitas kepentingan masyarakat Indonesia.

Lebih lanjut Imran, menyoroti hasil studi terbaru yang dilakukan oleh SEAMEO BIOTROP dan IndoBIC bekerjasama dengan Michigan State University, Care IPB dan ISAAA terkait persepsi publik terhadap produk biotek di Indonesia yang dilakukan pada tahun 2020. Temuan penting dari studi tersebut adalah pada umumnya masyarakat Indonesia setuju dengan pengembangan biotek atau tanaman pangan.

“Pendapat positif ini juga terkait dengan tingkat kepercayaan mereka terhadap kemampuan dan kapasitas pemerintah dalam menangani masalah keamanan tanaman biotek. Mereka juga sepakat bahwa produk biotek halal mengacu pada fatwa MUI,” pungkasnya. (*/Hrs)

ARTIKEL REKOMENDASI

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *