Oleh: Yayat Supriyatna
Manajer Pendidikan SIT Asy – syifa Qolbu Praktisi Pendidikan
Tujuan Pendidikan adalah: “memanusiakan manusia”. Manusia seperti apa yang hendak diwujudkan oleh Pendidikan? Jawaban atas pertanyaan ini sedang mempertanyakan tujuan untuk apa manusia diciptakan? Siapa yang paling memiliki otoritas untuk menjawab pertanyaan fundamental ini? Berbagai ilmuan dengan disiplin ilmunya berusaha memberikan jawaban tentang manusia dan untuk apa ia diciptakan dan ada. Jawaban yang berbeda dan beragam membuat ketidakpastian dan ketidakjelasan tentang siapa dan untuk apa manusia diciptakan. Maka Kembali kepada siapa yang menciptakan manusia, untuk apa Ia menciptakan manusia menjadi penting dan mendesak, sebelum lebih jauh Pendidikan berpsekulasi terus – menerus membentuk manusia.
Pendidikan bukan hanya terus – menerus mempermasalahkan dan mengganti kurikulum dan metode. Namun lebih jauh, luas, dan dalam ia harus menemukan dan memastikan dulu siapa manusia itu, untuk apa ia diciptakan, ada, dan mengada? Ketika kita bisa menemukan jawaban atas permasalahan fundamental ini, maka kita akan bisa memastikan kurikulum seperti apa yang seharusnya membentuk manusia. kita tidak bisa lagi menyerahkan persoalan ini kepada manusia. Sudah waktunya kita tunduk dan berserah diri pada (Allah SWT) sebagai Pencipta manusia. Dialah yang memiliki otoritas penuh yang paling tahu untuk apa Ia menciptakan manusia. Darisinilah Pendidikan itu seharusnya diselenggarakan, kurikulum dirumuskan, dan metode dijalankan.
Pendidikan adalah upaya menanamkan nilai – nilai kebenaran dan kebaikan. Dengan nilai itu peserta didik memiliki identitas yang asli dan sejati, dengan nilai itu peserta didik memiliki arah yang jelas dan pasti apa yang saharusnya diikuti dan dijalani dalam menghadapi dan menjalani kehidupannya. Kesadaran ini akan memberitahu apa yang seharusnya dilakukan dan diperbuatnya untuk kehidupan. Ia akan sadar dan tahu apa yang dibutuhkan oleh manusia dalam menyelenggarakan kehidupannya. Kreatifitas dan inovasi seperti apa yang dibutuhkan oleh manusia? Dalam hal ini, nilai, norma, dan moral akan membingkai kreatifitas dan inovasi manusia.
Ketika Kapitalisme yang serakah, licik, culas, minus moral, dan tanpa nurani mencengkram kehidupan, kesadaran manusia dilumpuhkan, akal manusia dibungkam, dan nurani dimatikan. Manusia dipaksa memilih apa yang ia tidak butuhkan. Inilah “hyperrealitas” sebuah keadaan dimana manusia tidak sadar atas pilihan – pilihannya dan dipaksa memilih apa yang tidak dibutuhkannya. Pendidikan dalam hal ini dipaksa harus memberikan jawaban atas masalah, tantangan dan kebutuhan zaman yang dibuat dan disediakan KAPITALISME. Kualifikasi atau standar lulusan pun harus mengikuti standarnya, akhirnya sekolah kejuruan menjamur untuk memenuhi hasrat nafsu KAPITALISME. Pendidikan yang syarat akan nilai, makna, dan moral tergerus oleh kepentingan global. Pendidikan yang seharusnya menanamkan nilai, makna, dan moral untuk membentuk identitas dan mengarahakan peserta didik dibajak oleh kepentingan kapitalisme. Lingkungan global dengan segala masalah dan tantangan yang diciptakan oleh kapitalisme telah mengendalikan sendi sendi kehidupan manusia termasuk Pendidikan didalamnya.
Untuk siapa pendidikan yang kita selenggarakan selama ini? sudah saatnya kita mengembalikan Pendidikan pada otoritas sacral (Allah SWT), dimana Al-Quran menjadi kurikulumnya dan sunah menjadi metodenya. Kembali kepada otoritas sacral sama dengan memenuhi hak manusia. Dalam hal ini manusia memiliki hak untuk menerima Pendidikan yang sebenarnya dan semestinya. Jika Pendidikan tidak memberikan atau tidak memenuhi hak dasar manusia dengan Pendidikan yang semestinya, maka Pendidikan yang telah, sedang dan akan dijalankan adalah Pendidikan yang menindas (zalim)





