Cibinong, BogorOnline.com – SDN Cipayung 1 Kecamatan Cibinong, kabupaten Bogor, diklaim terapkan budaya Hedon dan disinyalir menebar ancaman kepada setiap muridnya.
Bagaimana tidak, pihak Koordinator Kelas (Korlas) kelas I (1) sampai kelas VI (6) meminta uang iuran sebagai dana kas ke setiap siswa sebesar Rp20 ribu per bulan, yang dipergunakan umumnya sebagai uang kas, untuk acara perpisahan kelas, maupun peringatan hari guru dan ultah guru.
Sementara itu, tebar ancaman yang dimaksud berupa rencana study tour kelas I sampai kelas III (3) yang diwacanakan ke Taman Impian Jaya Ancol Jakarta dengan besaran biaya yang diminta per murid senilai Rp270 ribu, dan setiap siswa diwajibkan untuk ikut.
Apabila tak ikut, walikelas (Guru) akan memberi tugas ke setiap muridnya itu berupa foto sang siswa dilokasi tujuan diacara study tour tersebut tanpa editan pada 16 Juni 2023.
Selain itu, bagi kelas IV (4), V (5), dan VI (6) akan melakukan study tournya ke tempat situs budaya alat musik Angklung di kawasan Bandung, Jawa Barat.
Dan apabila ada siswa yang tidak ikut dalam giat itu, murid tersebut ditugaskan oleh guru dimasing-masing kelas untuk membuat rangkuman terkait alat musik tradisional khas Sunda berikut dengan keterangan dan bukti foto sang murid bersama alat musik tradisional tersebut.
Menurut keterangan salah satu orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya mengatakan, bahwa anaknya yang merupakan salah satu murid dari SDN Cipayung 1 Kecamatan Cibinong itu, dirasa memperoleh tekanan dari walikelas bila tak mengikuti acara study tour yang dicanangkan pihak sekolah dasar negeri milik plat merah tersebut.
“Pada intinya sebagai wali murid kami mendukung, persoalannya yang membuat kami kesal ada semacam ancaman untuk anak kami,” ujar sumber kepada wartawan media ini, Rabu (31/5/23).
Tak hanya itu, adapula study tour yang mengarah ke Bandung, Jawa Barat, dengan tujuan ke tempat wisata edukasi yakni kolektor alat-alat musik sunda seperti angklung.
Apabila si siswa tak mengikuti acara tersebut dengan biaya sebesar Rp350 ribu per siswa, akan diberi tugas pula seperti berfoto di alat musik khas budaya sunda itu berikut dengan rangkuman sejarah asal muasal alat musik tradisional ini.
“Jadi dari kelas 1, 2, 3 ke Ancol, dan kelas 4, 5, 6 ke Bandung para siswa diharuskan untuk ikut semua. Kalau ada salah satu yang tak ikut, maka akan diberi tugas oleh para guru di masing-masing kelas,” jelasnya.
Sumber melanjutkan, baginya pemberian tugas diluar nalar itu, sudah mencerminkan sikap diskriminasi terhadap siswa oleh para walikelas di masing-masing rombongan belajar (Rombel).
“Saya harap ada pihak terkait yang dapat menegur para guru pendidik di SDN Cipayung 1 karena sudah keterlaluan tindakannya tersebut. Terlebih lagi, tiap bulannya harus ada pengumpulan dana uang kas di ruang kelas anak saya sebesar Rp20 ribu per siswa yang dikumpulkan oleh korlas,” jelasnya.
Terpisah, kepala sekolah (Kepsek) SDN Cipayung 1 kecamatan Cibinong, Endin Saepudin menampik, bahwa mengenai permasalahan anak didiknya yang tidak ikut acara study tour sekolah yang ia pimpin itu tidak wajib ikut serta.
“Masalah yang tidak ikut, kita tidak membebani para siswa atau mewajibkan murid harus ikut,” akunya.
Endin juga menampik, kaitan adanya tugas tambahan yang diberikan oleh walikelas kepada siswanya di kelas yang apabila tidak mengikuti study tour kelas ke Ancol maupun ke Bandung, dia menyebut hal itu tidak dibenarkan.
“Nggak ada tuh yang bahas seperti itu, kalau pun ada nanti kita luruskan ke teman-teman (Guru, red) dalam rapat. Bahwa bukan gitu caranya, maksud saya gitu loch,” terangnya.
“Biar nanti, disampaikan lagi ke para orang tua murid di masing-masing kelasnya,” ucapnya menambahkan.
Lebih lanjut ia memaparkan, pada intinya sekolah itu berkeinginan dapat mengenalkan budaya sunda melalui study tour ke Bandung, Jawa Barat, ke setiap siswanya khusus di kelas IV, V, dan VI yang akan lulus melanjutkan ke jenjang sekolah menengah pertama.
“Bagaimana kalau ada siswa yang keluarganya tidak mempunyai cukup uang, tapi dia anak yatim. Saya minta dibebasin biayanya itu, dan memang betul study tour ke Ancol dan Bandung merupakan gagasan dari kami selaku pihak sekolah, dengan catatan tak ada paksaan bagi setiap siswa untuk ikut,” kilahnya.





