Oleh : Lulu Wahyuni
Mahasiswa Program Studi Sosial Ekonomi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Indonesia saat ini dihadapi dengan permasalahan lahan kritis, ada sekitar 14 juta hektar lahan kritis di Indonesia. Lahan kritis ini diakibatkan karena degradasi lahan berupa pengurangan status lahan secara fisik, kimia dan biologi sehingga menurunkan kapasitas produksi. Proses degradasi lahan dimulai dengan tidak terkontrolnya konversi hutan, dan usaha pertambangan, kemudian diikuti dengan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan potensi dan pengelolaan lahan yang kurang tepat.
Selain itu, degradasi lahan juga mempercepat pemanasan global karena lahan yang terdegradasi menjadi sumber emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sehingga rentan terhadap kebakaran di musim kemarau panjang. Akibat lain dari degradasi ini adalah Erosi, Misalnya lahan didaerah hulu dengan lereng curam yang hanya sesuai untuk hutan, apabila mengalami alih fungsi menjadi lahan pertanian tanaman semusim akan rentan terhadap bencana erosi atau tanah longsor. Upaya untuk mengatasi permasalahan ini bisa dengan melakukan konservasi tanah dan rehabilitasi lahan, konversi tanah dilakukan untuk mengamankan tanah yang berpotensi kritis agar tidak menjadi lahan kritis sedangkan rehabilitasi lahan, untuk memulihkan lahan yang sudah kritis.
Rehabilitasi lahan yang kritis adalah untuk memulihkan kondisi lahan yang kritis menjadi lahan yang produktif kembali, yaitu lahan dengan lapisan tanah yang tebal dan subur. Salah satu cara untuk rehabilitasi lahan ini yaitu dengan pembibitan yang berkualitas. Untuk mendapatkan bibit-bibit yang berkulitas maka perlu adanya persemaian. Fungsi dari persemaian ini adalah untuk memproduksi bibit dalam rangka mendukung kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan serta kegiatan penghijauan lainnya.
Tujuan dari bibit ini disemai untuk mengurangi kematian pada tanaman akibat belum siap atau belum mampu beradaptasi dengan kondisi lapangan. Ada dua jenis persemaian yaitu persemaian basah dan persemaian kering, persemaian basah adalah persemaian yang dilakukan dilahan pertanian seperti pada sistem konvensional sedangkan persemaian kering adalah persemaian yang menggunakan wadah berupa kotak/pipiti , tujuan penggunaan wadah ini adalah untuk memudahkan pengangkutan dan penyeleksian benih.
Salah satu program pemerintah saat ini yaitu dengan persemaian modern yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dibawah Ditjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung. Persemaian modern ini adalah tempat untuk kegiatan memproses benih menjadi bibit dengan menggunakan teknologi yang canggih agar menghasilkan bibit yang berkualitas, sehingga siap ditanam dilapangan dalam jumlah yang memadai, dengan ukuran yang relatif seragam, kualitas yang unggul dan dalam waktu yang tepat.
Saat ini terdapat 6 lokasi persemaian modern di indonesia yaitu Pusat Persemaian Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Pusat Persemaian Danau Toba Kawasan Hutan Lindung Blok Sibisa, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, Pusat Persemaian Labuan Bajo Kawasan Hutan Produksi Satar-Kodi, Kabupaten Manggarai Barat NTT, Pusat Persemaian Mandalika Kawasan Hutan Lindung Rambitan-Sengkol Kabupaten Lombok NTB, Pusat Persemaian Likupang Kawasan TWA Batu Putih, Kota Bitung Sulawesi Utara, dan Pusat Persemaian IKN Kawasan Hutan Produksi, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Pemerintah menargetkan akan ada setidaknya 30 pusat persemaian modern di Indonesia yang bisa memproduksi kurang lebih 12 juta bibit tanaman setiap tahun.
Jenis tanaman setiap pusat persemaian bisa jadi menumbuhkan bibit yang berbeda-beda karena mengikuti kondisi diwilayah masing-masing, tanaman apa yang cocok untuk ditanam di wilayah tersebut. Selain untuk rehabilitasi lahan persemaian modern ini juga dapat mendukung pemerintah dalam melakukan penelitian terhadap kekayaan plasma nutfah yang terdapat di Indonesia.
Salah satu pusat persemaian dijawa barat yaitu Pusat Persemaian Rumpin yang terletak di Kabupaten Bogor. Pusat persemaian Rumpin berdiri pada lahan seluas 128 hektar yang diresmikan pada tahun 2022, bibit-bibit yang ditanam di persemaian ini seperti sengon dan eukaliptus yang terlihat mendominasi lahan, selain itu ada mahoni dan jati juga. Pada pusat persemaian bibit akan dirawat hingga usia delapan bulan. Kemudian didistribusikan pada wilayah yang rawan bencana akibat perubahan iklim, seperti daerah yang rawan longsor, banjir dan lahan-lahan kritis lainnya.
Untuk menghasilkan bibit sekitar 12 juta dengan luas lahan 128 hektar akan membutuhkan banyak tenaga kerja, namun persemaian modern ini menggunakan metode yang modern dan berteknologi misalnya seperti sistem pengairan yang memanfaatkan air baku untuk memenuhi kebutuhan air bagi bibit-bibit pohonnya, dengan begitu penyiraman tidak dilakukan manual oleh manusia. Namun tenaga manusia juga dibutuhkan pada sebagian proses produksi dipersemaian tersebut. Sekretaris jendral kementrian LHK juga mengajak kepada masyarakat untuk terlibat dalam mengelola lahan dan hutan, tidak menutup kemungkinan masyarakat sekitar bisa mendapatkan bibit-bibit pohon secara gratis dari pusat persemaian kemudian ditanam kembali untuk dirawat dan ditumbuhkan, hasilnya kayu pohon dapat diolah agar memiliki nilai tambah sehingga dapat membantu perekonomian masyarakat sekitar juga.
Dengan begitu persemaian modern ini merupakan upaya yang tepat untuk merehabilitasi hutan dan lahan terutama diwilayah daerah aliran sungai. karena, dapat menjadi solusi dari rehabilitasi tanah akibat dampak dari degradasi lahan, seperti bencana alam banjir dan tanah longsor, yang dapat diatasi dengan penanaman pohon didaerah yang rawan longsor. Pohon-pohon tersebut dapat menahan tanah dan air sehingga dapat mencegah terjadi longsor, kemudian penanaman didaerah rawan banjir, pohon-pohon tersebut dapat menahan air jika terjadi hujan yang sangat lebat sehingga dapat mencegah banjir.
Selain itu dampak lainnya adalah mempercepat pemanasan global, hal ini dikarenakan lahan yang kritis terdegradasi rentan mengalami kebakaran jika musim kemarau panjang sehingga menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca. Hal ini dapat diatasi dengan penanaman pohon-pohon dilahan atau hutan yang terdegradasi sehingga dapat mengurangi pemanasan global yang terjadi. Upaya yang dilakukan pemerintah sudah baik untuk penanganan masalah kritis iklim akibat pemanasan global ini, untuk mensukseskan ini masyarakat harus ikut andil dalam membantu merehabilitasi lahan dengan menanam kembali bibit pohon yang diberikan dari pusat persemaian modern ataupun bibit milik masyarakat sendiri.





