GUNUNG MUNARA DALAM CATATAN SANTRI BELANDA

Menelusuri Jejak Artefak Hinduisme, Buddhisme dan Pajajaran Dalam Sumber Belanda
di Land Koeripan, Rumpin, Bogor, Jawa Barat

Dengan menggunakan kendaraan roda dua, penulis pun penulis pun tiba di pertigaan Putat Nutug menuju ke Gunung Munara Rumpin, melalui jalur J.F.G Brumund dua abad lampau

“Nu is de toekomst van mijn naam op Java verzekerd. Mag ik het ook weldra voor goed verlaten, die naam zal daar onsterfelijk zijn. In steeds wijder omtrek, en met steeds rijker verdichting zullen de ouders van mij aan hunne kinderen blijven verhalen. En als later, mijne kinderen en kinds-kinderen naar Java komen, dan zal’t gebeuren, dat men hun in menige berghut verhaalt van een heilige, reeds lang geleden uit Holland gekomen; een man van bovennatuurlijke vermogens, die even goed als hunne koeda’s sembrani door de lucht kon vliegen, en later ook even als hun Sili-Wangi versteend is in dit of dat beeld, ‘t geen ze aan hen dan zullen wijzen om daar eensklaps tegen over hunnen vader of grootvader te staan.”

Disusun oleh:
Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan**)

TELUSURI JEJAK J.F.G. BRUMUND DI GUNUNG MUNARA

Patung Arca – Domas peninggalan khas Kerajaan Pajajaran seperti inilah yang terdapat di tempat suci Gunung Munara dan dilihat oleh Brumund dua abad lampau

Hampir dua abad lampau, Jan Frederik Gerrit Brumund alias J.F.G. Brumund mengunjungi Land Koeripan. Dari pusat kota Buitenzoorg (Bogor) di Batutulis, saat itu ia berkendara dengan mobil ke Putat Nutug. Sesampai di lokasi yang kini dikenal sebagai pertigaan Putat Nutug, Pastur Protestan itu mengambil jalan lurus ke arah Makam Keramat Syekh Abdul Rosyid. Ia kemudian menyeberangi Sungai Cisadane tembus ke Kampung Sawah atau Kampung Candi.

Dengan menunggang kuda dan didampingi oleh penduduk lokal, ia kemudian menyeberangi satu sungai lagi untuk menuju ke Gunung Munara. Menurutnya, kuda yang disiapkan oleh penduduk untuk mendaki Gunung Munara itu sangat tangguh. Tanjakan setinggi kuda itu sendiri dapat dilalui dengan mudah. Padahal Brumund sudah merasa khawatir, apakah kuda itu dapat sampai ke puncak Gunung Munara. Lalu dengan berjalan kaki atau ditandu, ia mendaki Gunung Munara.

Kini, hampir dua abad setelahnya, Penulis mencoba menelusuri jejak fotografer dan sejarawan kondang pakar Hinduisme di Jawa tersebut. Dengan menggunakan kuda besi, Penulis meluncur meninggalkan Rektorat tembus ke Telaga Kahuripan, lalu melewati Desa Tegal dan tiba di pertigaan Putat Nutug. Bisa dibayangkan, dua abad lampau, Brumund melewati rute itu dengan sedikit kesulitan. Jalanan yang masih tanah dengan sedikit batu, mungkin menyebabkan perjalanan yang ditempuh relatif lama.

Penulis pun kemudian tiba di Kampung Sawah yang ternyata masih terlihat asri. Hamparan ladang terlihat luas membentang. Hanya sedikit rumah yang ada disana. Bila J.F.G. Brumund melewati perkampungan ini duaa abad lalu, kemungkinan disana baru hanya ada beberapa rumah yang bisa dihitung dengan jari. Di sebelah kiri Penulis berhenti, adalah Kampung Panoongan. Entah mengapa bisa disebut demikian. Namun, di tempat lain, misalnya di Cikuray, ada juga nama yang hampir sama yaitu (Bukit) Panenjoan.

Penulis bergerak ke arah Gunung Munara melalui pintu masuk utama. Jalan itu kini terbelah menjadi dua. Bila ingin menuju Situs Gunung Munara, maka kita harus belok kanan sebelum ujung jembatan. Jalan ini juga berakhir di sungai yang lumayan besar namun hanya disediakan jembatan bambu yang disusun mirip rakit (ponton). Ada beberapa perdu hanjuang (Cordyline terminalis) terlihat di dekat sungai itu. Tampak di ujung jembatan, jalur utama pendakian ke arah Gunung Munara.

Patung Arca – Domas peninggalan khas Kerajaan Pajajaran, seperti inilah yang terlihat ditempat suci Gunung Munara dan dilihat oleh Brumund dua abad lampau Tampak akar pohon.

BRUMUND DAN ISTILAH SANTRI BELANDA (SANTRI UIT HOLLAND ZIJT)

Istilah Santri Belanda (Santri uit Holland zijt) dipergunakan oleh Jan Frederik Gerrit Brumund alias J.F.G. Brumund alias Heer Brumund untuk menyebut dirinya sendiri saat menceritakan pengalamannya mendaki Gunung Munara di Land Koeripan (kini, Rumpin, Bogor) sekitar tahun 1860-an. Heer Brumund yang adalah Pastor Protestan dari Gereja Injil (Het Evangelische Gemeente) Surabaya (lalu Jakarta) juga merupakan seorang Sejarawan speasialis Hinduisme Jawa.

Menilik reputasinya yang dikenal luas di Land Koeripan, Brumund kemudian mengagulkan dirinya bahkan setara dengan Prabu Siliwangi! Dia berharap bahwa, di masa mendatang, namanya akan dibicarakan di pondok-pondok di sawah sekitar Gunung Munara. Bahkan, anak keturunan dan cucu-cucunya yang akan datang ke Jawa, akan menemukan namanya terpatri dalam ingatan penduduk lokal. Mengapa demikian?

Brumund dianggap memiliki kesaktian sama seperti Prabu Siliwangi yang melegenda dalam masyarakat sekitar Gunung Munara. Kesaktiannya yang nyata, adalah karena dia memiliki sebuah kamera alias teropong yang dapat mengabadikan gambar. Penduduk lokal sangat terkesan dan takjub dengan alat ini. Mereka menganggapnya sebagai benda sakti yang kesaktiannya sama dengan Prabu Siliwangi.

Di beberapa tempat dalam tulisannya, Brumund bahkan ingin dianggap bahwa dirinya adalah seorang wali (een heilige) Belanda yang bisa terbang dan ada dimana-mana. Dia berharap para orang tua terus menceritakan kisah tentangnya di sana kepada anak-anak mereka. Sehingga kisah itu akan semakin meluas dan berkembang dalam coraknya.

Untuk diketahui, pada masa Belanda, ada beberapa di antara mereka yang kemudian masuk Islam (mualaf). Beberapa tuan tanah (landheer) di Depok dan Ciampea juga ditengarai telah memeluk agama Islam dan memiliki nama Muslim. Termasuk Landheer Koeripan terakhir juga telah masuk Islam. Bahkan, salah seorang di antaranya adalah seorang tentara Belanda yang kemudian menjadi arsitek pembangunan Masjid Banten!

Dengan menggunakan kendaraan roda dua, penulis pun tiba di kampung sawah menuju ke Gunung Munara (Tampak di Belakang) melalui jejak jalur J.F.G Brumund dua abad lampau.

LANDHUIS PUTAT-NUTUG DAN LANDHEER DI LAND KOERIPAN

Landhuis Putat Nutug terletak sekitar 0,16 pal dari Sungai Cisadane yang termasuk dalam Land Koeripan. Bila 1 pal (paal, Belanda) adalah 1,5 kilometer, maka jarak itu setara dengan 0,24 kilometer atau 240 meter. Dari Putat Nutug, Brumund menuju Rumpin di seberang Sungai Cisadane tepatnya di Kampung Sawah.

Menurutnya, saat itu yang menjadi Landheer adalah Heer Dennison. Tentu saja, nama ini adalah nama yang sering disebutkan dalam sumber Belanda. Almanak van Nederlandsch-Indie voor het jaar 1867 Vol. 40, dalam Bab Staat der Partikuliere Landerijen hlm. 236 misalnya menyebut nama W.F.M. Dennison dan Miss Marij Menzies.

Dennison yang dimaksud adalah putra William Dennison. Nama lengkapnya adalah William Frederik Mooijaart-Dennison (1823-1888). Dennison dilahirkan di Pekalongan pada 29 Agustus 1823 dan meninggal di Buitenzorg (Bogor) pada 7 Nopember 1888.

Bila menelusuri jejak keluarga Dennison atau William, maka akan diketahui dari penamaan Land Koeripan. Dimana saja terdapat nama Koeripan, maka dipastikan itu adalah tanah perkebunan (Landerijen) yang dimiliki oleh keluarga asal Inggris tersebut. Sebut saja, Land Koeripan di Pekalongan, Land Koeripan di Cirebon, Land Koeripan di Teluk Betung (Lampung) dan Land Koeripan di Mataram (NTB). Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila Dennison juga pernah di Sindang Laut, Cirebon.

Antara Landhuis Koeripan di Ciseeng/Parigi Mekar dengan Landhuis di Putat Nutug dihubungkan dengan jalanan tanah berbatu. Kereta kuda atau kendaraan berbahan bakar batu bara biasa dipergunakan untuk transportasi para tuan tanah (landheer) di lokasi perkebunan tersebut. Terkadang, apabila ada kunjungan Kepala District (Voerhaan), maka tandu dipergunakan untuk mengantarkan pejabat tertinggi di kawasan itu. Beberapa lelaki tegap mengusung tandu tersebut.

Penulis foto didepan batu besar di awal pendakian dari Kampung Sawah menuju ke Gunung Munara (tampak di belakang) melalui jalur J.F.G Brumund dua abad silam.

MENGENAL GUNUNG MUNARA DI RUMPIN, BOGOR

Dalam tulisan Jan Frederik Gerrit Brumund, Bijdragen tot de kennis van het Hindoeïsme op Java, disebutkan beberapa kali mengenai Gunung Munara (Moenara). Bahkan, secara rinci, disebutkan juga cara mencapainya dan apa saja yang terdapat di gunung yang dikeramatkan oleh penduduk itu.

Sebagai seorang pastur dan fotografer kawakan, Brumund telah berkeliling Hindia-Belanda (Netherland East-Indies) untuk mendokumentasikan kekayaan alamnya. Sebut saja, selain Bogor, nama Malang, Bandung, Cirebon, Maluku dan Surabaya sangat terkait erat dengan profesinya sebagai fotografer.

Selain tulisan mengenai etnografi, Brumund juga menulis catatan mengenai sejarah terutama Kerajaan-kerajaan Hinduisme di Jawa. Catatan dan foto-fotonya telah menjadi sumber bagi para penulis berikutnya untuk meneruskan dan memperluas lagi kajiannya. Sebut saja, C.M. Pleyte, yang lahir persis pada tahun meninggalnya Brumund (1863).

Dalam menggambarkan Gunung Munara, Brumund banyak mengaitkan dengan apa yang dilihatnya disana. Gunung Munara seolah identik dengan tiga agama: Hindu, Buddha dan Islam. Benda tinggalan dan istilah yang dipergunakan juga mengacu pada ketiga agama tersebut. Namun, dengan mengutip dari nats Perjanjian Baru (Mat. 13:57; Mrk. 6:4 dan Yoh. 4:44), Brumund juga mengungkapkan fakta, bahwa justru penduduk sekitar kadang tidak terlalu menganggap keberadaannya.

Menurut Brumund lagi, hanya orang-orang dari jauh yang kebanyakan datang ke Gunung Munara. Mereka berasal dari Batavia atau Banten dan lokasi lainnya. Kebanyakan dari mereka datang kesana untuk mencari kepuasan batin atau keperluan hidup yang dihajatkan. Bahkan, menurut Brumund lagi, dalam urusan kadigjayaan (khususnya kekebalan), biasanya mereka juga datang ke tempat ini.

Secara geografis, Gunung Munara terletak di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Pada masa dahulu, kawasan ini hingga Ciampea dan Cibungbulang termasuk ke dalam Land Koeripan. Oleh sebab itu, perkebunan dan pertanian banyak dibuka di daerah ini. Sawah-sawah dibuat secara massal dan padi menjadi salah satu komoditas dari daerah ini.

Menurut Wikipedia, Gunung Munara adalah sebuah gunung yang terletak di sebelah barat Kabupaten Bogor. Gunung ini terletak 40 km di barat daya Jakarta dan 12,1 km di sebelah barat dari daerah Parung tepatnya di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Karena ketinggiannya hanya 367 meter saja (1.204 feet), maka masuk dalam daftar bukit. Secara geologis, Gunung Munara termasuk jenis gunung Dormant volcano, artinya gunung berapi yang sementara tidak aktif. Namun, di masa mendatang, bisa saja terjadi erupsi.

Tentu saja, jalur yang kini dilalui oleh pendaki tidak jauh berbeda dengan jalur yang dulu dilalui oleh Brumund dan penduduk lokal yang mengantarnya. Yang membedakan adalah benda-benda petilasan yang ada pada masa Brumund dengan saat ini. Bila mengkaji catatan Brumund dengan rinci, maka akan ditemukan banyak catatan mengenai arca (patung) batu, baik dengan corak Hindu, Buddha ataupun Sunda (Arca Domas).

Begitu juga dengan gambaran kondisi lingkungan pegunungan saat itu yang menurut Brumund tidak akan ada seorang pun berani menginap disana pada malam hari. Dengan sangat menakutkan, Brumund menggambarkan situasi malam hari di Gunung Munara itu. Ini berbeda dengan saat ini, dimana para pendaki bahkan sengaja bermalam di puncak Gunung Munara. Biasanya, pada musim liburan terutama tahun baru, banyak yang menginap di Gunung Munara. Bahkan hingga beberapa hari lamanya mereka akan berkemah di puncak!

Kini, jalur pendakian Gunung Munara dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Puncak I (Batu Bintang)
2. Taman Tikoro
3. Batu Bangkong
4. Puncak II (Batu Azan), mencakup: Telapak Kabayan, Goa Bung Karno, Tapak Tongkat Sultan Maulana Hasanuddin, Goa Petilasan Sultan Maulana Hasanuddin, Batu Qur’an
5. Taman Putri
6. Puncak III (Batu Beulah)
7. Taman Kejayaan
8. Gadogan Kuda Semberani
9. Pos III
10. Taman Belek
11. Pos II
12. Pos I

Penulis foto didepan batu besar diawal pendakian dari Kampung Sawah menuju ke Gunung Munara (tampak di belakang) melalui jejak jalur J.F.G Brumund, dua abad lampau. Batu ini mirif tembok (kutha) yang banyak disini dan melingkari kawasan ini seolah benteng.

BRUMUND DAN PERJALANAN MENDAKI GUNUNG MUNARA

Dengan rinci, Brumund mencatat kisah perjalanannya mendaki Gunung Munara. Kisah itu ditulisnya beberapa hari setelah turun gunung dan tiba kembali di Batavia (Jakarta). Oleh sebab itu, rincian dari apa yang telah dilihat dan dialami, masih segar terngiang dalam ingatannya. Bahkan, Brumund menambahkan penjelasan tertentu untuk menguatkan kisah perjalanannya.

Untuk orisinalitas kisah perjalanan Brumund mendaki Gunung Munara tersebut, Penulis cantumkan utuh dalam bahasa aslinya (Belanda). Teks-teks itu akan ditampilkan sesuai kepentingannya dan kemudian diberikan penjelasan seperlunya. Untuk mempermudah, tiap teks akan diberikan judul atau sub judul.

1. Perjalanan dari Buitenzorg ke Putat Nutug

“Thans rijden wij in den wagen van Buitenzorg tot aan het landhuis PoetoetNoetoeg, op het land Koeripan, .16 paal van daar, aan den Tjidani gelegen. Daar worden wij even gul en vriende lijk als door vroegere landheeren, door den heer van Koeripan ontvangen. “Weldra zijn we de Tjidani overgestoken en. rijden in zijn gezelschap westelijk omtrent nog vier paal verder naar den berg Moenara, zullen daarop een heilige grot zien en in zijne nabijheid een groep beelden. Ik bewonder de kracht der paarden, zooals ze vlug en zeker met ons de steile hellingen al hooger beklimmen. Te voet vervolgen wij n u den verderen togt, door de inlanders geholpen en ondersteund. Per ardua ad astra.” (hlm. 71)

2. Dua Batu Besar, Arca Batu dan Hanjuang

“Eindelijk dalen wij tusschen twee ontzaggelijke rotsblokken af naar de heilige plek. Ze zal zeven of acht honderd voet boven het landhuis liggen. De effen ruimte is bijna rond, honderd schreden in omtrek, omringd door magtige rotsblokken met digt geboomte begroeid, wier wortels zich daarom hebben geslagen en die naar alle kanten overkruissen. Wel eene door de natuur afgezonderde plek, stil, statig, die het bijgeloof aanstonds heilig verklaren, een verblijf van geesten noemen moet. Ze is hier en daar met handjoeangs beplant, eene struikplant met langwerpige bladen, die sierlijk afhangen en door den inlander gewoonlijk op zijne bid of heilige plaatsen, ook bij graven en wellen wordt geplant.”

3. Waktu Peziarah Banyak Mengunjungi Gunung Munara

“Daarop bereiden de bedevaartgangers hunne spijzen voor den offermaaltijd, sedeka. Nog onlangs was daar een gezelschap geweest. Nooit zal een alleen daar den nacht doorbrengen. Hij vreest de plek, de geesten te zeer, die hem spoorloos zouden doen verdwijnen. Ze komen er om wierook te branden, den offermaaltijd gezamenlijk te houden, hunne geloften te doen. Daarna leggen ze zich te slapen om visioenen te erlangen, te droomen van eene gelukkige toekomst of vervulling hunner wenschen. Ook ontwaken ze vaak’s nachts eensklaps door de vreemdste geluiden in de lucht, of in het bosch, opgeschrikt uit hun slaap. Vooral gaan zij er heen in de maand Moeloed. Ook begeven zich de inlanders steeds naar zulke plaatsen, als ze een opstand beramen. Hun fanatisme wordt er door opgewekt. Ze meenen dan onkwetsbaar te worden, ja maken zich diets dan bovennatuurlijke krachten te zullen krijgen.” (hlm. 72)

4. Goa Suci, Akar Tergantung dan Bak Penampungan Air

“Links van het pad, dat we afklouterden, is de ingang der heilige grot, geheel een werk der
natuur, onregelmatig gevormd, omtrent twintig schreden diep en van ongelijke hoogte. Men-schenhänden hebben de wortels, die voor den ingang afhingen, tot een stevig vlechtwerk za mengestrengeld en slechts eene kleine opening gelaten, waardoor ik binnen ging. Er stond nog een klapperdop, waar in wierook gebrand had. Aan het einde is eene opening, waardoor het licht binnenvalt. Reeds lang geleden woonde in de grot een orang bertapa, een kluizenaar. Boven op de rots waren twee, drie regenwater-verzamelbakken uitgehouwen. Een was vierkant, omtrent een voet diep. Die waren, zeiden ze‚ door de geesten, djin’s, orang aloes, vervaardigd, en altijd val water ook bij langdurige droogte.” (hlm. 72)

5. Batu Belah, Goa Gedogan Kuda Semberani

“Als men naar de heilige plaats opklimt, ligt zestig of zeventig voet daar beneden, regts v a n het pad een weinig opgeklommen, een ontzaggelijk rotsgevaarte, door de almagtige hancl der natuur van boven tot beneden, tweemaal in zijne lengte, ook in zijne breedte tot beneden toe gespleten, de batoebèla, ook heilig. Boomen groeijen in de naauwe spleten. Men daalt er in af Een vervaar-lijke blik naar omhoog uit de enge diepte. Wederom omtrent zooveel lager gingen we andermaal ter zijde af en kwamen in de Gedogan, stal van den Koeda-Sembrani.” (hlm. 73)

Untuk menghemat, catatan asli Brumund mengenai pendakiannya ke Gunung Munara dibatasi hanya lima teks saja. Penulis menganggap ini sudah cukup mewakili. Sebab penjelasan berikutnya adalah mengenai lokasi suci dan arca batu yang terdapat disana. Secara panjang lebar, Brumund mendeskripsikan kawasan petilasan dan kelompok arca tersebut.

Brumund telah menyebutkan petilasan yang namanya hingga kini masih ada dan telah mengalami perubahan. Misalnya, pada masa Brumund, petilasan Goa Bung Karno tentu saja belum ada. Begitu juga petilasan Batu Qur’an tidak disebutkan dalam catatan Brumund. Namun, bila masih berbentuk buatan alam, tinggalan itu masih bisa bertahan hingga sekarang ini sudah berlalu dua abad kemudian. Sayangnya, arca batu yang beberapa kali disebutkan sudah tidak ada lagi.

Sayangnya, arca batu bercorak Hindu dan Buddha serta Pajajaran itu kini sudah tidak ada lagi. Padahal dalam catatan Brumund itu disebutkan banyak sekali dijumpai arca sepanjang pendakian ke puncak Gunung Munara. Hilangnya arca-arca itu kemungkinan ada beberapa alasan: rusak, dipindahkan ke Museum atau tertutup tanah.

Menurut Brumund, jalanan menuju lokasi Arca Domas di Gunung Munara, telah diperbagus (di-balay, Sunda). Oleh sebab itu, dia membandingkan dengan keadaan di kawasan Tjompomaas (Tompo Omas = Tampomas), yaitu dua buah tempat keramat yang sudah diperbagus jalanannya seperti juga di Pertapaan Cikuray.

Catatan yang masih bersesuaian dengan saat ini, selain lokasi goa dan bebatuan, adalah keberadaan pohon hanjuang. Menurut Brumund, daun pohon hanjuang yang panjang dan lebar biasanya dipakai para peziarah sebagai alas berbaring alias sebagai tikar. Hingga kini, beberapa perdu hanjuang masih bisa ditemukan, bahkan di pintu masuk dekat sungai. Hanya saja, ukurannya tidak sebesar di masa dulu, yang menurut Brumund, satu daun saja bisa untuk alas berbaring.

MOTIVASI BRUMUND: EMAS DAN BATU BERHARGA DI GUNUNG MUNARA?

Kedatangan Brumund ke Gunung Munara tentu saja memiliki motivasi tersendiri. Meskipun motivasi itu hanya dia saja yang mengetahuinya, namun dari catatan perjalanannya bisa sedikit terungkap. Salah satu motivasi Brumund, sebagai seorang penginjil (predikant) adalah tujuan missionaris. Untuk mencapai tujuan itu, Brumund ingin masyarakat dapat memercayainya sebagai seorang yang memiliki kekuatan supranatural mirip Prabu Siliwangi.

Ternyata, maksud Brumund memang kesampaian. Dalam surat yang dikirimkan oleh Landheer Koeripan Heer William Frederik Mooijaart Dennison, nama Brumund menjadi buah bibir penduduk lokal sekitar Gunung Munara bahkan kawasan Landgoed Koeripan yang terbentang 181 kilometer persegi. Tuan Tanah (Landheer) Dennison, seperti dikutip Brumund, menuliskan:

“Ik breek voor een oogenblik af om den lezer het berigt uit een brief mede te deelen, welke ik den dag na mijne terugkomst van den berg Moenara te Buitenzorg van den heer Dennison ontving. De lezer zal daaruit vernemen, ’t geen hij voorzeker niet verwacht. Zal ’t hem een bijdrage zijn tot de kennis van het volk, niet minder zal hij er zich door gedrongen voelen, om den schrijver die bovennatuurlijke vermogens en dat grootsche doel van zending toe te kennen, waarop hij naar het juiste en onbevangen oordeel van den Soendanees zoo regtmatigen aanspraak mag maken. Gezult wel glimlagchen –zoo schreef de heer Dennison– wanneer ik umededeel, dat het praatje over het gansche land (Koeripán) rondgaat, dat ge een Santri uit Holland zijt, die een groote semprong, verrekijker, heeft medegebragt, waarmee ge in de aarde kunt zien, en dat ge gekomen zijt om het gouvernement aanwijzing te dóen, waar goud en edele steenen te vinden zijn; boven op den berg (Moenara) hebt ge de eerste aanwijzing gedaan.” (hlm. 74)

Oleh sebab itu, Brumund ingin keberadaannya bukan hanya menjadi perbincangan penduduk lokal, tetapi juga namanya akan selalu diceritakan dan disebut secara turun-temurun oleh mereka. Namun sayangnya, saat Penulis berkunjung ke kawasan Gunung Munara atau Kecamatan Rumpin, tidak ada satupun penduduk saat ini yang mengetahui keberadaannya dua abad lalu. Bahkan, mendengar namanya saja tidak!

Ini berbeda dengan Prajurit Dua (Prada) Samlawi, Pahlawan Perjuangan, yang namanya diabadikan sebagai nama jalan di Kampung Sawah. Setiap peziarah yang akan naik ke Gunung Munara dari arah Kantor Camat, pasti akan melintasi jalan ini dan melihat makamnya di Pemakaman Umum Desa Sawah. Begitu juga mereka yang datang dari arah Kampung Panoongan, akan melihat makamnya.

Meski demikian, dengan menelusuri petilasan Gunung Munara, jejak Brumund pun mulai tersingkap. Bahkan, nama Brumund kembali muncul secara perlahan di kawasan Bogor yang dulu disebut sebagai Buitenzorg (Sans Soci). Sebab, hanya Brumund yang secara khusus melakukan pendakian untuk mencatat tinggalan sejarah di lokasi ini. Sayangnya, ini mirip peribahasa di Maluku, Uheka Hatu, Hatu Sepei!

Patung Arca – Domas peninggalan khas Kerajaan Pajajaran seperti inilah yang terlihat di tempat suci Gunung Munara dan dilihat oleh Brumund dua abad silam

—o0o—

 

 

CATATAN:

*) Selesai ditulis pada Senin, 25 Desember 2023 pkl. 21:05 WIB.

**) Penulis merupakan Direktur & Pengulik pada Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Filologi (The Centre for the Study of the Islamic Manuscripts and Philology) Ambon, Maluku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *