Fenomena Rocky Gerung

Headline, Sosok658 views

 

 

Rocky Gerung ibarat motor RX King produk lama paling berisik yang sering disumpahin oleh mereka yang terganggu. Kebenaran memiliki saudara kembar yaitu, keberanian. Kebenaran tanpa keberanian ia akan diam dan membisu akhirnya menguap atau bahkan membusuk ditendang dan ditelan kenyataan. Sebaliknya, keberanian tanpa kebenaran, ia akan melukai dan mengacaukan dirinya dan keadaan. Kebenaran akan mengarahkan keberanian, dan keberanian akan menjelmakan kebenaran. RG menjadi fenomena menarik sekaligus menantang karena didalam dirinya bersemayam dua kekuatan dimaksud (kebenaran dan keberanian). RG seolah oleh lahir dari rahim masyarakat yang menginginkan perubahan dan perbaikan keadaan. Ia seolah oleh turun dari langit menjadi setengah Nabi karena hanya bisa memberi peringatan keras, tanpa bisa memberikan kabar gembira tentang tujuan, jalan dan arah bagi masyarakat.
RG telah mengambil alih peran sejarah yang seharusnya dipikul oleh para tokoh agama, cendekiawan atau intelektual. Mereka kini terbelah berada dalam dua poros. poros pro status quo dan poros anti status quo. Yang poros status quo, mereka bekerja keras membuat alas atau legitimasi bagi eksistensi status quo, yang anti status quo mereka terus menggugat atau mendelegitimasi karena sudah keluar dari koridor etik dalam segala bentuk dan manifestasinya.
RG telah mengambil peran seperti Nabi Musa dengan tongkat intelektulitasnya, ia telah menjalankan jihad terbesar yaitu berani berbicara lantang didepan penguasa. Dimana tokoh agama dan cendekiawan yang lain? Ada dimana dan sedang apa mereka? Takutkah mereka? atau karena intelektualistasnya yang tumpul, yang membuat kebenaran yang dipegangnya tumpul hingga tidak bisa menyayat realitas.
RG memiliki pedang panjang yang tajam berupa intelektualisme, namun sayang ia tidak memiliki cahaya yang bisa mengarahkan pedangnya pada tujuan, jalan dan arah yang harus ditempuh oleh masyarakat. Dilain sisi, tokoh agama memiliki cahaya yang bisa menerangi keadaan, dengan cahaya itulah tujuan, jalan dan arah bisa ditemukan, namun sayang mereka tidak memiliki pedang panjang yang tajam (intelektualisme) yang akhirnya ilalang (penghalang) itu menutupi tujuan dan jalan.

 

ARTIKEL REKOMENDASI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *