BOGORONLINE.com – Calon Wali Kota Bogor nomor urut 3, Dedie A. Rachim, menyoroti pentingnya peningkatan kesejahteraan masyarakat sebagai upaya utama untuk mengatasi berbagai masalah sosial, termasuk gangguan kesehatan jiwa (ODGJ). Dalam kunjungan ke RW Cipinang Gading, Dedie menemukan bahwa dari satu RW, terdapat lima ODGJ. Setelah mendalami permasalahan, Dedie menyimpulkan bahwa gangguan kesehatan mental tersebut dipicu oleh tekanan ekonomi yang berujung pada depresi.
“Persoalan ini harus kita pecahkan bersama ke depannya. Tidak hanya melalui upaya mensejahterakan rakyat, tetapi juga menyehatkan mereka. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam program rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH) adalah memastikan rumah memiliki sirkulasi udara dan pencahayaan yang memadai, karena kesehatan fisik dan jiwa sangat bergantung pada kondisi ekonomi dan lingkungan tempat tinggal masyarakat,” ujar Dedie.
Lebih lanjut, Dedie mengungkapkan rencana kerjasama dengan Pusat Kesehatan Jiwa Nasional di RS Marzoeki Mahdi, yang berlokasi di Kota Bogor. Kolaborasi ini bertujuan untuk memberikan penanganan yang lebih terintegrasi bagi warga yang mengalami masalah kesehatan jiwa. Dedie menegaskan bahwa penanganan masalah kesehatan mental tidak bisa hanya bergantung pada peran Dinas Kesehatan atau Puskesmas setempat.
“Kesehatan jiwa ini penting, dan perlu ada sinergi lebih kuat dengan RS Marzoeki Mahdi. Kita butuh kolaborasi untuk memberikan penanganan yang komprehensif bagi mereka yang membutuhkan,” tambahnya.
Tidak hanya masalah ODGJ, Dedie juga menyoroti permasalahan lain yang berkaitan dengan kesejahteraan, seperti angka putus sekolah yang tinggi, terutama di keluarga dengan kondisi ekonomi sulit. Dedie mencontohkan kasus seorang anak pemulung di wilayah tersebut yang hanya bisa menamatkan pendidikan hingga tingkat SD. Menurutnya, masalah ini bisa diatasi melalui penguatan program pendidikan berbasis masyarakat (PKBM).
“PKBM merupakan solusi agar anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap bisa melanjutkan pendidikan. Mereka bisa belajar secara gratis, tidak perlu hadir setiap hari, tetapi tetap mengikuti program hingga mendapatkan ijazah yang layak untuk bekerja di kemudian hari,” jelas Dedie.
Dedie juga berkomitmen untuk mengevaluasi program RTLH yang selama ini dinilai belum memberikan dampak maksimal bagi masyarakat. Bantuan yang diberikan dalam program tersebut berkisar antara Rp 7 juta hingga Rp 17 juta, namun Dedie ingin nilai bantuan ditingkatkan agar masalah perbaikan rumah bisa terselesaikan secara tuntas.
“Jika rumah benar-benar rusak berat, seharusnya bantuan yang diberikan cukup untuk memastikan rumah tersebut layak huni. Pemerintah juga harus memperhatikan aspek-aspek seperti sirkulasi udara dan pencahayaan, sehingga rumah yang dibangun tidak hanya kokoh tetapi juga sehat,” paparnya.
Dedie menegaskan, kualitas pembangunan rumah dalam program RTLH akan berdampak langsung pada kesehatan fisik dan mental masyarakat. Dengan rumah yang layak, sirkulasi udara yang baik, dan pencahayaan yang memadai, Dedie optimis masyarakat akan lebih sehat secara keseluruhan.





