Bulora 2024: Menghubungkan Batik Kampung Cibuluh ke Pasar Internasional

BOGORONLINE.com – Kampung Batik Cibuluh, Kota Bogor, kini tengah bersiap menembus pasar internasional melalui program pengabdian masyarakat bertajuk Bulora. Acara ini menjadi jembatan bagi para pengrajin batik lokal untuk mempersiapkan produk mereka memenuhi standar internasional dan menargetkan pasar Australia.

Program Bulora ini diprakarsai oleh kolaborasi antara produsen Batik Melinda, ibu Kartika, dan Dosen LSPR Institute of Communication and Business, Maylaffayza Wiguna. Tujuan utamanya adalah mempromosikan Batik Cibuluh ke kancah global, dengan puncak acara pameran yang akan diadakan di Edith Cowan University (ECU), Perth, Australia.

Sebagai langkah awal, Pra-Acara Bulora 2024 digelar pada 1 Desember 2024 di Kampung Batik Cibuluh. Acara ini bertujuan untuk membekali para pengrajin dengan keterampilan digital dan pengetahuan logistik pengiriman internasional.

“Sesi edukasi ini sangat penting bagi kami sebagai pengrajin untuk memahami cara menyesuaikan kualitas dan presentasi produk sesuai standar global. Harapan saya, Batik Cibuluh bisa lebih dikenal dan diminati di pasar luar negeri,” ungkap Kartika, Ahad (1/12/2024).

Acara ini mencakup tiga sesi utama:

  1. Pemasaran Digital: Pengrajin diajarkan cara membuat dan mengelola situs web menggunakan platform seperti Shopify atau Wix, serta penggunaan perusahaan pengiriman global seperti DHL dan FedEx.
  2. Peningkatan Kualitas Produk: Sesi ini membahas pengemasan, pelabelan, dan manajemen kualitas untuk memastikan produk memenuhi harapan konsumen internasional.
  3. Berbagi Kisah Sukses: Para pengrajin berbagi pengalaman inspiratif tentang perjalanan mereka dalam mengembangkan bisnis batik.

Maylaffayza Wiguna menekankan pentingnya pendekatan berbasis teknologi dalam membantu UMKM batik.

“Melalui kolaborasi ini, mahasiswa kami di LSPR menjalankan program berbasis riset dan observasi. Kampung Batik Cibuluh terpilih karena produknya memungkinkan untuk dipasarkan ke luar negeri, seperti batik yang memiliki daya tarik visual dan budaya,” ujarnya.

Dalam program ini, mahasiswa LSPR turut memberikan pelatihan mengenai pemasaran digital dan kualitas produk.

“Langkah ini adalah awal untuk membangun fondasi bagi pengrajin agar lebih percaya diri memasuki pasar global,” tambah Maylaffayza.

Kartika melanjutkan, sejak berdirinya Kampung Batik Cibuluh pada tahun 2017, pengrajin lokal terus berupaya melestarikan seni batik dan meningkatkan eksistensinya.

“Saya terinspirasi oleh kakak saya yang juga seorang pengrajin batik. Harapan saya, batik dari Bogor dapat bersaing dan membawa kebanggaan bagi Indonesia,” Kartika menutup.

Dengan adanya program Bulora, Kampung Batik Cibuluh diharapkan mampu mencetak sejarah sebagai pusat batik lokal yang mendunia. Pameran di Australia akan menjadi momentum penting untuk memperkenalkan keunikan Batik Cibuluh ke pasar internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *