Oleh: Abah Yayat
Isu “Indonesia Gelap” yang diangkat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) mendapatkan respons yang dingin dari para pejabat. Luhut Panjaitan, salah satu pejabat, menanggapi dengan pernyataan: “Bukan Indonesia yang gelap, tetapi kalian yang gelap.” Di sisi lain, mahasiswa tetap berpendapat bahwa Indonesia saat ini berada dalam keadaan gelap. Istilah “gelap” di sini merujuk pada kurangnya tujuan yang jelas, arah yang tidak pasti, dan kondisi yang tersesat. Pertanyaannya adalah, dengan cara pandang apa mahasiswa dan Luhut Panjaitan melihat keadaan Indonesia saat ini?
Apa yang kita lihat sangat dipengaruhi oleh siapa diri kita. Identitas kita akan ditentukan oleh apa yang kita pikirkan. Pikiran kita akan menjadi alat atau cara untuk melihat, memahami, dan menafsirkan keadaan. Dengan kata lain, cara pandang kita terhadap keindonesiaan saat ini sangat bergantung pada ideologi yang kita anut.
Dalam hierarki berpikir, manusia, terutama yang beragama, memiliki dogma yang diyakini sebagai kebenaran yang harus merspon keadaan. Tanggapan tersebut kemudian melahirkan wacana. Dari wacana, harus diturunkan menjadi pemahaman yang nyata, yang kemudian membentuk ideologi. Ideologi inilah yang akan membentuk identitas bangsa atau gerakan mahasiswa, menyatukan mereka dalam satu cita-cita, dan memberikan arah bagi setiap langkah yang diambil. Ideologi ini menuntut aksi sebagai bentuk pembuktian atas pengakuannya.
Dari asumsi ini, kita dapat merunutkan bahwa dogma berfungsi seperti cahaya rembulan yang menerangi jiwa manusia. Selanjutnya, ia berkembang menjadi wacana yang bagaikan matahari yang menyinari dunia, dan kemudian turun menjadi ideologi yang berfungsi sebagai cahaya lampu atau pusat yang menunjukkan arah dan jalan yang harus dilalui.
Keadaan Indonesia—apakah gelap, remang-remang, atau terang—akan sangat ditentukan oleh ideologi yang menjadi cara pandang. Sebenarnya, terang, remang-remang, dan gelap harus dipahami sebagai masalah ideologi, bukan sekadar fenomenologi. Fenomenologi dapat diibaratkan sebagai cahaya lilin yang bisa padam dalam sekejap.
Jika mahasiswa menggunakan cahaya lilin dalam melihat dan menafsirkan fenomena, maka fenomena tersebut dapat berubah dengan cepat, dan cahaya itu pun akan padam dengan sendirinya.





