FKGMNU Kota Bogor Nilai Rais Syuriyah Terpilih Diskriminatif

BOGOR, BOGORONLINE.COM – Perhelatan Konfercab Ulang PCNU Kota Bogor dilaksanakan tanggal 13 September 2025 lalu diwarnai dengan kekecewaan oleh Warga Nahdliyin Kota Bogor.

Forum Komunikasi Gerakan Muda NU (FK-GMNU) Kota Bogor, Fahrizal menyatakan, rasa keprihatinan mendalam atas sikap Rais syuriyah terpilih dalam proses pemilihan ulang Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Bogor.

Menurutnya, AD/ART NU Muktamar ke-34 BAB XVI Pasal 42 ayat (1), seorang Rais syuriyah dipilih dari kalangan ulama Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) yang memenuhi syarat diantaranya adalah : mampu mengayomi jamaah dengan sikap adil dan bijaksana.

“Dengan demikian, Rais syuriyah idealnya menjadi sosok pengayom dan penuntun dengan kelembutan hati, bukan sebaliknya menimbulkan kesan tidak adil terhadap salah satu calon atau adanya kesan tindakan diskriminatif,” ujar Fahrizal, kepada wartawan, Kamis (18/9/25).

Ia melanjutkan, peta suara Konfercab Ulang PCNU Kota Bogor diawali dengan perolehan suara yang cukup dinamis, dari total 6 suara MWCNU di Kota Bogor, MWCNU Kecamatan Bogor Utara menjadi peninjau karena masalah mandat, sementara MWCNU Bogor Selatan tidak hadir, MWCNU Bogor Tengah memilih Rommy Prasetya,
MWCNU Tanah Sareal, adalah Rommy Prasetya, serta MWCNU Bogor Barat, Edi Nurohman, dan kemudian MWCNU Bogor Timur, Edi Nurohman.

“Dengan hasil suara tersebut, Rais Syuriyah Terpilih memakai hak veto menggugurkan salah satu kandidat dengan alasan subjektif, dan menyampaikan Kritik Personal kepada Rommy Prasetya sehingga memilih Edi Nurohman,” ungkapnya.

Fahrizal menilai, dalam perihal kritik yang dilontarkan lebih bersifat personal, padahal kepemimpinan NU seharusnya dijalankan dengan menjunjung tinggi prinsip tawasuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal sebagai warisan para pendahulu.

Sebaliknya, lanjutnya, sikap yang melukai pribadi tertentu bukan hanya mencederai martabat individu, tetapi juga berpotensi mencoreng wajah organisasi di mata masyarakat, khususnya generasi muda.

“Tradisi pesantren dan NU sejak dulu selalu menekankan nilai akhlak mulia: kesabaran, kebijaksanaan, dan kemampuan mendidik dengan kasih sayang. Setiap kata seorang pemimpin spiritual mestinya menjadi penyejuk, bukan sebaliknya melukai,” tegas Fahrizal.

Atas Hasil tersebut, sambungnya, Fahrizal meminta agar PBNU mengevaluasi kembali hasil Konfercab ulang yang dinilai tidak mengedepankan asas Keadilan dan Kebijaksanaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *