BANDUNG, Bogoronline.com – Di tengah antusiasme masyarakat Jawa Barat menggunakan aplikasi lowongan kerja “Nyari Gawe”, muncul catatan kritis dari legislator DPRD Jawa Barat. Meski aplikasi ini telah mencatatkan angka pelamar hingga 518.213 orang sejak diluncurkan Oktober 2025 lalu, realitas di lapangan menunjukkan tantangan besar dalam penyerapan tenaga kerja.
Anggota DPRD Jawa Barat Dapil Kabupaten Bogor, Dedi Aroza, menanggapi serius fenomena tersebut. Dalam sebuah pernyataan resminya, Dedi memberikan apresiasi atas langkah digitalisasi Disnakertrans Jabar, namun ia memberikan “lampu kuning” terkait rasio pelamar dengan jumlah yang diterima.
”Data menunjukkan pelamar mencapai setengah juta lebih, tapi yang diterima kerja baru 493 orang. Ini tantangan besar bagi pemerintah provinsi. Jangan sampai aplikasi ini hanya menjadi tumpukan data tanpa adanya kepastian keterserapan,” ujar Dedi Aroza kepada awak media, Jum’at (24/04/2026).
Dedi juga menyoroti keterlibatan sektor industri yang dinilai masih minim. Dengan hanya 71 perusahaan yang terdaftar, ia mendorong Pemda Provinsi Jawa Barat untuk lebih agresif melakukan jemput bola kepada pihak swasta, terutama di kawasan industri besar seperti Bekasi, Karawang, dan Subang.
Selain masalah penyerapan, kendala teknis seperti masalah login dan pengiriman kode OTP yang dilaporkan masyarakat diharapkan tidak lagi terjadi. Dedi menegaskan bahwa DPRD akan melakukan pengawasan ketat agar anggaran pengembangan teknologi ini sebanding dengan hasil nyata bagi para pencari kerja di Jawa Barat.
Hingga 10 April 2026, tercatat ada 337 jenis lowongan kerja yang tersedia. Pemprov Jabar sendiri menyatakan telah menangani puluhan aduan teknis dan berkomitmen untuk terus menyempurnakan fitur aplikasi agar impian “Jabar Juara” dalam menekan angka pengangguran dapat benar-benar terwujud.





