bogorOnline.com-KLAPANUNGGAL
Wilayah Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor masih butuh sarana Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri, SMAN (Sekolah Menengah Atas Neger) dan (SMKN) Sekolah Menengah Kejuruan Negeri lahan sudah ada menunggu kebijakan dari pemimpin.
Sekretaris Camat (Sekcam) Klapanunggal, Iwan Setiawan, mengungkapkan bahwa saat ini masyarakat yang berada di wilayah luar pusat kecamatan, seperti Desa Nambo, Bantarjati, Lulut, dan Lewikaret, memiliki peluang yang sangat kecil untuk diterima di sekolah negeri yang ada karena jaraknya yang terlampau jauh.
”Yang keterima di SMA Negeri 1 Klapanunggal saat ini paling yang lokasinya dekat saja, seperti Desa Klapanunggal, Kembang Kuning, dan Cikahuripan. Desa-desa yang jauh selalu terkendala aturan zonasi,” ujar Iwan saat memberikan keterangan.
Lahan Alternatif Sudah Tersedia
Menyikapi masalah tersebut, pihak kecamatan bersama seluruh kepala desa di Klapanunggal telah sepakat untuk mengusulkan pembangunan SMP Negeri 2, SMA Negeri 2, serta sebuah SMK Negeri. Usulan tertulis pun telah dilayangkan kepada Pemerintah Kabupaten Bogor untuk tingkat SMP, serta Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk tingkat SMA dan SMK.
Terkait kesiapan lahan, pihak kecamatan menyebut sudah ada lokasi alternatif yang dibidik, yaitu lahan milik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk yang berada di wilayah Desa Nambo dan Desa Bantarjati.
”Untuk lahan saat ini prosesnya sudah berada di bagian aset. Peninjauan lapangan juga sudah dilakukan, tinggal menunggu kebijakan dan keputusan hasil akhirnya dari pimpinan,” tambahnya.
SMP Terbuka Lulut Jadi Cikal Bakal SMPN 2
Sebagai langkah konkret dan bukti keseriusan pemenuhan syarat administrasi, pihak kecamatan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor telah mengoperasikan sekolah rintisan berupa SMP Terbuka di Desa Lulut sejak tahun 2025 lalu.
Sesuai dengan ketentuan regulasi, pembangunan fisik sekolah negeri baru tidak bisa langsung dilakukan sebelum adanya aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) yang berjalan terlebih dahulu. Saat ini, aktivitas KBM SMP Terbuka tersebut masih menumpang di salah satu bangunan Sekolah Dasar (SD) di Desa Lulut dengan jumlah siswa angkatan pertama sekitar 16 orang.
”Waktu pembukaan tahun kemarin memang sangat mepet dengan batas waktu penerimaan siswa baru, sehingga jumlah muridnya baru 16 orang. Namun, ini adalah cikal bakal resmi untuk SMP Negeri 2 Klapanunggal,” jelas Iwan.
Fokus utama pihak kecamatan saat ini adalah mendorong percepatan operasional SMP Negeri 2 agar bisa segera diakui dan dibangun gedung mandiri oleh pemerintah kabupaten. Kehadiran sekolah baru ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang yang mengakomodir anak-anak usia sekolah di wilayah pelosok Klapanunggal agar tetap mendapatkan hak pendidikan negeri yang terjangkau.(rul)





