bogorOnline.com-CIBINONG
Bupati Bogor Rudy Susmanto mengajak seluruh masyarakat menjadikan Malasari sebagai simbol kebangkitan sekaligus pengingat sejarah berdirinya Kabupaten Bogor. Menurutnya, kawasan yang menjadi bagian penting perjalanan pemerintahan Kabupaten Bogor itu tidak boleh lagi tertinggal dalam pembangunan.
Rudy menegaskan, Malasari memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Namun, potensi tersebut harus diimbangi dengan pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Jangan sampai titik awal Bogor berdiri justru menjadi titik paling belakang dalam perkembangan Kabupaten Bogor,” kata Rudy.
Ajakan tersebut disambut baik PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) yang menggelar rangkaian kegiatan diskusi dan napak tilas. Kegiatan ini menghadirkan tokoh masyarakat, akademisi, pegiat lingkungan, serta masyarakat setempat untuk mendiskusikan pentingnya menjaga kelestarian alam yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Kabupaten Bogor.
Sebagai penutup kegiatan, PPLI menyerahkan bibit pohon endemik Nirmalasari serta berbagai jenis pohon keras lainnya untuk ditanam di kawasan hutan dan pegunungan Malasari sebagai bagian dari upaya rehabilitasi lingkungan dan menjaga sumber-sumber air.
Keturunan generasi keempat Kepala Desa Malasari pertama, Usep Malasari, mengisahkan bahwa rumah yang kini dijaganya merupakan saksi sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada Agresi Militer Belanda II tahun 1948.
Menurutnya, saat itu Bupati Bogor pertama, Raden Ipik Gandamana, memilih Malasari sebagai pusat pemerintahan darurat karena wilayah tersebut dinilai paling aman dari ancaman penjajah.
“Dulu saat Agresi Militer II tahun 1948, Pak Ipik Gandamana diamanahkan mempertahankan pemerintahan mulai dari Jasinga, Sukajaya hingga Malasari. Beliau memutuskan Malasari sebagai tempat yang paling aman,” ujar Usep, Senin, 20 Juli 2026.
Ia menuturkan, rumah tersebut masih menyimpan berbagai benda bersejarah, mulai dari bendera pusaka tahun 1948, meja kerja, hingga meja makan yang digunakan pada masa perjuangan.
Sebagai generasi penerus, dirinya merasa memiliki tanggung jawab moral menjaga warisan sejarah tersebut, bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan sebagai bagian dari identitas Kabupaten Bogor.
“Saya diamanahkan orang tua bukan untuk mencari keuntungan. Alam ini harus dijaga agar pendopo dan sejarah Kabupaten Bogor tetap bisa dinikmati generasi sekarang maupun yang akan datang,” katanya.
Akademisi sekaligus pemerhati lingkungan, Associate Professor Dr. Yayan Sudrajat, menegaskan bahwa kelestarian hutan merupakan fondasi utama keberlangsungan kehidupan masyarakat. Hutan bukan hanya menghasilkan oksigen tetapi juga menjaga ketersediaan air bagi generasi mendatang.
Menurutnya, upaya pelestarian tidak cukup hanya melalui penanaman pohon, tetapi juga harus dibarengi dengan pemetaan kondisi lingkungan secara berkala.
“Saya kira yang penting adalah mendata berapa banyak mata air yang masih berfungsi dan berapa yang sudah beralih fungsi. Itu menjadi dasar dalam menyusun langkah konservasi ke depan,” ujarnya.
Yayan juga mendorong setiap rumah tangga memiliki tanaman obat keluarga (TOGA) sebagai bentuk ketahanan masyarakat menghadapi kondisi darurat kesehatan sekaligus memperkuat hubungan masyarakat dengan lingkungan sekitarnya.
Sementara itu, Laboratory Manager PPLI Muhammad Yusuf Firdaus menegaskan bahwa perusahaan memandang pelestarian lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap generasi mendatang.
“Kita ini hanya meminjam warisan alam dari generasi yang akan datang. Karena itu kita memiliki kewajiban menjaga dan mengembalikannya dalam kondisi yang baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sejak 2024 PPLI secara konsisten menjalankan program penanaman pohon di berbagai wilayah Kabupaten Bogor. Namun menurutnya, keberhasilan rehabilitasi lingkungan tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, melainkan juga dari keberhasilan merawat pohon hingga tumbuh besar.
“Kami berharap pohon-pohon yang ditanam tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi benar-benar dirawat sehingga memberikan manfaat bagi lingkungan,” katanya.
Yusuf menambahkan, seiring meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas industri, pengelolaan limbah yang bertanggung jawab menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar.
“Limbah industri diproduksi setiap hari dan setiap jam. Karena itu harus dikelola secara baik dan benar. Selain mengelola limbah sesuai ketentuan, kami juga memiliki komitmen menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
PPLI, lanjut Yusuf, juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan mengenai tata cara pengelolaan limbah yang aman serta pentingnya menjaga lingkungan hidup.
Yusuf berharap melalui kolaborasi ini, pelestarian kawasan Malasari diharapkan tidak hanya menjaga kekayaan alam, tetapi juga mempertahankan jejak sejarah perjuangan Kabupaten Bogor bagi generasi mendatang. “Ingat kita ini meminjam alam dari generasi yang akan datang. Untuk itu, mari sama sama kota rawat alam dan bumi ini,” jelasnya.(rul)





