Kelurahan Cibadak Genjot UMKM, Pengelolaan Sampah, dan Penanganan Stunting

BOGORONLINE.com – Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, terus memperkuat pembangunan berbasis kewilayahan dengan mengoptimalkan potensi ekonomi masyarakat, meningkatkan pengelolaan sampah, serta mempercepat penanganan stunting.

Berbagai program tersebut disampaikan Lurah Cibadak Herry Chaerudin saat berdiskusi dengan insan pers di Balai Warga RW 15 Tamansari Persada, Kelurahan Cibadak, Senin (10/8/2026).

Herry mengatakan, Kelurahan Cibadak memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan untuk mendukung perekonomian warga. Potensi tersebut meliputi permukiman swadaya, pengelolaan lingkungan berbasis Reduce, Reuse, Recycle (3R), serta berbagai kegiatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Berdasarkan data kewilayahan, Kelurahan Cibadak saat ini memiliki 29.420 penduduk. Jumlah tersebut terdiri atas 14.843 laki-laki dan 14.577 perempuan.

Dari sektor penerimaan daerah, realisasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Kelurahan Cibadak hingga Agustus 2026 mencapai Rp5.376.951.153 atau sekitar 65 persen dari target yang ditetapkan lebih dari Rp10 miliar.

Herry menjelaskan, kegiatan UMKM masyarakat tersebar hampir di seluruh wilayah Kelurahan Cibadak, mulai RW 01 hingga RW 15. Jenis usaha yang berkembang juga cukup beragam dan memiliki karakteristik masing-masing.

Di antaranya budidaya jangkrik, kerajinan serok, budidaya ikan hias yang telah menyasar pasar ekspor di RW 08, RW 09, dan RW 10, kelompok tani, hingga Food Center hidroponik serta produksi keripik berbahan sayuran organik di RW 15.

Namun, perkembangan UMKM tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya dialami pengrajin ayam ungkep di RW 03 yang mengalami penurunan usaha karena harus bersaing dengan produk makanan berharga lebih murah.

“Memang lagi kondisi saat ini ekonomi kurang baik-baik saja, jadi kelihatannya usaha ayam ungkep ini mulai menurun. Setelah kita diskusi dengan pengrajin, biasanya mereka jual ayamnya saja Rp8.000, tapi kalah bersaing dengan porsi nasi padang murah seharga Rp10.000. Ini menjadi salah satu permasalahan yang butuh intervensi,” ujar Herry.

Selain UMKM makanan, Kelurahan Cibadak juga memiliki sentra industri rumahan di RW 12 yang dikenal masyarakat dengan sebutan “Kampung Berisik” atau “Kampung Ganteng”.

Sentra tersebut menjadi tempat aktivitas sejumlah pengrajin wajan, panci, hingga kerupuk kulit. Suara aktivitas produksi yang berlangsung setiap hari menjadi alasan kawasan itu mendapat julukan tersebut.

“Di RW 12 ada ‘Kampung Berisik’ atau Kampung Ganteng. Kalau belum biasa ke sana, waduh, kuping harus pakai kapas karena suara dentangan pembuatan wajan dan panci setiap hari. Kerupuk kulit rumahan juga masih mendominasi di situ,” tutur Herry.

Selain penguatan ekonomi, Kelurahan Cibadak juga mendorong pengelolaan lingkungan melalui fasilitas TPS3R Cibadak dan Bank Sampah Orchid di RW 15.

Bank Sampah Orchid mulai diinisiasi sejak 2025. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi sejumlah kendala, termasuk akses kendaraan pengangkut sampah di RW 04 serta dinamika masyarakat dalam pengelolaan komposter.

Menurut Herry, dukungan sarana dari Pemerintah Kota Bogor melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) turut membantu pengelolaan sampah di wilayahnya.

“Untuk penanganan sampah, kita sudah dibantu satu unit armada motor sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ke depan, kita berencana membangun integrasi fasilitas Bank Sampah di sebelah TPS3R Tamansari Persada untuk meningkatkan partisipasi nasabah warga,” jelasnya.

Kelurahan Cibadak juga menggandeng sektor swasta untuk mempercepat penanganan stunting. Langkah tersebut dilakukan melalui pemanfaatan program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).

Herry menyebutkan, sebanyak sembilan pelaku usaha di wilayah Cibadak telah menyatakan komitmennya menjadi bapak asuh bagi 41 anak yang mengalami stunting.

“Kami mencoba merangkul para pelaku usaha yang berkenan bekerja sama menangani stunting. Kami berharap keberadaan pelaku usaha di Kelurahan Cibadak ini manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat, bukan hanya mengeruk keuntungan semata,” tegas Herry.

Menurut dia, keterlibatan dunia usaha diperlukan untuk memperluas dukungan terhadap program sosial masyarakat, terutama ketika pemerintah memiliki keterbatasan dalam pembiayaan seluruh kebutuhan pembangunan kewilayahan.

Sementara itu, program pembangunan sarana dan prasarana (sarpras) Kelurahan Cibadak tahun 2026 terus dilaksanakan secara bertahap.

Pemeliharaan jalan di RW 09 telah rampung pada Mei 2026. Renovasi Posyandu di Gang Sahabat, RT 04/RW 05, juga telah selesai.

Selanjutnya, pembangunan Posyandu baru di RW 11 direncanakan mulai dilaksanakan pada September 2026.

Pada kesempatan tersebut, Camat Tanah Sareal Rokib mengapresiasi keterbukaan informasi serta kolaborasi antara pemerintah kewilayahan dan insan pers.

Menurut Rokib, Kecamatan Tanah Sareal merupakan salah satu wilayah di Kota Bogor yang tengah mengalami perkembangan pembangunan cukup pesat.

“Mudah-mudahan kegiatan sinergi ini berjalan lancar sesuai rencana awal dan terus berlangsung hingga tahun 2027 mendatang untuk menjaga kolaborasi kita dengan teman-teman pers, khususnya di Kecamatan Tanah Sareal dan Kota Bogor pada umumnya,” kata Rokib.

Rokib mengatakan, forum tatap muka tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi ajang komunikasi, tetapi juga menjadi ruang untuk menggali potensi dan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat di tingkat kelurahan.

“Tanah Sareal ini wilayah yang sedang berkembang pesat. Banyak program kewilayahan, baik dari APBD Kota Bogor, Pokir, maupun inovasi kewilayahan. Saya berharap pers gathering ini lebih kental pada kultur kewilayahan, sehingga Pak Lurah sebagai narasumber utama dapat memaparkan potensi dan permasalahan di Kelurahan Cibadak secara komprehensif,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *