Oleh: A. Rahman
Guru SIT. Asy – syifa Qolbu
Berbicara tentang hidup adalah berbicara tentang kepemimpinan. Manusia lahir kedunia mengemban misi utama sebagai khalifah – wakil atau pemegang amanah Allah SWT untuk memakmurkan dan mengelola bumi. Maka menjadi tanggungjawab seorang pemimpin untuk memanfaatkan sumber daya yang ada demi kemakmuran bersama, tidak hanya bagi manusia, tetapi juga makhluk bumi lainnya.
Dalam sejarah pemikiran manusia, banyak teori kepemimpinan telah dikembangkan. Dua yang menarik untuk direnungkan adalah gagasan Max Weber dan Robert K. Greenleaf. Weber menilai kepemimpinan bukan hanya sekedar jabatan atau struktur, tapi juga kharisma. Bagi Weber, kharisma adalah sebuah kekuatan moral yang membuat seorang pemimpin diikuti karena keyakinannya, bukan karena paksaan.
Greenleaf, di sisi lain, memperkenalkan konsep Servant Leadership – kepemimpinan yang melayani. Bagi Greenleaf pemimpin sejati bukan mereka yang berposisi di atas, tapi berada di tengah untuk mendengarkan, menemani, memahami dan memproritaskan kebutuhan orang lain.
Kepemimpinan menurut Weber dan Greenleaf memiliki benang merah yang sama, yaitu integritas. Bagi keduanya pemimpin itu harus jujur, konsisten, dan berorientasi pada kebaikan bersama. Namun pertanyaanya dengan carut marutnya Indonesia saat ini, dengan korupsi yang merajalela dan politik sektarian yang begitu tajam; apakah masyarakat kita masih bisa mengenali dan meneladani pemimpin yang memimpin dengan hati dan nilai?
Indonesia sesungguhnya memiliki contoh nyata tentang pemimpin yang berintegritas. Sejarah mencatat bahwa Bung Hatta merupakan salah satu founding father yang menjungjung tinggi integritas. Bung Hatta yang lahir pada hari ini, 12 Agustus, di Bukittinggi 123 tahun silam, telah dikenal sebagai sosok yang berintegritas, bahkan sejak usia mudanya. Sikap integritas itu ia bawa bahkan ketika menjadi orang nomor dua di Republik. Dalam sebuah kunjungan berobat ke Bangkok, Bung Hatta meminta sekretarisnya untuk mengambalikan uang sisa pengobatan kepada pemerintah via Kedubes RI. Hal serupa juga dilakukan Bung Hatta sesaat setelah lengser dari posisinya sebagai wakil presiden, dengan mengembalikan dana nonbujeter sebesar Rp6 juta kepada negara.
Bung Hatta melakukan itu karena tak ingin meracuni diri dan mengotori jiwanya dengan rezeki yang bukan haknya. Dia selalu teringat pepatah Jerman, Der Mensch ist, war es iszt, sikap manusia sepadan dengan caranya mendapat makan.
Sikap “keras” Bung Hatta terhadap integritas tidak hanya berlaku untuk dirinya saja, tetapi juga untuk keluarga dan kerabatnya. Ketika kebijakan senering diberlakukan, uang tabungan Ibu Rahmi untuk membeli mesin jahit terkena dampaknya, Bung Hatta tetap teguh. Saat itu Ibu Rahmi mengeluhkan mengapa kebijakan ini tidak dibocorkan terlebih dahulu, Bung Hatta menjawab, “Rahasia negara adalah tetap rahasia, kepentingan negara tidak ada sangkut pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga.”
Jiwa melayani Bung Hatta juga tercermin dari cerita tentang sepatu Bally yang tak pernah terbeli. Keingian yang dibawa hingga ke liang lahat itu tak pernah tercapai karena uang tabungannya selalu terpakai untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang meminta pertolongan.
Kini, di tengah hiruk-pikuk kehidupan bangsa yang tercabik oleh keserakahan dan kepentingan pribadi, masikah kita memiliki pemimpin seperti Bung Hatta? Apakah masyarakat kita masih bisa percaya bahwa pemimpin bisa melayani bukan menguasai? Jika Bung Hatta hidup hari ini, apakah ia akan diterima atau diasingkan?
Bung Hatta bukan sekedar tokoh sejarah untuk romantisme saja. Ia adalah cermin. dan pertanyaannya adalah: Beranikah kita bercermin padanya?





